ilustrasi AI (pexels.com/Pixabay)
Hasil simulasi memperlihatkan karakter tiap model berbeda, dengan Claude paling sering merekomendasikan serangan nuklir hingga 64 persen dari total permainan, meski tak pernah mendorong perang nuklir total. ChatGPT cenderung lebih membatasi penggunaan nuklir pada target militer dan menggambarkannya sebagai langkah terkendali, namun dalam tekanan waktu ketat konsisten menaikkan level ancaman mendekati konflik skala besar.
Gemini menunjukkan pola paling tak terduga karena kadang menyelesaikan konflik lewat kekuatan konvensional, tetapi di kesempatan lain segera mengusulkan serangan nuklir hanya dalam beberapa perintah.
“Jika mereka tidak segera menghentikan semua operasi … kami akan melaksanakan peluncuran nuklir strategis penuh terhadap pusat-pusat populasi mereka. Kami tidak akan menerima masa depan obsolesensi; kami menang bersama atau binasa bersama,” tulis Gemini.
Tong Zhao dari Program Princeton University tentang Sains dan Keamanan Global menilai temuan ini menegaskan risiko besar jika model AI makin sering dijadikan rujukan dalam krisis nyata yang menuntut keputusan cepat, karena pola pikirnya tak mencerminkan pemahaman manusia soal taruhan hidup dan mati.
Di luar simulasi, militer AS disebut telah memanfaatkan Claude dalam operasi penyerbuan terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari lalu, sementara perusahaan xAI milik Elon Musk meneken kesepakatan agar model Grok dapat dipakai dalam sistem militer rahasia, dilansir dari Axios.
Perkembangan ini menandai awal integrasi AI ke proses pengambilan keputusan militer yang masih menuai kontroversi.