Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
RI Gandeng Turki-Yordania Bantu Lindungi WNI Diculik Israel
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono (IDN Times/M. Ilman Nafi'an)
  • Pemerintah Indonesia menggandeng Turki dan Yordania untuk membantu memantau serta melindungi sembilan WNI yang ditahan Israel karena tidak adanya hubungan diplomatik langsung antara Indonesia dan Israel.
  • Menlu Sugiono menilai tindakan Israel terhadap armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 melanggar nilai kemanusiaan, sebab para relawan menjalankan misi damai membantu warga Palestina di Gaza.
  • Kementerian Luar Negeri RI memastikan seluruh jalur diplomatik dan kekonsuleran dimaksimalkan agar sembilan WNI yang ditahan dapat segera dibebaskan dan kembali ke tanah air dengan selamat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Indonesia mulai menggandeng sejumlah negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel untuk memastikan perlindungan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan Indonesia telah meminta bantuan kepada Yordania dan Turki untuk membantu memantau kondisi para WNI yang ditahan Israel. Langkah itu diambil karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik langsung dengan Israel.

Selain Turki dan Yordania, pemerintah Indonesia juga berkomunikasi dengan negara lain yang memiliki akses diplomatik ke Israel guna memastikan kondisi para relawan Indonesia tetap aman selama penahanan.

“Saya sudah minta bantuan dari teman-teman kita di Jordan, di Turki, kemudian juga dari sumber-sumber lain, rekan-rekan yang ada di negara-negara yang punya hubungan diplomatik dengan Israel untuk menyampaikan pesan dan dukungan ini,” kata Menlu Sugiono di Kompleks Parlemen MPR/DPR, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Pemerintah Indonesia menegaskan langkah diplomatik terus dilakukan untuk memastikan seluruh WNI dapat segera dipulangkan dengan selamat.

1. Indonesia akui ada keterbatasan akses

Dua aktivis GPCI mendapatkan intersepsi dari militer Israel. Kapal mereka sedang mengikuti aksi damai Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 (IDN Times/Marcheilla)

Sugiono mengatakan, Indonesia menghadapi keterbatasan komunikasi dalam memantau langsung kondisi para WNI yang ditahan Israel. Situasi itu terjadi karena Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.

Atas kondisi tersebut, pemerintah Indonesia memanfaatkan jalur komunikasi melalui negara ketiga untuk memperoleh informasi dan menyampaikan perlindungan bagi para relawan Indonesia.

“Karena ada keterbatasan komunikasi ini, maka kita harus lewat pihak ketiga, tapi kita terus melakukan koordinasi dan pemantauan setiap saat,” ujar Sugiono.

Ia menegaskan koordinasi dilakukan untuk memastikan para WNI berada dalam kondisi baik dan diperlakukan secara layak selama berada dalam penahanan.

“Untuk memastikan kondisi mereka, kondisi rekan-rekan kita yang ditahan itu baik, kemudian mereka juga diperlakukan dengan baik,” katanya.

Selain komunikasi diplomatik, pemerintah Indonesia juga disebut telah menyiapkan bantuan hukum melalui pengacara yang sebelumnya pernah menangani kasus serupa.

2. Indonesia sebut tindakan Israel langgar kemanusiaan

Jurnalis memantau kapal-kapal misi Global Sumud Flotilla yang sedang berlayar. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Sugiono menilai tindakan Israel terhadap armada kemanusiaan internasional telah melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, para relawan yang ikut dalam Global Sumud Flotilla menjalankan misi damai untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Gaza.

“Apa yang dilakukan oleh Israel merupakan satu hal yang melanggar kemanusiaan karena mereka ada dalam misi damai,” ujar Sugiono.

Menlu RI juga menyampaikan apresiasi terhadap semangat solidaritas para relawan internasional, termasuk WNI, yang terlibat dalam misi tersebut.

Ia memastikan pemerintah Indonesia akan terus memantau perkembangan situasi dan melakukan tekanan diplomatik agar para WNI dapat segera dibebaskan.

“Kita harapkan hal ini tidak berlangsung lama dan kita akan terus melakukan pengawasan serta tekanan terhadap situasi ini,” katanya.

3. Sembilan WNI diculik Israel

Daftar relawan dan jurnalis tergabung dalam pelayaran kemanusiaan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) pada misi Global Sumud Flotilla 2026 menuju Gaza, Palestina. (IDN Times/Istimewa).

Sebelumnya, Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang mengungkap seluruh sembilan WNI anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang ikut dalam misi GSF 2.0 telah ditahan Israel. Kemlu RI menyatakan berbagai langkah diplomatik dan kekonsuleran terus dilakukan untuk memberikan perlindungan kepada para WNI tersebut.

“Seluruh jalur diplomatik dan langkah kekonsuleran akan terus dimaksimalkan guna memastikan pelindungan penuh bagi para WNI dan mereka dapat kembali dengan selamat,” kata Yvonne.

Pemerintah Indonesia juga kembali mendesak Israel membebaskan seluruh awak kapal dan relawan internasional yang ditahan dalam misi kemanusiaan tersebut. Selain pembebasan relawan, Indonesia meminta Israel menjamin kelanjutan distribusi bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional.

Editorial Team