SBY: Amerika dan Israel Punya Tujuan Sama Serang Iran Tapi Tidak Identik

- SBY menilai konflik di Timur Tengah dipicu oleh perbedaan kepentingan antara Amerika Serikat dan Israel, meski keduanya memiliki tujuan yang mirip dalam menghadapi Iran.
- Ia menyoroti isu pergantian rezim di Iran yang sering disuarakan AS serta mempertanyakan efektivitas penggunaan kekuatan militer berdasarkan pengalaman di Afghanistan dan Irak.
- Menurut SBY, Israel fokus pada pembubaran kelompok proksi Iran seperti Hizbullah dan Hamas, karena dianggap ancaman langsung terhadap keamanan negaranya.
Jakarta, IDN Times - Situasi di Timur Tengah makin memanas setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas Amerika Serikat di beberapa negara di kawasan itu. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai, konflik ini tak lepas dari kepentingan Amerika Serikat (AS) dan Israel, di mana keduanya merupakan sekutu dekat.
Menurut SBY, ada kesamaan tujuan antara Washington dan Tel Aviv, namun tidak sepenuhnya identik. Perbedaan inilah yang berpotensi memengaruhi arah dan eskalasi perang.
1. Kepentingan AS dan Israel sama, tapi tidak identik

SBY mengaku mengikuti secara saksama pernyataan Presiden AS dan Perdana Menteri Israel, serta respons dari Iran. Ia menyebut, cara pandang terhadap konflik ini harus dilihat dari kepentingan masing-masing negara.
"Ini kan sebagai sekutu satu hati satu jiwa, Amerika dan Israel ini punya kesamaan tujuan, kesamaan sasaran, tapi tidak identik, artinya tidak persis sama," ujar SBY.
Ia menilai, AS tidak ingin Iran memiliki senjata nuklir karena berpotensi menjadi ancaman langsung bagi negaranya. Israel pun memiliki kekhawatiran serupa.
"Mungkin ya, ini saya melihatnya, Amerika Serikat tidak ingin Iran itu punya kekuatan senjata nuklir. Karena Amerika pasti menjadi salah satu sasaran. Israel sama. Jadi kalau sekarang yang diisukan nuklirnya itu kalau suatu saat manifest menjadi senjata nuklir, maka Israel pasti, 'Ini sasaran pertama, sasaran utama, kami Israel'," katanya.
2. Isu pergantian rezim dan pengalaman masa lalu AS

SBY juga menyinggung soal isu pergantian rezim di Iran yang kerap disuarakan Presiden AS, Donald Trump. Ia mengaitkan hal itu dengan sejarah hubungan kedua negara yang memburuk sejak Revolusi Iran.
"Dulu Amerika baik ketika yang memimpin Iran adalah Syah Pahlevi. Sekarang sejak mendiang Ayatullah Khomeini dan kemarin yang baru saja tewas oleh serangan Israel dan Amerika, hubungannya kan tidak baik. Bahkan permusuhannya cukup mendalam. Jadi kalau seorang Trump pengin ada pergantian rezim dari kacamata dia, ya masuk akal. Itu barangkali sama," tutur dia.
SBY mengingatkan, AS memiliki pengalaman panjang dalam perang di Afghanistan dan Irak yang juga disertai isu perubahan rezim dan demokratisasi. Karena itu, ia mempertanyakan efektivitas penggunaan kekuatan militer untuk mencapai tujuan politik.
3. Israel ingin proksi Iran dibubarkan

Lebih jauh, SBY menduga kepentingan Israel tak hanya sebatas mencegah Iran memiliki senjata nuklir atau mendorong pergantian rezim. Ada faktor lain yang dinilai lebih mendesak bagi Israel, yakni keberadaan kelompok-kelompok yang dianggap sebagai proksi Iran.
"Tetapi kalau Israel dugaan saya, not only that. Tahu bahwa di Timur Tengah itu ada non-state actors yang dianggap proksinya Iran, yang selalu bermusuhan dengan Israel. Misalnya di Lebanon ada Hizbullah, di Palestina ada Hamas, di Yaman ada Houthi, dan ada elemen lain di negara lain. Mungkin bukan hanya pergantian rezim, bukan hanya jangan sampai Iran punya senjata nuklir, bagi Israel ya yang disebut Israel proksi-proksi itu harus tidak ada, harus dibubarkan," ucapnya.
Ia juga menyoroti ancaman rudal balistik Iran yang kini menjadi momok bagi Israel dan AS. Menurutnya, meski AS tidak menyukai situasi tersebut, dampak langsungnya lebih dirasakan oleh Israel.
"Amerika barangkali karena Iran juga punya kekuatan yang tangguh yaitu senjata balistik, peluru kendali ballistic missiles, itu yang paling ditakuti, imminent, terjadi betul sekarang ini dihujanilah Tel Aviv dan Israel oleh peluru kendali Iran itu. Mungkin meskipun Amerika juga tidak happy, tetapi yang lebih merasakan adalah Israel," jelas SBY.
SBY menekankan bahwa dalam setiap peperangan selalu ada tujuan politik (political objectives) dan tujuan militer (military objectives) yang berbeda, namun harus saling mendukung. Ia mengingatkan bahwa dinamika perang sangat cair dan bisa berubah sewaktu-waktu.
"Kalau saya simpulkan ada beberapa tujuan, dan kita lihat bareng-bareng nanti apakah berhenti cukup dengan pergantian rezim, kalau itu pun terjadi, belum tentu terjadi pergantian rezim. Apa juga sekaligus seperti yang diinginkan Israel? Kita lihat karena perang itu dinamis, bisa ada perubahan-perubahan menyangkut sasaran along the way, dan sekarang ini baru awal, belum seminggu. Jadi banyak hal yang harus kita lihat bersama-sama," kata SBY.














![[QUIZ] Tes Seberapa Luas Wawasan Kamu Tentang Sejarah Kenabian, Bisa Jawab?](https://image.idntimes.com/post/20250330/kusi-kisah-nabi-cover-7d0b3b2b4abad8912775212d324e6661.jpg)



