Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sejarah Baru, Nepal Lantik Anggota Parlemen Transgender Pertama
ilustrasi bendera nepal (freepik.com/wire
  • Nepal mencatat sejarah baru dengan pelantikan Bhumika Shrestha, perempuan transgender pertama yang menjadi anggota parlemen melalui Partai Rastriya Swatantra (RSP) yang meraih mayoritas kursi.
  • Bhumika Shrestha, aktivis LGBTQ+ berpengalaman dan penerima penghargaan internasional, berkomitmen memperjuangkan hak kelompok marginal serta memastikan penerapan kebijakan yang lebih inklusif di parlemen Nepal.
  • Pelantikan Shrestha disambut hangat komunitas minoritas dan menegaskan posisi Nepal sebagai negara paling progresif di Asia Selatan dalam pengakuan identitas gender dan kesetaraan hak asasi manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kathmandu mencatatkan sejarah baru dalam peta politik Asia Selatan pada Senin (16/3/2026). Peristiwa penting ini menandai pertama kalinya seorang perempuan transgender resmi menjabat sebagai anggota parlemen di Nepal. Langkah ini dianggap sebagai kemajuan besar bagi kesetaraan gender di negara tersebut.

Momentum bersejarah ini terjadi di tengah gelombang perubahan besar setelah hasil pemilihan umum nasional yang baru saja digelar di seluruh negeri. Kehadiran sosok baru di kursi legislatif ini membawa harapan segar bagi masa depan demokrasi yang lebih terbuka di Nepal.

1. Partai RSP menangkan mayoritas kursi di parlemen Nepal

ilustrasi Nepal (Unsplash.com/Kalle Kortelainen)

Komisi Pemilihan Umum Nepal secara resmi mengonfirmasi terpilihnya Bhumika Shrestha sebagai anggota parlemen. Ia melenggang ke kursi legislatif melalui jalur representasi proporsional dari Partai Rastriya Swatantra (RSP). Partai yang dipimpin oleh Balendra Shah ini mencatatkan prestasi luar biasa dengan memenangkan 182 dari total 275 kursi di House of Representatives.

Kemenangan mutlak ini sangat signifikan dalam sejarah politik modern Nepal, mengingat usia partai RSP yang baru berjalan empat tahun. Shrestha sendiri terpilih sebagai perwakilan dari daerah pemilihan Janajati. Ia akan menjadi bagian dari majelis rendah yang terbentuk setelah gelombang protes antikorupsi besar-besaran pada September 2025 lalu.

Keberhasilan partai ini meraih suara mayoritas diharapkan dapat mempermudah jalannya berbagai kebijakan baru. Fokus utama dari pemerintahan baru ini diprediksi akan menyasar pada perubahan hukum yang lebih modern dan mendukung kepentingan rakyat banyak di seluruh wilayah Nepal.

2. Bhumika Shrestha jadi aktivis LGBTQ+ pertama yang tembus parlemen Nepal

ilustrasi nepal (pixabay.com/Photodrishti)

Bhumika Shrestha merupakan sosok aktivis hak-hak LGBTQ+ berusia 37 tahun yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia pergerakan. Ia telah lama berjuang melalui organisasi Blue Diamond Society untuk mendapatkan pengakuan identitas gender ketiga di Nepal. Atas dedikasi dan keberaniannya dalam menyuarakan kesetaraan, ia bahkan pernah menerima penghargaan International Women of Courage dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pada tahun 2022.

Setelah resmi dilantik, Shrestha mengungkapkan perasaan campur aduknya terkait posisi baru yang ia emban di pemerintahan. Ia menyadari bahwa ekspektasi masyarakat, khususnya dari kelompok marginal, kini berada di tangannya untuk diperjuangkan dalam tingkat kebijakan nasional.

"Saya sangat bersemangat tetapi juga merasa memikul tanggung jawab di pundak saya, karena komunitas kami berharap saya menyuarakan isu-isu kami di parlemen," ujar Shrestha, dilansir Dawn.

Meski konstitusi Nepal saat ini sudah menjamin hak-hak komunitas marginal, Shrestha menekankan bahwa tantangan sebenarnya ada pada penerapan aturan tersebut. Menurutnya, pembuatan undang-undang dan kebijakan nyata yang berpihak pada rakyat kecil masih menjadi agenda mendesak yang harus segera diperjuangkan di parlemen.

3. Nepal perkuat posisi sebagai negara paling progresif di Asia Selatan

ilustrasi bendera Nepal (unsplash.com/Samrat Khadka)

Keberhasilan Shrestha menembus parlemen disambut meriah oleh komunitas minoritas melalui upacara pengalungan bunga. Dalam acara tersebut, ia juga menerima pemberian pena khusus sebagai simbol kekuatan legislatif yang kini ia miliki untuk menyusun undang-undang. Momen ini dianggap sebagai titik balik bersejarah bagi perjuangan kesetaraan di Nepal.

Presiden Blue Diamond Society, Umisha Pandey, menegaskan bahwa keterwakilan ini sangat krusial. Menurutnya, penderitaan dan aspirasi komunitas marginal hanya bisa dipahami secara mendalam jika mereka memiliki wakil langsung yang berasal dari kalangan mereka sendiri di dalam pemerintahan.

Dengan pencapaian ini, Nepal semakin mengukuhkan posisinya sebagai negara paling progresif di Asia Selatan. Sebelumnya, negara ini telah melakukan langkah besar dengan melegalkan identitas gender ketiga di paspor dan mengakui pernikahan sesama jenis. Langkah bersejarah ini diharapkan dapat memicu perubahan kebijakan yang lebih luas dalam melindungi hak asasi manusia, baik di tingkat nasional maupun internasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team