Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
SBY: Iran Berperang karena Sudah Diserang Lebih Dulu oleh AS-Israel
Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (Tangkapan layar YouTube SBY)
  • SBY menilai Iran menyerang karena lebih dulu diserang AS dan Israel, menyebut tindakan itu sebagai bentuk mempertahankan kedaulatan dengan prinsip “necessity of war”.
  • Ia mengingatkan dukungan rakyat menentukan lamanya perang serta menegaskan pergantian rezim oleh kekuatan luar tidak mudah dilakukan meski pemimpin Iran telah gugur.
  • SBY memperingatkan konflik sudah meluas menjadi perang regional di Timur Tengah dan berpotensi memicu keterlibatan NATO jika serangan terus berkembang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan Iran melakukan serangan militer karena sudah diserang lebih dulu oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/2/2026). Sehingga, serangan yang dilakukan untuk mempertahankan kedaulatan dan wilayahnya. Maka, tak ada pilihan lain selain dengan mengangkat senjata. SBY menggunakan istilah necessity of war (harus perang).

Namun, ia mengaku tidak tahu apa yang memicu Israel dan Negeri Paman Sam melakukan serangan militer lebih dulu terhadap Iran. Padahal, Negeri Paman Sam masih melakukan negosasi tidak langsung di Jenewa beberapa hari sebelumnya dengan Iran.

"Saya tidak tahu, apakah karena Presiden Trump dan Benyamin Netanyahu sudah give up terhadap perundingan dan tak tercapai kesepakatan, yang bisa menjawab itu mereka," ujar SBY ketika berbagi pandangan di akun YouTube resminya pada Selasa (3/3/2026).

Meski begitu selalu tersedia ruang bagi pemimpin politik tertinggi yakni presiden atau perdana menteri entah dengan harus berperang atau dengan cara lain.

1. Dukungan rakyat jadi faktor penentu durasi peperangan

Kepulan asap membumbung setelah dilaporkan terjadi ledakan di Teheran, Sabtu (28/2/2026). (AFP/Atta Kenare)

Lebih lanjut, kata SBY, peperangan di suatu negara akan berlangsung cukup lama bila didukung oleh rakyatnya. "Bila rakyat Amerika Serikat mendukung penuh perang yang dilancarkan di Iran, begitu juga rakyat Israel dan Iran, maka itu salah satu faktor penentu para prajurit bisa bertempur dengan baik," katanya.

Ia juga mengingatkan para prajurit memiliki logika dan hati nurani. Bila peperangan memang benar-benar diperlukan, maka mereka rela mengorbankan jiwa dan raga untuk negara.

"Soldiers will not fight and die unless they know what they fight and die for. Itu universal di seluruh dunia. Faktor itu jangan diabaikan," katanya.

SBY pun meski berasal dari latar belakang militer mengaku lebih mencintai perdamaian. Sebisa mungkin dia menghindari mengambil keputusan untuk berperang.

"Kenapa saya tidak menjadi presiden yang gemar berperang? Because I know the cost of war, luar biasa dalamnya. Ribuan janda dan anak yatim yang kehilangan sosok ayah dan suami yang gugur di medan pertempuran. Tapi, bila memang harus (berperang) ya harus, tentara kan memang disumpah untuk itu," tuturnya.

Namun, ia mengingatkan kepada pemimpin politik baik para presiden dan perdana menteri agar berhati-hati ketika memutuskan untuk berperang. Sebab, bila keliru mengambil keputusan maka liang kubur di taman makam pahlawan akan semakin penuh.

2. Pergantian rezim kepemimpinan yang dipaksakan oleh pihak luar tidak mudah dilakukan

Para pelayat berkumpul dengan bendera nasional Iran untuk upacara peringatan, sehari setelah pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS dan Israel, di Teheran pada 1 Maret 2026. (- / AFP)

Di konten tersebut, SBY juga mewanti-wanti bahwa tidak mudah untuk memaksakan terjadinya pergantian rezim di suatu negara. Apalagi bila dibantu campur tangan negara luar.

Presiden Donald J Trump mengatakan salah satu tujuan perang yang mereka lakukan untuk mengganti pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Tujuan itu berhasil dicapai dalam serangan awal pada Sabtu (28/2/2026). Khamenei gugur di rumahnya bersama sang istri.

Tetapi, pada kenyataannya Iran tidak berhenti melakukan serangan militer pascakematian Khamenei. Justru Iran meningkatkan kapasitasnya untuk melakukan serangan balasan ke AS dan Israel.

"Oleh karena itu saya harus mengatakan tidak semudah itu (melakukan pergantian rezim). Bukan berarti tidak mungkin, tapi harus melihat konteksnya secara utuh," kata presiden yang dulu memimpin 10 tahun itu.

Selain itu, peperangan harus memiliki sumber daya, cara dan strategi untuk mencapai target militer. Bila hal tersebut tidak ada, maka peperangan akan menimulkan frustasi belaka.

"Intinya saya berani mengatakan untuk sebuah pergantian rezim yang dipaksakan oleh external power tidak semudah yang dibayangkan. Sejarah juga menunjukkan itu di mana-mana," imbuhnya.

3. Peperangan sudah meluas ke wilayah regional

Hotel Fairmont The Palm Dubai terbakar dalam insiden di Palm Jumeriah usai serangan Iran, Sabtu (28/2/2026). (Screenshot video via The Mirror)

SBY juga mencermati selama tiga hari terakhir, agresi militer Israel dan AS terhadap Iran bisa meluas ke wilayah lain. Apalagi Iran memenuhi janjinya bila mereka diserang maka pembalasannya berupa serangan terhadap pangkalan militer AS yang berada di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

"So, ini betul-betul sekarang sudah menjadi regional war. Kalau semula Amerika Serikat plus Israel melawan Iran, sekarang menjadi lebih rumit dan kompleks karena negara-negara teluk ikut diserang oleh Iran. Misalnya yang ikut diserang Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab (UEA) hingga Oman," katanya.

Negara-negara di kawasan Timur Tengah itu juga sedang menegakan kedaulatannya karena melakukan pembalasan terhadap Iran. Belum lagi pangkalan militer Inggris di Siprus juga ikut diserang Iran.

SBY mengatakan situasi bisa runyam bila yang ikut disasar Iran berikutnya adalah anggota aliansi NATO. Maka, Article 5 di dalam piagam NATO akan diberlakukan.

"Isi dari Article 5 itu bila ada anggota NATO diserang oleh negara tertentu maka wajib hukumnya bagi negara anggota NATO lainnya bersama-sama dengan Inggris memerangi negara yang menyerang posisi Inggris tersebut. Ini kan menjadi lebih berbahaya lagi," tutur dia.

Situasi bisa semakin memburuk bila Rusia dan Korea Utara ikut terlibat. SBY pun berharap hal itu tidak terjadi.

Editorial Team