Jakarta, IDN Times - Thailand akan menggelar pemilihan umum pada Minggu, (8/2/2026). Pemilu kali ini berpotensi melahirkan perdana menteri keempat dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun. Situasi ini mencerminkan ketidakstabilan politik yang masih membayangi negeri tersebut.
Namun di tengah dinamika politik domestik yang berulang, muncul satu perubahan penting dalam kontestasi kali ini. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan luar negeri mulai menempati posisi sentral dalam perdebatan nasional.
Pemilu kali ini berlangsung di tengah kebuntuan politik, perlambatan ekonomi, serta tekanan eksternal yang semakin besar, mulai dari ketegangan perbatasan dengan Kamboja hingga maraknya kejahatan siber lintas negara.
Karena itu, pemungutan suara pada akhir pekan ini tak lagi semata dipandang sebagai penentu arah politik domestik Thailand, tetapi juga sebagai ujian kemampuan negara tersebut dalam menavigasi lanskap global yang terus berubah.
