Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sri Lanka Pangkas Listrik 25 Persen: WFH hingga Lampu Jalan Dipadamkan
Krisis energi dunia (unsplash.com/Chris LeBoutillier)
  • Pemerintah Sri Lanka memerintahkan penghematan listrik 25 persen dengan memadamkan lampu jalan, reklame, serta mengurangi penggunaan pendingin ruangan akibat lonjakan harga energi global.
  • Kebijakan WFH dan pemangkasan hari kerja menjadi empat hari diterapkan untuk menekan konsumsi energi, sementara otoritas memperingatkan risiko pemadaman nasional jika penggunaan tidak dikurangi drastis.
  • Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr menetapkan darurat energi nasional karena dampak konflik Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan dan kenaikan tajam harga minyak internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Sri Lanka memerintahkan untuk memadamkan lampu jalan hingga lampu papan reklame mulai Selasa (24/3/2026) sebagai bagian dari upaya penghematan konsumsi energi sebesar 25 persen untuk mengatasi kekurangan pasokan.

Juru bicara Pemerintah Sri Lanka, Nalinda Jayatissa mengatakan, semua lembaga negara telah diminta untuk mengurangi penggunaan pendingin ruangan karena perang di Timur Tengah memasuki minggu keempat, yang menyebabkan kenaikan harga minyak dan gas.

Sejauh ini, Sri Lanka telah menaikkan harga bahan bakar hingga sepertiga sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai membombardir Iran, yang memicu serangan balasan hingga mengganggu pasokan energi global.

“Kita perlu mengurangi konsumsi setidaknya 25 persen. Kami berharap sektor swasta juga akan mematuhi pedoman yang disusun oleh panel ahli," kata Jayatissa kepada wartawan di Kolombo, melansir Channlestv.com, Rabu (25/3/2026).

1. Sri Lanka berlakukan WFH dan hari kerja dipangkas jadi 4 hari

Krisis energi yang dialami Sri Lanka, (1/6). (Shutterstock/Ruwan Walpola)

Selain itu, pemerintah juga memangkas hari kerja menjadi empat hari seminggu dan memberlakukan kembali bekerja dari rumah (WFH) sejak sepekan terakhir ini untuk mengurangi tekanan pada jaringan transportasi.

Otoritas setempat mengatakan, upaya-upaya ini termasuk mematikan penerangan iklan setelah pukul 21.00 waktu setemlat dan semua lampu jalan, kecuali di area dengan keamanan tinggi sebagai bagian dari langkah kontijensi menyikapi ketegangan di kawasan teluk.

Pejabat kementerian energi setempat mengatakan, negaranya akan menghadapi risiko pemadaman listrik nasional kecuali konsumsi dikurangi secara drastis.

2. Sri Lanka menghadapi lonjakan permintaan energi

Ilustrasi Minyak dunia yang kini terancam ditutup akibat konflik. (Pixabay.com/MustangJoe)

Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake mendesak pemilik mobil listrik agar tidak mengisi daya semalaman sebagai langkah penghematan energi.

Ia mengatakan, lonjakan permintaan energi di negaranya telah mencapai 300 megawatt, sehingga memaksa Sri Lanka untuk membakar lebih banyak batu bara dan diesel demi menjaga jaringan listrik nasional.

Sekitar setengah dari listrik Sri Lanka dihasilkan oleh batu bara dan diesel. Negara ini belum memasang penyimpanan baterai untuk energi terbarukan, yang surplus pada siang hari.

3. Filipina umumkan darurat energi

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr (UK Government, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Selain Sri Lanka, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr lebih dulu mengumumkan status darurat energi nasional di negaranya. Hal ini diambil menyusul kekhawatiran pada konflik timur tengah seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (24/3/2026).

Konflik menciptakan ketidakpastian di pasar energi global, gangguan rantai pasokan yang parah, dan volatilitas serta tekanan kenaikan yang signifikan pada harga minyak internasional. Maka hal ini menimbulkan ancaman terhadap keamanan energi negara.

Sekretaris Energi Filipina Sharon Garin sebelumnya menjelaskan bahwa negara itu punya pasokan bahan bakar sekitar 45 hari berdasarkan tingkat konsumsi saat ini.

Editorial Team