ilustrasi taman di Jakarta, Indonesia (unsplash.com/Fadhila Nurhakim)
ACE menilai negara-negara ASEAN perlu bergerak bersama menghadapi ancaman panas ekstrem. Salah satu langkah jangka pendek yang disarankan adalah membangun tempat pendinginan darurat di wilayah padat penduduk dan menyediakan lebih banyak area teduh di ruang publik. Sekolah serta fasilitas kesehatan juga disarankan memakai atap dengan teknologi pendingin pasif agar suhu ruangan lebih stabil.
Untuk jangka menengah hingga panjang, ACE mendorong perluasan hutan kota dan penambahan ruang hijau di kawasan urban. Horton juga menyarankan pemerintah memperbanyak pohon peneduh, memperbaiki desain bangunan tahan panas, serta melindungi pekerja luar ruangan dari risiko suhu ekstrem. Kalau langkah-langkah tersebut dilakukan sejak sekarang, kota-kota Asia Tenggara masih punya peluang menjadi tempat tinggal yang lebih nyaman pada masa depan.
Panas ekstrem di Asia Tenggara bukan lagi ancaman masa depan yang terasa jauh, melainkan masalah yang mulai terasa sekarang. Kenaikan suhu hampir 4°C pada 2050 bisa memengaruhi kesehatan, pekerjaan, kebutuhan listrik, hingga kenyamanan hidup sehari-hari.
Kota-kota besar di kawasan ini memang masih punya waktu untuk berbenah, tapi langkah penanganannya harus dimulai sejak sekarang. Ruang hijau, tata kota yang lebih ramah manusia, serta kebijakan perlindungan terhadap masyarakat rentan bakal jadi kunci penting menghadapi cuaca ekstrem.
Kalau gak ada perubahan serius, hidup di kota besar Asia Tenggara beberapa dekade mendatang bisa terasa jauh lebih panas dan melelahkan dibanding hari ini.