Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kurma Medjool
Kurma Medjool (ORGANIChouse, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Peringatan terhadap praktik pemasaran kurma Israel sebagai produk Palestina

  • Kerja sama antara aparat keamanan, Kementerian Pertanian, dan perusahaan Palestina dalam pengawasan kurma

  • Perbedaan label dan sistem verifikasi kurma Palestina dan Israel serta produksi kurma Palestina yang berkualitas

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dua pejabat perdagangan Palestina menyerukan agar dilakukan pemeriksaan cermat terhadap sertifikat asal, kode batang (barcode), serta dokumen resmi lain yang menyertai saat membeli kurma. Mereka memperingatkan adanya praktik pemasaran kurma yang diproduksi di permukiman ilegal Israel namun dijual sebagai produk Palestina.

Mohammad Sawafteh, perwakilan dari lembaga nonpemerintah Union of Date Exporters, mengatakan bahwa kurma yang diproduksi di kawasan cekungan Laut Mati “secara visual mungkin sulit dibedakan karena kondisi iklim yang serupa.”

1. Sawafteh juga menyoroti adanya kerja sama antara aparat keamanan, Kementerian Pertanian, dan perusahaan-perusahaan Palestina

Etalase buah kurma (Krista, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Seperti yang dilaporkan Anadolu Agency, Sawafteh turut menyoroti adanya koordinasi antara aparat keamanan, Kementerian Pertanian, dan perusahaan-perusahaan Palestina. Menurutnya, kerja sama tersebut telah memperketat pengawasan terhadap praktik pemasaran kurma Israel dengan nama yang menyesatkan serta menekan peredaran produk dari sumber yang tidak jelas, yang sebelumnya disebutnya lebih marak terjadi.

Ia juga menyampaikan bahwa produksi kurma Palestina mengalami perkembangan dari segi kuantitas dan kualitas, dengan peningkatan volume serta standar mutu yang dinilai berkontribusi terhadap stabilitas pasar. Karena itu, ia menilai tidak lagi ada alasan untuk memasukkan produk Israel dengan dalih kualitasnya lebih unggul.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa produk Palestina yang diperuntukkan bagi ekspor telah disegel, mencantumkan data perusahaan pengekspor dan pengimpor, serta melalui seluruh prosedur teknis yang menegaskan asal-usulnya sebagai produk Palestina.

Proses verifikasi asal dilakukan melalui sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Kementerian Pertanian Palestina, sertifikat “EUR.1” yang dikeluarkan oleh departemen bea cukai Kementerian Keuangan, serta sertifikat asal Palestina yang diterbitkan oleh Kamar Dagang, jelasnya.

2. Perbedaan label dan sistem verifikasi kurma Palestina dan Israel

Kurma di Carrefour, UEA (Ahmed1251985, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Ibrahim Daeeq, Ketua Palestinian Palm and Dates Council, menyampaikan bahwa penelusuran asal kurma bergantung pada dokumen resmi serta sistem pelacakan yang telah disahkan oleh Kementerian Pertanian dan Kamar Dagang Palestina. Ia menjelaskan bahwa konsumen umum, khususnya di luar Palestina, sulit membedakan produk hanya dari tampilan fisik. Karena itu, setiap kurma Palestina didata jumlahnya di tingkat kebun, lalu dilengkapi sertifikat asal dan sertifikat kesehatan sebelum dikirim ke luar negeri.

Menurut Daeeq, terdapat perbedaan dalam metode pengairan yang turut memengaruhi mutu produk. Pohon kurma Palestina diairi dengan air mata air dan sumur bersih, sedangkan kurma dari permukiman ilegal Israel menggunakan air limbah daur ulang. Perbedaan tersebut disebut berdampak pada kualitas, rasa, warna, dan ukuran buah. Kurma Palestina umumnya berwarna madu alami dan berukuran sedang, sementara kurma dari permukiman ilegal cenderung lebih gelap dan berukuran besar, dengan perbedaan kadar gula serta kandungan nutrisi.

Ia juga menjelaskan bahwa produk Palestina memiliki barcode resmi dan saat ini menggunakan kode 625 melalui sistem Yordania, sembari menunggu pengembangan barcode khusus Palestina. Sebaliknya, produk Israel biasanya dipasarkan dengan kode batang yang diawali angka 729 dan terkadang 871. Barcode tersebut memuat informasi identitas produk yang dapat ditelusuri saat dipindai, termasuk nama produsen dan negara asal.

Untuk penandaan, kurma Palestina diekspor dengan label “Product of Palestine” disertai bendera Palestina. Sementara itu, produk Israel dapat beredar dengan berbagai nama merek, seperti Jordan River, Mehadrin, Hadiklaim, King Solomon Dates, Carmel Agrexco, Star Dates, Anna and Sarah, hingga Medjool Plus.

3. Lebih dari 90 persen kurma Palestina tersedia di pasar global

Kurma ( Ella Olsson from Stockholm, Sweden, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Daeeq menyebutkan bahwa sentra produksi kurma Palestina berada di kawasan Lembah Yordan, dengan jumlah pohon mencapai sekitar 400 ribu batang. Industri ini mempekerjakan kurang lebih 7.000 anak muda, baik pria maupun perempuan, sehingga termasuk salah satu sektor pertanian terbesar dari sisi penyerapan tenaga kerja di Palestina.

Ia menjelaskan bahwa mayoritas perkebunan kurma berada di Area C di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Mengacu pada Perjanjian Oslo II tahun 1995, Area C mencakup sekitar 61 persen wilayah Tepi Barat dan semestinya berada di bawah kendali Israel hanya sampai tercapainya perjanjian status permanen pada Mei 1999. Namun, proses tersebut tidak pernah rampung karena adanya penundaan dari pihak Israel.

Secara geografis, Lembah Yordan terletak sekitar 350 meter di bawah permukaan laut. Kondisi alam tersebut disebut memberi keunggulan tersendiri pada karakter dan kualitas kurma yang dihasilkan.

Ia menambahkan bahwa varietas Medjool menjadi jenis yang paling banyak dicari di pasar internasional dan kerap dijuluki sebagai “raja kurma” berkat mutu premiumnya. Permintaannya meningkat signifikan, terutama saat Ramadan, yang mencerminkan tingginya minat konsumen global terhadap kurma asal Palestina.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team