Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Taiwan Targetkan Stok Rudal Antikapal Lebih dari 1.800 Unit pada 2029
Bendera Taiwan (unsplash.com/Romeo A)
  • Taiwan menargetkan memiliki lebih dari 1.800 rudal antikapal pada 2029, termasuk Harpoon buatan AS dan Hsiung Feng produksi lokal, untuk memperkuat pertahanan maritimnya.
  • Langkah ini difokuskan mencegah pendaratan pasukan asing di wilayah laut Taiwan, dengan rudal sebagai penghalang utama terhadap potensi blokade atau invasi dari arah Selat Taiwan.
  • Pemerintah Taiwan juga mengembangkan peluncur mobile, drone udara dan laut, serta membentuk Littoral Combat Command guna menyatukan sistem radar dan kendali pertahanan pesisir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Taiwan berencana menambah jumlah rudal antikapal secara bertahap untuk memperkuat pertahanan maritimnya. Pemerintah Taiwan menargetkan ketersediaan lebih dari 1.800 unit rudal pada awal tahun 2029 guna mengantisipasi eskalasi konflik di kawasan.

Langkah strategis ini merupakan bagian dari penerapan sistem pertahanan asimetris militer Taiwan. Strategi tersebut mengandalkan penggunaan senjata presisi dalam jumlah besar untuk menyeimbangkan postur kekuatan militer di sekitar wilayah perairan Selat Taiwan.

1. Rincian penambahan stok rudal antikapal Taiwan

Ilustrasi Militer Taiwan memantau pergerakan kapal perang China di Selat Taiwan. (Cnbc.com/linjian)

Proyeksi lebih dari 1.800 unit rudal ini dihitung dari data perdagangan senjata, persetujuan ekspor Amerika Serikat, dan perkiraan para pengamat pertahanan. Pihak militer Taiwan sendiri tidak pernah mengumumkan jumlah persediaan senjatanya secara terbuka.

Jumlah perkiraan tersebut sudah mencakup 450 rudal Harpoon buatan Boeing yang saat ini telah berada di Taiwan. Angkatan Laut Taiwan juga dijadwalkan menerima tambahan 400 rudal Harpoon pada tahun ini.

Pengiriman perlengkapan militer tersebut merupakan bagian dari kesepakatan senilai 2,4 miliar dolar AS (Rp43,27 triliun) bersama Amerika Serikat pada tahun 2021. Jika seluruh pengiriman berjalan sesuai jadwal, Taiwan akan memiliki 850 rudal Harpoon pada 2029.

Selain itu, militer Taiwan diperkirakan memiliki sekitar 1.000 rudal jelajah antikapal jenis Hsiung Feng II dan Hsiung Feng III buatan dalam negeri. Gabungan dari kedua jenis rudal ini membuat total persenjataan antikapal Taiwan diproyeksikan mencapai sekitar 1.850 unit.

2. Fokus pada perlindungan wilayah laut dari pendaratan asing

Kapal militer Taiwan. (Twitter.com/MoNDefense)

Rudal Harpoon dan Hsiung Feng didesain sebagai kekuatan utama dalam menjaga keamanan laut Taiwan. Pemerintah Taiwan berfokus menciptakan pertahanan yang solid di sepanjang perairan Selat Taiwan.

"Tujuan kami adalah mencegah mereka mendarat untuk menyelesaikan misinya, bukan untuk menghancurkan setiap kapal milik angkatan laut China (PLA)," kata Wakil Kepala Eksekutif Bidang Riset Institute for National Defense and Security Research, Ou Si-fu, dilansir Daily News.

Persiapan rudal dalam jumlah besar ini menjadi respons perlindungan atas potensi pendaratan pasukan dari arah laut atau blokade jalur perairan. Terlebih lagi, China saat ini tercatat memiliki angkatan laut dengan jumlah kapal terbanyak di dunia.

Peneliti di Japan Forum for Strategic Studies, Grant Newsham, menilai langkah Taiwan berinvestasi pada pertahanan antikapal adalah keputusan operasional yang wajar.

"Rudal ini akan menjadi kendala utama bagi pasukan militer luar yang mencoba masuk ke wilayah tersebut," kata Grant Newsham.

3. Pemanfaatan peluncur mobile dan drone dalam strategi baru

Pasukan militer Taiwan. (Twitter.com/MoNDefense)

Sebagai pelengkap sistem pertahanan, rencana ini juga mengintegrasikan rudal jarak dekat untuk pertempuran di perairan dangkal. Militer Taiwan turut menyiapkan pengoperasian sekumpulan drone, baik di udara maupun di atas permukaan laut (USV).

Pemerintah Taiwan akan memaksimalkan penggunaan peluncur rudal berbasis darat yang bisa dipindah-pindah (mobile). Sistem peluncur seperti ini dinilai lebih aman karena mudah disebar dan disembunyikan untuk menghindari serangan udara.

Meski peluncur mobile ditingkatkan, sebagian rudal antikapal Taiwan saat ini masih ditempatkan di pangkalan militer tetap yang ada di darat. Posisi instalasi tetap ini dinilai lebih rentan terpantau.

"Pihak China sudah mengetahui di mana lokasi penempatan instalasi tetap tersebut," kata Purnawirawan Angkatan Laut Taiwan, Yuster Yu.

Untuk memusatkan koordinasi keamanan pesisir, Taiwan akan membentuk Littoral Combat Command pada 1 Juli mendatang. Pasukan ini bertugas menyatukan sistem radar pantai, kendali rudal antikapal, dan drone dalam satu garis komando terpadu.

"Kita harus selalu siap menghadapi potensi pertempuran jangka panjang yang dapat menguras banyak sumber daya," kata Ou Si-fu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article