Seorang petugas memeriksa barang bawaan jemaah haji di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada barang terlarang atau melebihi batas berat bagasi kabin yang ditentukan sebelum keberangkatan jemaah. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI telah mewanti-wanti bahwa maskapai Garuda Indonesia dan Saudia Airlines menerapkan aturan ketat soal bagasi. Setiap jemaah hanya diperbolehkan membawa tiga tas: satu tas paspor, satu koper kabin (maksimal 7 kg), dan satu koper bagasi (maksimal 32 kg). Khusus bagi jemaah lansia dan disabilitas, koper kabin diizinkan masuk ke bagasi asalkan beratnya tetap di bawah 7 kg dan bebas dari obat-obatan maupun perhiasan.
Kenyataan di lapangan, kerinduan membawakan buah tangan untuk keluarga membuat banyak jemaah khilaf. Banyak dari mereka tiba dengan barang bawaan overload, menjinjing aneka bungkusan plastik berisi makanan, oleh-oleh, hingga air zamzam. Jika dibiarkan, barang-barang berlebih ini akan memicu pembongkaran paksa di mesin pemindai sinar-X (X-ray) yang bisa mengular dan menghambat jadwal penerbangan.
Alhasil, para jemaah calon penumpang ini mau tidak mau harus "lesehan" mengorganisasi ulang isi tas mereka. Pemandangannya beragam; ada yang buru-buru menghabiskan sisa bekal makan dan minum, ada yang memutar otak menata ulang koper kabinnya. Jika oleh-olehnya bisa dikenakan, maka akan dikenakan di badan. Tidak sedikit pula yang dengan berat hati harus merelakan barang-barang non-esensial dan terlarang tertinggal di lantai bandara—seperti payung, kabel rol listrik, gunting, benda tajam, hingga air zamzam.
Keribetan proses bongkar muat koper ini memakan waktu yang tidak sebentar. Inilah alasan krusial mengapa jemaah diwajibkan sudah tiba di bandara 3 hingga 4 jam sebelum jam keberangkatan.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar menyoroti kebiasaan khas jemaah Indonesia yang gemar membawa banyak buah tangan, hingga rela memakai barang-barang elektronik atau pakaian berlapis di badan demi menghindari overweight di tas kabin.
"Itu yang dilakukan oleh jemaah, supaya tidak dihitung berat di tas kabin maka mereka gunakan. Karena itu kenang-kenangan, jadi budaya orang Indonesia biasanya harus ada buah tangan," ujarnya saat memantau proses pemulangan jemaah Senin (01/06/2026) malam.
Meski begitu, Dahnil memberikan imbauan rasional. Maskapai penerbangan memiliki batas toleransi yang ketat. Ia mengingatkan jemaah untuk menyortir barang sejak masih di hotel, bukan saat sudah tiba di bandara.
"Kalau membawa barang bawaan berlebihan, yang hanya bisa dibawa itu adalah hand carry, tas kabin, dan tas paspor. Lebih baik sudah disortir dari hotel karena dipastikan nanti di sini (bandara) tidak bisa lewat," pungkasnya memperingatkan.