Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rindu Cucu, Jemaah Haji Rela Bongkar Koper demi Bawa Boneka Unta
Seorang petugas memeriksa tumpukan barang yang dibuang jemaah haji di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Barang-barang tersebut terdiri dari berbagai benda seperti kabel, payung, dan botol yang tidak diperbolehkan masuk ke bagasi kabin atau melebihi batas berat yang ditentukan. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
  • Sebanyak 358 jemaah haji asal Langkat bersiap pulang ke Indonesia dari Jeddah, namun harus membongkar koper karena aturan ketat maskapai soal batas berat dan jumlah bagasi.
  • Meski lelah mengatur ulang barang, para jemaah tetap bersyukur telah menuntaskan ibadah haji dan tak sabar bertemu keluarga di kampung halaman.
  • Boneka unta menjadi oleh-oleh favorit jemaah tahun ini, bahkan beberapa rela repot membawa mainan besar itu demi menyenangkan cucu di rumah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jeddah, IDN Times — Rombongan jemaah haji asal Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) KNO 02 akhirnya menapaki jalan pulang ke Tanah Air pada Selasa (2/6/2026). Sebanyak 358 jemaah dijadwalkan terbang menggunakan maskapai Garuda Indonesia pada pukul 19.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Namun, sebelum lepas landas dari Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, area keberangkatan sempat diwarnai kesibukan jemaah yang harus membongkar ulang barang bawaannya.

Setibanya di bandara pada pukul 16.00 WAS setelah menempuh perjalanan darat dari Makkah, jemaah langsung disambut oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dan staf maskapai. Mereka melakukan pemeriksaan awal screening barang bawaan guna memastikan proses check-in berjalan mulus tanpa hambatan.

1. Aturan tegas maskapai, jemaah harus rela barangnya ditinggal

Seorang petugas memeriksa barang bawaan jemaah haji di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada barang terlarang atau melebihi batas berat bagasi kabin yang ditentukan sebelum keberangkatan jemaah. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI telah mewanti-wanti bahwa maskapai Garuda Indonesia dan Saudia Airlines menerapkan aturan ketat soal bagasi. Setiap jemaah hanya diperbolehkan membawa tiga tas: satu tas paspor, satu koper kabin (maksimal 7 kg), dan satu koper bagasi (maksimal 32 kg). Khusus bagi jemaah lansia dan disabilitas, koper kabin diizinkan masuk ke bagasi asalkan beratnya tetap di bawah 7 kg dan bebas dari obat-obatan maupun perhiasan.

Kenyataan di lapangan, kerinduan membawakan buah tangan untuk keluarga membuat banyak jemaah khilaf. Banyak dari mereka tiba dengan barang bawaan overload, menjinjing aneka bungkusan plastik berisi makanan, oleh-oleh, hingga air zamzam. Jika dibiarkan, barang-barang berlebih ini akan memicu pembongkaran paksa di mesin pemindai sinar-X (X-ray) yang bisa mengular dan menghambat jadwal penerbangan.

Alhasil, para jemaah calon penumpang ini mau tidak mau harus "lesehan" mengorganisasi ulang isi tas mereka. Pemandangannya beragam; ada yang buru-buru menghabiskan sisa bekal makan dan minum, ada yang memutar otak menata ulang koper kabinnya. Jika oleh-olehnya bisa dikenakan, maka akan dikenakan di badan. Tidak sedikit pula yang dengan berat hati harus merelakan barang-barang non-esensial dan terlarang tertinggal di lantai bandara—seperti payung, kabel rol listrik, gunting, benda tajam, hingga air zamzam.

Keribetan proses bongkar muat koper ini memakan waktu yang tidak sebentar. Inilah alasan krusial mengapa jemaah diwajibkan sudah tiba di bandara 3 hingga 4 jam sebelum jam keberangkatan.

Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar menyoroti kebiasaan khas jemaah Indonesia yang gemar membawa banyak buah tangan, hingga rela memakai barang-barang elektronik atau pakaian berlapis di badan demi menghindari overweight di tas kabin.

"Itu yang dilakukan oleh jemaah, supaya tidak dihitung berat di tas kabin maka mereka gunakan. Karena itu kenang-kenangan, jadi budaya orang Indonesia biasanya harus ada buah tangan," ujarnya saat memantau proses pemulangan jemaah Senin (01/06/2026) malam.

Meski begitu, Dahnil memberikan imbauan rasional. Maskapai penerbangan memiliki batas toleransi yang ketat. Ia mengingatkan jemaah untuk menyortir barang sejak masih di hotel, bukan saat sudah tiba di bandara.

"Kalau membawa barang bawaan berlebihan, yang hanya bisa dibawa itu adalah hand carry, tas kabin, dan tas paspor. Lebih baik sudah disortir dari hotel karena dipastikan nanti di sini (bandara) tidak bisa lewat," pungkasnya memperingatkan.

2. Perasaan bercampur aduk antara meninggalkan Kabah dan merindukan keluarga

Jemaah membongkar lagi barang bawaannya di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada barang terlarang atau melebihi batas berat bagasi kabin yang ditentukan sebelum keberangkatan jemaah. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Di balik kelelahan menata barang, raut kelegaan tak bisa disembunyikan dari wajah para jemaah. Siti Mardiah binti Akum Tarigan (70), jemaah lansia asal Langkat, mengaku sangat bersyukur karena mampu menuntaskan ibadah fisik yang berat ini selama lebih dari 40 hari. Hebatnya, ia mampu menyelesaikan seluruh rukun haji, mulai dari lontar jumrah di Jamarat hingga tawaf secara mandiri.

Perasaannya kini campur aduk antara sedih berpisah dengan Baitullah dan tak sabar ingin segera memeluk keluarganya di kampung halaman. "Sedih dan gembira. Gembira karena saya sudah rindu juga sama anak saya, sama cucu," ujar Mardiah terharu.

3. Demam oleh-oleh boneka unta

Bicara soal rindu cucu, urusan oleh-oleh jelas menjadi prioritas. Tahun ini, boneka replika unta menjadi salah satu suvenir paling laris yang diburu jemaah haji Indonesia. Mulai dari gantungan kunci mungil, hingga boneka besar berpenunggang yang bisa berjalan sambil mengumandangkan talbiyah "Labbaik allahuma labbaik" saat tombolnya ditekan.

Katiyo Kadiman dan Samsul Azhar, dua jemaah Kloter KNO 02, adalah contoh jemaah yang "terjangkit" demam boneka unta ini. Mereka terpantau memborong mainan khas Timur Tengah tersebut. Uniknya, Samsul menenteng unta-untanya menggunakan goodie bag, sementara Katiyo santai mengalungkan boneka unta tersebut di lehernya agar lebih praktis.

Samsul memborong empat boneka unta ukuran besar; tiga ditenteng, satu dipaksa masuk koper. Di luar itu, ia juga membawa air zamzam, sajadah, cokelat, hingga kurma. Ia sadar betul bawaannya rawan overload, namun ia berharap ada sedikit kelonggaran.

"Mohon dimaafkan karena tidak mungkin kami pulang haji tanpa bawa oleh-oleh ini," kekeh Samsul. Senada dengan Samsul, Katiyo juga punya alasan kuat mengapa ia rela repot-repot membawa boneka tersebut melintasi benua. "Di sana [Indonesia] tidak ada. Kalaupun ada, jauh lah. Ini khas Arab," tutup Katiyo saat ditemui di Jarwal sebelum bertolak ke Jeddah.

Laporan tambahan dari Tim MCH Makkah dan Madinah.

Editorial Team

Related Article