bendera Israel (pexels.com/Leon Natan)
Di tengah eskalasi di wilayah utara, sedikitnya 12 kendaraan militer Israel dilaporkan memasuki desa Saida al-Golan di pedesaan Quneitra. Pergerakan itu berlangsung bersamaan dengan perundingan antara delegasi Suriah dan Israel yang digelar di Paris dan dijadwalkan berlanjut hingga hari kedua.
Israel mendorong demiliterisasi penuh Suriah selatan, mempertahankan pos militernya di Jabal al-Sheikh, serta meminta jaminan perlindungan bagi komunitas minoritas Druze. Tuntutan tersebut menjadi bagian dari agenda yang dibahas dalam pertemuan kedua pihak.
Marie Forestier, nonresident senior fellow Proyek Suriah Dewan Atlantik, menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa perbedaan kepentingan antara Suriah, Israel, dan Amerika Serikat sangat lebar. Ia menilai upaya Israel yang terus menggoyang stabilitas Suriah justru bersifat kontraproduktif.
Forestier juga mengatakan langkah tersebut berisiko memicu kekacauan yang lebih luas dan dapat melahirkan kekuatan baru yang berpotensi mengancam keamanan Israel. Pandangan itu disampaikan di tengah meningkatnya aktivitas militer Israel di wilayah Suriah.
Sejak Bashar al-Assad lengser, Israel memperluas kendali di luar Dataran Tinggi Golan dan kerap melancarkan serangan di bagian selatan Suriah. Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan Israel hampir setiap hari melakukan penyusupan ke wilayah Quneitra, termasuk menangkap warga, mendirikan pos pemeriksaan, dan meratakan lahan.
Sepanjang setahun terakhir, Israel tercatat melancarkan lebih dari 600 serangan udara, pesawat tanpa awak, dan artileri di berbagai wilayah Suriah. Rentetan operasi tersebut berlangsung di tengah dinamika politik dan keamanan yang masih rapuh di negara itu.