Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ribuan Hulu Ledak Nuklir Aktif, RI: Perlucutan Senjata Makin Mundur
Menlu Sugiono berbicara dalam Segmen Tingkat Tinggi Konferensi Perlucutan Senjata di sela Sesi ke-61 Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss. (Dok. Kemlu RI)
  • Menlu RI Sugiono memperingatkan kondisi perlucutan senjata global makin memburuk, dengan lebih dari 12.000 hulu ledak nuklir aktif dan berakhirnya Traktat New START yang menambah ketidakpastian keamanan dunia.
  • Ia menilai meningkatnya risiko perlombaan senjata baru dipicu oleh modernisasi arsenal, lemahnya transparansi, serta munculnya teknologi seperti AI dan siber yang memperbesar potensi salah perhitungan antarnegara.
  • Indonesia menyerukan kebangkitan kembali negosiasi internasional untuk konvensi senjata nuklir komprehensif dan perjanjian bahan fisil, demi memulihkan kepercayaan pada sistem perlucutan senjata multilateral
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyampaikan peringatan keras mengenai kondisi perlucutan senjata global. Ia menilai situasi internasional yang sebelumnya rapuh kini semakin memburuk.

“Ketika saya menyampaikan pidato di Konferensi ini tahun lalu, situasi global sudah rapuh. Hari ini, situasinya bahkan lebih tidak pasti, lebih terpolarisasi, dan lebih berbahaya,” ujarnya dalam Segmen Tingkat Tinggi Konferensi Perlucutan Senjata di sela Sesi ke-61 Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Selasa (24/2/2026).

Menurut Sugiono, banyak negara kini berada dalam mode bertahan hidup, sementara hukum internasional dan lembaga multilateral menghadapi tekanan yang semakin besar.

“Margin kesalahan perhitungan semakin menyempit,” serunya.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia menegaskan komitmennya terhadap multilateralisme di bidang perlucutan senjata. “Indonesia tetap berkomitmen teguh pada perlucutan senjata multilateral sebagai pilar perdamaian dan keamanan internasional. Komitmen ini bukanlah idealisme. Ini adalah sebuah kebutuhan,” ujar Sugiono.

1. Lanskap pelucutan senjata semakin mundur

Menlu Sugiono berbicara dalam Segmen Tingkat Tinggi Konferensi Perlucutan Senjata di sela Sesi ke-61 Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss. (Dok. Kemlu RI)

Sugiono menyatakan secara terbuka bahwa kondisi global tidak sekadar stagnan, tetapi mengalami kemunduran. “Kita harus berbicara dengan jelas. Lanskap perlucutan senjata global tidak hanya stagnan. Ia sedang mengalami kemunduran,” ucapnya.

Ia mengungkapkan fakta lebih dari 12 ribu hulu ledak nuklir masih ada hingga kini. “Lebih dari 12 ribu hulu ledak masih ada. Program modernisasi dipercepat. Arsenal diperluas. Dan retorika nuklir semakin sering dan semakin mengkhawatirkan,” ujar Sugiono.

Menurutnya, anggapan pencegahan nuklir menjamin keamanan justru memperdalam ketidakamanan dan malah melanggengkan persepsi ancaman. Ia juga menyoroti berakhirnya Traktat New START.

“Berakhirnya Traktat New START, pembatas mengikat terakhir atas dua arsenal nuklir terbesar, menandai momen yang mengkhawatirkan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tidak ada batas yang disepakati atas kekuatan nuklir strategis mereka,” ucap Sugiono.

2. Perlombaan senjata semakin menjadi risiko global terkini

Menlu Sugiono berbicara dalam Segmen Tingkat Tinggi Konferensi Perlucutan Senjata di sela Sesi ke-61 Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss. (Dok. Kemlu RI)

Sugiono menegaskan, konsekuensi situasi ini bersifat global, bukan sekadar isu bilateral. “Ini bukan isu bilateral. Konsekuensinya bersifat global. Ini memengaruhi setiap negara, khususnya mereka yang memilih menahan diri secara nuklir,” tegasnya.

Ia menyebut dampaknya antara lain berkurangnya prediktabilitas dan meningkatnya risiko perlombaan senjata baru. “Ini mengurangi prediktabilitas, mengikis transparansi, dan meningkatkan risiko salah perhitungan serta perlombaan senjata yang kembali terjadi,” serunya.

“Teknologi yang muncul seperti kecerdasan buatan, kemampuan siber, dan ruang angkasa menambah risiko. Tanpa pagar pembatas yang jelas, teknologi ini memperbesar ketidakpastian dan meningkatkan risiko eskalasi yang tidak disengaja,” tambah Sugiono.

Karena itu, ia menegaskan upaya perlucutan senjata harus menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut.

3. Seruan menghidupkan kembali negosiasi

Menlu Sugiono berbicara dalam Segmen Tingkat Tinggi Konferensi Perlucutan Senjata di sela Sesi ke-61 Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss. (Dok. Kemlu RI)

Sugiono juga menyoroti stagnasi yang berkepanjangan dalam pertemuan tersebut. “Anggota Konferensi ini diberi mandat yang jelas dan mulia: mencegah bahaya perang nuklir dan memperkuat perdamaian serta keamanan internasional. Namun kelumpuhan yang berkepanjangan telah melemahkan kepercayaan terhadap arsitektur perlucutan senjata,” katanya.

Ia menegaskan, kredibilitas forum ini tidak bisa dianggap otomatis. Namun, kata dia, harus dipulihkan melalui kemauan politik dan kemajuan substantif, bukan hambatan prosedural.

Sugiono menyerukan agar norma dan komitmen yang telah ada tetap dijaga. “Tindakan yang melemahkan perlucutan senjata tidak boleh dinormalisasi. Kewajiban harus ditegakkan dengan akuntabilitas dan tanpa pengecualian,” ujarnya.

Sugiono juga mendorong dimulainya kembali perundingan mengenai konvensi senjata nuklir komprehensif, jaminan keamanan negatif yang mengikat secara hukum, pencegahan perlombaan senjata di ruang angkasa, serta perjanjian bahan fisil yang memperkuat tujuan perlucutan senjata.

Editorial Team