AS Tuduh China Tingkatkan Persenjataan Nuklir Secara Masif

- Amerika Serikat menuduh China memperluas persenjataan nuklirnya secara cepat dan tidak transparan, terutama setelah berakhirnya Perjanjian New START antara AS dan Rusia pada Februari 2026.
- Pemerintah AS menilai China melakukan uji coba nuklir tersembunyi serta menuding Rusia turut membantu peningkatan kapasitas nuklir Beijing, memicu kekhawatiran perlombaan senjata baru.
- China membantah tuduhan tersebut di forum internasional, menegaskan kebijakan nuklirnya bersifat defensif dan menolak ajakan untuk bergabung dalam pembicaraan trilateral dengan AS dan Rusia.
Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) menuduh China sedang memperbesar persenjataan nuklirnya secara masif, sangat cepat, dan tanpa keterbukaan. Tuduhan itu mencuat tak lama setelah Perjanjian New START, yakni kesepakatan pengendalian senjata nuklir terakhir antara AS dan Rusia, resmi berakhir pada 5 Februari 2026.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tak ada lagi perjanjian yang membatasi jumlah senjata nuklir paling mematikan di dunia. Situasi tersebut langsung memicu kekhawatiran luas mengenai potensi perlombaan senjata nuklir baru.
1. Pejabat AS mengkritik kelemahan New START

Pernyataan resmi pemerintah AS disampaikan Christopher Yeaw, Asisten Menteri Luar Negeri bidang Pengendalian Senjata dan Non-proliferasi, dalam Konferensi Disarmament di Jenewa, Senin (23/2/2026). Dalam forum itu, ia menyoroti kelemahan mendasar dari Perjanjian New START.
“Mungkin cacat terbesarnya adalah bahwa New START tidak memperhitungkan pembangunan senjata nuklir yang belum pernah terjadi sebelumnya, disengaja, cepat, dan tidak transparan oleh China,” katanya, dikutip dari CNA.
Ia juga menyebut bahwa meski China menyatakan sebaliknya, negara itu secara sengaja dan tanpa hambatan memperluas arsenal nuklirnya dalam skala besar tanpa transparansi ataupun penjelasan soal tujuan akhirnya.
Menurut penilaian AS, China diperkirakan memiliki cukup bahan fisi untuk memproduksi lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030. Washington juga memperkirakan jumlah tersebut bisa tercapai dalam empat sampai lima tahun ke depan, sementara China dinilai tengah mendekati batas 1.550 hulu ledak aktif, angka yang sebelumnya menjadi ambang maksimal bagi AS dan Rusia di bawah New START.
2. AS menuduh China lakukan uji coba tersembunyi

Selain soal pengembangan arsenal, AS turut menuding China melakukan uji coba nuklir secara diam-diam. Salah satu insiden yang disorot adalah rekaman data dari Kazakhstan yang mencatat ledakan bawah tanah bermagnitudo 2,75.
Ledakan tersebut diperkirakan memiliki kekuatan setara 10 ton bahan nuklir atau sekitar 5 ton bahan peledak konvensional, dengan asumsi detonasi terjadi sepenuhnya di batuan keras di bawah permukaan air tanah. Di sisi lain, AS juga menuduh Rusia melanggar ketentuan New START sekaligus membantu peningkatan kapasitas nuklir China.
3. China membantah tuduhan AS di forum internasional

Menanggapi tudingan itu, China langsung menyatakan penolakan tegas. Duta Besar Shen Jian dalam forum yang sama menegaskan negaranya menentang distorsi dan pencemaran berkelanjutan terhadap kebijakan nuklirnya oleh sejumlah negara serta menyatakan China tak akan terlibat dalam perlombaan senjata nuklir.
“Arsenal nuklir China tidak berada di liga yang sama dengan negara-negara yang memiliki arsenal nuklir terbesar. Tidak adil, tidak masuk akal, atau tidak realistis untuk mengharapkan China berpartisipasi dalam apa yang disebut pembicaraan trilateral,” tambahnya, dikutip dari The Guardian.
Sementara itu, Yeaw justru menilai berakhirnya New START membuka peluang bagi AS untuk mendorong kesepakatan baru yang lebih kuat dan melibatkan China.
“Justru sebaliknya yang benar. Tujuan kami adalah perjanjian yang lebih baik menuju dunia dengan lebih sedikit senjata nuklir,” katanya.
Sehari setelah perjanjian tersebut berakhir, delegasi China dan AS telah menggelar pertemuan persiapan di Washington, dengan pertemuan lanjutan yang lebih mendalam dijadwalkan berlangsung di Jenewa. Kampanye Internasional untuk Menghapus Senjata Nuklir (ICAN) mencatat Rusia dan AS masing-masing saat ini menguasai lebih dari 5 ribu senjata nuklir.





![[QUIZ] Tes Seberapa Luas Wawasan Kamu Tentang Sejarah Kenabian, Bisa Jawab?](https://image.idntimes.com/post/20250330/kusi-kisah-nabi-cover-7d0b3b2b4abad8912775212d324e6661.jpg)











