Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tarik Ultimatum, Trump Tunda Serang Iran
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)
  • Donald Trump menunda serangan militer ke Iran setelah mengklaim adanya percakapan produktif antara Washington dan Teheran, menandai perubahan pendekatan dari tekanan militer ke diplomasi.
  • Sebelumnya Trump memberi ultimatum 48 jam agar Iran membuka Selat Hormuz, namun kini penundaan lima hari dianggap sebagai langkah awal menuju de-eskalasi meski situasi tetap tidak pasti.
  • Ketegangan di Selat Hormuz mengguncang ekonomi global karena potensi lonjakan harga energi, sementara keberhasilan diplomasi menjadi kunci untuk mencegah dampak konflik yang lebih luas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan penundaan serangan militer terhadap Iran. Keputusan ini muncul di tengah klaim adanya ‘percakapan produktif’ antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari terakhir.

Langkah tersebut menjadi perkembangan signifikan setelah sebelumnya Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jalur strategis itu sempat berada di bawah tekanan akibat ancaman, serangan, dan pembatasan akses yang dilakukan Iran.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump memberi sinyal perubahan pendekatan, dari tekanan militer menuju peluang diplomasi. Dia menyebut adanya pembicaraan mendalam yang membuka jalan menuju kemungkinan penyelesaian konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, situasi di kawasan masih jauh dari stabil. Penundaan serangan ini bersifat sementara dan bergantung pada hasil negosiasi yang sedang berlangsung sepanjang pekan ini.

1. Trump tunda serangan, klaim ada dialog dengan Iran

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Trump menyampaikan langsung keputusan tersebut melalui unggahan di media sosial Truth Social. Dia menegaskan, Amerika Serikat untuk sementara menahan aksi militer terhadap target energi Iran.

"Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan negara Iran, dalam dua hari terakhir, telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian total konflik kami di Timur Tengah," tulis Trump di Truth Social, dikutip dari BBC, Senin (23/3/2026).

Dia mengatakan, pendekatan ini diambil setelah melihat arah pembicaraan yang dinilai konstruktif dan mendalam. Negosiasi disebut akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

"Berdasarkan arah dan suasana dari pembicaraan yang mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan terus berlanjut sepanjang minggu, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari," lanjut dia.

Penundaan ini disebut bersifat sementara dan sangat bergantung pada keberhasilan dialog yang sedang berjalan.

2. Ultimatum 48 jam berubah jadi peluang de-eskalasi

Presiden AS, Donald Trump (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic, via Wikimedia Commons)

Sebelumnya, Trump sempat melontarkan ancaman keras terhadap Iran jika tidak membuka Selat Hormuz. Dalam ultimatum tersebut, dia menyatakan AS siap menyerang infrastruktur energi Iran.

“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu!"

Ancaman itu menandai eskalasi tajam dalam konflik yang telah memasuki pekan keempat. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Di lapangan, Iran dilaporkan masih membuka sebagian jalur pelayaran, meski dengan pembatasan tertentu. Teheran menyatakan selat tetap bisa dilalui, kecuali bagi pihak yang dianggap sebagai musuh.

Penundaan serangan selama lima hari kini dipandang sebagai celah awal menuju de-eskalasi, meski belum ada jaminan konflik akan mereda sepenuhnya.

3. Konflik memiliki dampak global parah

Infografis Selat Hormuz. (IDN Times/Sukma Shakti)

Ketegangan di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi global. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dan gas dunia.

Kenaikan harga energi dapat berimbas luas, mulai dari biaya transportasi hingga harga kebutuhan pokok. Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan bisa memicu tekanan ekonomi global dan meningkatkan risiko resesi.

Di sisi lain, konflik yang terus berlanjut juga meningkatkan risiko eskalasi militer yang lebih luas. Serangan balasan dapat menyasar infrastruktur vital, termasuk fasilitas energi dan sumber daya penting lainnya.

Penundaan serangan oleh AS menjadi momentum penting. Namun, para pengamat menilai solusi jangka panjang tetap bergantung pada keberhasilan diplomasi. Perhatian dunia kini tidak hanya tertuju pada tenggat waktu atau ancaman militer, tetapi juga pada peluang negosiasi yang dapat mencegah konflik semakin meluas dan membawa dampak yang lebih besar bagi dunia.

Editorial Team