China luncurkan satelit Xiguang-1 04 pada Senin (11/11/2024). (x.com/Xinhua Indonesia)
Tahap pertama roket dilengkapi sirip grid dan kaki pendaratan. Desain ini memungkinkan bagian tersebut digunakan kembali hingga setidaknya 10 kali.
Tianlong-3 dikembangkan untuk mendukung peluncuran satelit dalam konstelasi broadband China bernama Qianfan. Hingga kini, baru 108 satelit yang berhasil ditempatkan di orbit, sementara targetnya mencapai sekitar 1.300 satelit pada akhir 2027 dan lebih dari 15 ribu satelit pada 2030.
China juga telah mengajukan rencana ke International Telecommunication Union (ITU) untuk meluncurkan lebih dari 200 ribu satelit. Langkah ini bertujuan memperluas kehadiran negara tersebut di luar angkasa.
Dilansir dari NDTV, Program pengembangan roket ini sempat mengalami insiden pada 2024. Dalam uji statis api, tahap pertama roket tiba-tiba lepas landas akibat kegagalan struktur pada sambungan dan kelemahan di bagian ekor.
Setelah insiden itu, lebih dari 100 perbaikan teknis dilakukan oleh para insinyur. Sekitar satu tahun kemudian, tahap pertama yang telah didesain ulang berhasil menjalani uji statis di landasan peluncuran lepas pantai di provinsi Shandong.
Peluncuran Tianlong-3 sendiri sempat mengalami beberapa penundaan. Pada November tahun lalu, roket ini terlihat berada di landasan bersama Zhuque-3 milik LandSpace dan Long March 12A milik pemerintah.
Ketiga roket tersebut dirancang untuk mendukung pembangunan berbagai megakonstelasi satelit China, termasuk proyek Guowang dengan sekitar 13 ribu satelit serta Qianfan yang didukung pemerintah kota Shanghai.
Sementara itu, SpaceX masih memimpin dengan lebih dari 10 ribu satelit Starlink di orbit dan rencana mencapai 42 ribu satelit. Zhuque-3 dan Long March 12A sendiri telah berhasil mencapai orbit pada akhir tahun lalu, meski upaya pemulihan tahap pertama keduanya belum berhasil.