Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Balasan Makin Ganas, Benarkah Israel Melemah Karena Remehkan Iran?

Balasan Makin Ganas, Benarkah Israel Melemah Karena Remehkan Iran?
Seorang warga melihat lokasi serangan misil Iran di Dimona, Israel, 22 Maret 2026. (AFP/John Wessels)
Intinya Sih
  • Iran melancarkan serangan rudal ke Arad dan Dimona sebagai balasan atas serangan Israel ke fasilitas nuklir Natanz, menandai eskalasi baru konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
  • Program rudal Iran mencakup berbagai jenis balistik dan jelajah dengan jangkauan hingga 2.500 kilometer, termasuk penggunaan amunisi klaster yang dikecam Amnesty International sebagai pelanggaran hukum humaniter.
  • Sistem pertahanan udara Israel gagal mencegat sebagian rudal Iran karena hulu ledak klaster menyebar banyak bom kecil, membuat pencegahan sulit dan meningkatkan dampak serangan di wilayah strategis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Rudal-rudal Iran menghantam kota Arad dan Dimona, yang berada di dekat pusat penelitian nuklir Israel. Iran menyebut, serangan itu merupakan respons atas serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Natanz di Provinsi Isfahan.

Sedikitnya 180 orang terluka dalam serangan Sabtu (21/3/2026), dan ratusan warga dievakuasi dari kota-kota strategis tersebut. Perkembangan ini menandai bahwa perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran memasuki fase baru yang lebih mematikan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya mengalami malam yang sangat sulit dalam pertempuran untuk masa depan. Kementerian Kesehatan Israel mencatat sedikitnya 4.564 orang terluka sejak perang dimulai 28 Februari.

Para analis menilai, meskipun Israel sering melancarkan operasi militer di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, dan wilayah lain, jarang sekali publik Israel merasakan dampak perang secara langsung seperti dalam tiga pekan terakhir.

Di wilayah Palestina, termasuk Gaza, pasukan Israel disebut menggunakan kekuatan tidak seimbang terhadap kelompok bersenjata yang hanya memiliki roket sederhana. Perang Israel di Gaza bahkan disebut genosida oleh sejumlah akademisi dan kelompok hak asasi manusia.

Dengan tingginya jumlah korban dalam serangan terbaru di Arad dan Dimona, muncul pertanyaan: apakah Israel meremehkan kemampuan militer Iran?

1. Senjata apa yang digunakan Iran?

Para analis pertahanan dalam artikel Al Jazeera menyebut, program rudal Iran sebagai yang terbesar dan paling beragam di Timur Tengah. Program ini meliputi rudal balistik dan jelajah yang memberi Iran jangkauan serangan luas meski tanpa angkatan udara modern.

Iran memiliki sistem rudal jarak pendek, menengah, hingga rudal jelajah jarak jauh untuk serangan darat dan anti-kapal.

Rudal balistik jarak pendek Iran memiliki jangkauan sekitar 150 hingga 800 kilometer, dan dirancang untuk target militer di kawasan sekitar serta serangan cepat regional.

Iran memiliki sistem rudal jarak pendek, menengah, hingga rudal jelajah jarak jauh untuk serangan darat dan anti-kapal. Rudal balistik jarak pendek memiliki jangkauan 150–800 km, termasuk varian Fateh Zolfaghar, Qiam-1, Shahab-1, Shahab-2.

Jangkauan yang lebih pendek justru menjadi keunggulan dalam situasi krisis karena bisa diluncurkan secara bertubi-tubi, mempersempit waktu peringatan dan menyulitkan pencegahan.

Untuk jarak menengah, Iran memiliki Shahab-3, Emad, Ghadr-1, varian Khorramshahr, dan Sejjil, serta desain terbaru seperti Kheibar Shekan dan Haj Qassem.

Sementara itu, rudal jelajah Iran meliputi Soumar, Ya-Ali, varian Quds, Hoveyzeh, Paveh, dan Ra’ad.

