Donald Trump berpidato di sebuah rapat umum di Fountain Hills, Arizona tanggal 19 Maret 2016 (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
Yang menarik, legitimasi Mojtaba justru sebagian datang dari luar, dari musuh-musuhnya sendiri. Ketika Trump menyebutnya "tidak dapat diterima" dan Israel mengancam akan menjadikannya target, para ulama Iran membaca itu sebagai konfirmasi: ini orang yang tepat.
IRGC langsung mengeluarkan pernyataan menyatakan "penghormatan mendalam, kesetiaan total, dan ketaatan penuh" kepada Mojtaba begitu namanya diumumkan. Institusi paling berkuasa di Iran sudah menyatakan posisinya.
Apakah ini preseden yang nyaman bagi Republik Islam? Mungkin tidak. Suksesi dari bapak ke anak memang dipandang sinis oleh sebagian warga Iran, terutama karena terlalu mengingatkan pada monarki Pahlavi yang justru digulingkan oleh revolusi. Tapi Iran tidak memilih Mojtaba untuk membuat sejarah terasa nyaman. Mereka memilihnya karena di tengah perang, di bawah serangan, dan tanpa kemewahan waktu, dia adalah pilihan yang paling masuk akal bagi mereka yang pegang kendali.
Legitimasinya tidak datang dari nama ayahnya. Legitimasinya akan dibangun atau dihancurkan oleh apa yang dia lakukan selanjutnya.