Ketegangan Iran-AS Meningkat Meski Prinsip Dasar Nuklir Disepakati

- Perundingan nuklir Iran-AS mencapai kesepakatan awal
- Iran melakukan latihan tembak langsung rudal di Selat Hormuz sebagai pesan keras
Jakarta, IDN Times - Iran dan Amerika Serikat kembali menggelar putaran terbaru perundingan nuklir tidak langsung di Jenewa, Selasa (17/2/2026) di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan. Pembicaraan yang dimediasi Oman itu menghasilkan pemahaman awal mengenai prinsip-prinsip dasar, meski belum menghasilkan kesepakatan final.
Pada saat yang sama, Teheran melakukan latihan tembak langsung rudal di Selat Hormuz serta mengeluarkan peringatan baru terkait hak nuklirnya. Perundingan ini berlangsung ketika kedua negara sama-sama menunjukkan kesiapan menghadapi eskalasi, baik melalui diplomasi maupun pengerahan militer.
1. Sepakati prinsip panduan, pembicaraan masuk ke tahap teks perjanjian

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, yang memimpin delegasi Teheran, menyatakan kedua pihak telah mencapai kesepahaman awal.
“Berbagai gagasan telah diajukan, gagasan-gagasan ini telah dibahas secara serius, pada akhirnya kami dapat mencapai kesepakatan umum mengenai beberapa prinsip panduan. Mulai sekarang kami akan bergerak berdasarkan prinsip-prinsip tersebut dan memasuki penyusunan teks dari potensi perjanjian," kata dia kepada media Iran.
Pembicaraan ini digelar dengan pengamanan ketat di kediaman Duta Besar Oman untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa. Negosiasi tersebut merupakan kelanjutan dari putaran sebelumnya di Oman dan menjadi upaya terbaru untuk meredakan ketegangan antara kedua negara.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengatakan, dirinya akan terlibat secara tidak langsung dalam perundingan tersebut.
“Saya pikir mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tidak berpikir mereka menginginkan konsekuensi dari tidak membuat kesepakatan,” ujar Trump kepada jurnalis di atas Air Force One, dikutip dari India Today, Rabu (17/2/2026).
Namun, pejabat AS juga mengingatkan opsi militer tetap tersedia jika diplomasi gagal.
2. Latihan rudal jadi pesan keras Iran

Di tengah jalannya perundingan, Iran meluncurkan rudal dari wilayah dalam negeri dan pesisirnya yang menghantam target di Selat Hormuz.
Latihan tersebut dilakukan oleh Garda Revolusi Iran, sedangkan otoritas setempat mengumumkan penutupan sementara sebagian jalur perairan demi alasan keselamatan selama latihan tembak langsung.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, kembali menegaskan posisi negaranya terkait hak nuklir.
Dia mengatakan, energi nuklir dan kemampuan pengayaan uranium merupakan hak nasional yang tidak dapat disangkal dan diakui dalam kerangka internasional serta tidak boleh menjadi sasaran campur tangan Amerika Serikat.
“Tentu saja, kapal perang adalah perangkat yang berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya daripada kapal perang adalah senjata yang dapat menenggelamkan kapal perang itu ke dasar laut," kata dia dalam pernyataan terpisah yang disiarkan televisi Pemerintah Iran.
Dia juga memperingatkan, jika memaksakan hasil perundingan sejak awal adalah tindakan yang salah dan bodoh.
3. Perbedaan tajam soal pengayaan Uranium

Amerika Serikat menginginkan kesepakatan yang membatasi program nuklir Iran dan mencegah pengembangan senjata atom. Washington juga mendorong agar pembicaraan diperluas mencakup persediaan rudal Iran dan perannya di kawasan.
Namun, Teheran menolak perluasan tersebut dan menegaskan negosiasi harus berfokus pada pembatasan nuklir serta pencabutan sanksi. Pejabat Iran menyatakan mereka tidak akan menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya maupun memasukkan program rudalnya ke meja perundingan.
Iran menyebut program nuklirnya bersifat damai dan diizinkan berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) yang telah ditandatanganinya.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Israel menuduh Teheran berupaya mengembangkan kemampuan senjata nuklir. Israel sendiri bukan pihak dalam perjanjian tersebut dan selama ini menerapkan kebijakan tidak mengonfirmasi maupun membantah kepemilikan senjata nuklir.
