Rudal balistik dengan jangkauan terjauh, seperti Soumar, memiliki jangkauan hingga 2.000–2.500 kilometer. Namun, sempat dilaporkan dua rudal Iran ditembakkan ke Diego Garcia—basis militer gabungan AS-Inggris di Samudra Hindia yang berjarak sekitar 4.000 kilometer dari Iran. Inggris menyatakan serangan itu gagal, sementara pejabat Iran membantah telah meluncurkan rudal tersebut.

Pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, sempat membatasi jangkauan rudal hingga 2.200 kilometer, namun batas itu dicabut setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu.

“Iran juga telah menggunakan amunisi klaster dalam serangannya ke Israel. Setiap jenis hulu ledak yang dimiliki Iran juga menggunakan hulu ledak klaster,” kata Uzi Rubin, pendiri program pertahanan rudal Israel, kepada Media Line.

2. Apa itu amunisi klaster?

Dikutip dari Al Jazeera, Senin (23/3/2026), amunisi klaster merupakan jenis hulu ledak yang tidak hanya membawa satu bahan peledak, melainkan menyebarkan banyak bom kecil.

“Bagian ujung rudal, alih-alih berisi satu muatan besar, berisi mekanisme yang menampung banyak bom kecil. Ketika mendekati target, selubungnya terbuka, berputar, lalu bom-bom kecil itu dilepaskan ke udara dan jatuh ke darat,” jelas Rubin.

Ia menambahkan, hulu ledak klaster Iran dapat berisi 20 hingga 30 bom kecil, bahkan hingga 70 sampai 80, tergantung jenis rudalnya.

Penggunaan amunisi ini bukan hal baru bagi Iran. Dalam perang sebelumnya, Iran juga dilaporkan menggunakan senjata serupa.

Amnesty International menyebut, penggunaan amunisi klaster oleh Iran sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional. Namun, Israel juga dituduh pernah menggunakan bom klaster di Lebanon.

Amunisi klaster sendiri telah dilarang sejak 2008 melalui Konvensi Amunisi Klaster, meskipun baik Iran maupun Israel bukan penandatangan perjanjian tersebut.

3. Mengapa dampaknya terasa sekarang?

Juru bicara militer Israel mengatakan sistem pertahanan udara mereka gagal mencegat sebagian rudal Iran yang menghantam Arad dan Dimona, meski telah diaktifkan. Ia menyebut senjata Iran tidak ‘istimewa atau asing’ dan penyelidikan masih berlangsung.

Lalu mengapa amunisi ini baru terasa dampaknya sekarang? Salah satu alasannya adalah cara kerja hulu ledak klaster.

Agar bisa dicegat, rudal harus dihancurkan sebelum melepaskan bom-bom kecilnya. Setelah terbuka, satu rudal berubah menjadi banyak titik serangan, sehingga jauh lebih sulit dihentikan.

Media Israel juga melaporkan, angkatan udara negara itu mulai menghemat penggunaan interceptor. Pejabat militer menilai bom klaster mungkin tidak menimbulkan dampak besar jika warga sudah berlindung, sehingga tidak semua rudal akan dicegat.

4. Selanjutnya, apa yang terjadi?

Pada fase berikutnya, Iran, Amerika Serikat, dan Israel diperkirakan akan terus menargetkan infrastruktur penting. AS dan Israel dilaporkan menyerang fasilitas nuklir Natanz pada Sabtu, salah satu pusat pengayaan uranium utama Iran yang terletak sekitar 220 kilometer tenggara Teheran.

Sebagai balasan, Iran menyerang Arad dan Dimona, lokasi fasilitas nuklir utama Israel.

Israel sebelumnya juga menyerang fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran, menyebabkan asap beracun besar di ibu kota Iran. Sementara itu, AS pernah menyerang Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, dan mengancam akan melakukannya kembali.

Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dunia, serta menargetkan pangkalan militer dan infrastruktur energi di negara-negara Teluk.

Presiden AS Donald Trump menuntut agar selat tersebut dibuka kembali dan mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran jika tidak dipatuhi.

“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam waktu 48 jam sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar lebih dulu!” tulis Trump di Truth Social.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Latest in News

See More