Kurma di Carrefour, UEA (Ahmed1251985, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Ibrahim Daeeq, Ketua Palestinian Palm and Dates Council, menyampaikan bahwa penelusuran asal kurma bergantung pada dokumen resmi serta sistem pelacakan yang telah disahkan oleh Kementerian Pertanian dan Kamar Dagang Palestina. Ia menjelaskan bahwa konsumen umum, khususnya di luar Palestina, sulit membedakan produk hanya dari tampilan fisik. Karena itu, setiap kurma Palestina didata jumlahnya di tingkat kebun, lalu dilengkapi sertifikat asal dan sertifikat kesehatan sebelum dikirim ke luar negeri.
Menurut Daeeq, terdapat perbedaan dalam metode pengairan yang turut memengaruhi mutu produk. Pohon kurma Palestina diairi dengan air mata air dan sumur bersih, sedangkan kurma dari permukiman ilegal Israel menggunakan air limbah daur ulang. Perbedaan tersebut disebut berdampak pada kualitas, rasa, warna, dan ukuran buah. Kurma Palestina umumnya berwarna madu alami dan berukuran sedang, sementara kurma dari permukiman ilegal cenderung lebih gelap dan berukuran besar, dengan perbedaan kadar gula serta kandungan nutrisi.
Ia juga menjelaskan bahwa produk Palestina memiliki barcode resmi dan saat ini menggunakan kode 625 melalui sistem Yordania, sembari menunggu pengembangan barcode khusus Palestina. Sebaliknya, produk Israel biasanya dipasarkan dengan kode batang yang diawali angka 729 dan terkadang 871. Barcode tersebut memuat informasi identitas produk yang dapat ditelusuri saat dipindai, termasuk nama produsen dan negara asal.
Untuk penandaan, kurma Palestina diekspor dengan label “Product of Palestine” disertai bendera Palestina. Sementara itu, produk Israel dapat beredar dengan berbagai nama merek, seperti Jordan River, Mehadrin, Hadiklaim, King Solomon Dates, Carmel Agrexco, Star Dates, Anna and Sarah, hingga Medjool Plus.