Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
twitter.com/KTVUGANDA
twitter.com/KTVUGANDA

Washington, IDN Times - Beberapa waktu lalu, Korea Utara mengungkapkan sikap ragu akan pertemuannya dengan pihak pemerintah Amerika Serikat, yang akan digelar pada tanggal 12 Juni 2018. Namun, Donald Trump justru mengeluarkan sikap ancaman kepada Kim Jong Un agar tidak terjadi seperti pemimpin Libya saat itu, Muammar Khadafi, yang justru digulingkan pemberontak.

1. Trump meyakinkan Korea Utara tidak mengalami pergantian rezim

twitter.com/atvpakistan

Donald Trump meyakinkan Kim Jong Un supaya pertemuan yang akan digelar pada bulan Juni 2018 ini berlangsung sangat aman dan tak terganggu sama sekali. Namun, jika tidak sepakat dalam denuklirisasi, maka nasib Kim Jong Un akan sama seperti yang dialami oleh pemimpin Libya saat itu, Muammar Khadafi.

"Model seperti itu akan terjadi jika tidak adanya kesepakatan," ungkap Trump dalam penegasannya, seperti yang dikutip dari Independent.co.uk.

Komentar Trump sendiri muncul setelah mendengar Korea Utara akan membatalkan pertemuan bersejarah kedua negara ini. Namun, beberapa pengamat internasional sebelumnya menyarankan Korea Utara sebaiknya kembali ke diplomasi yang telah dilakukan sebelumnya.

Korea Utara secara tegas menolak segala bantuan yang diberikan oleh Amerika Serikat sebagai pertukaran, dalam menyerahkan berbagai senjata nuklir yang dibuatnya kepada Amerika Serikat.

2. Pihak Korea Utara merasa kecewa dengan adanya latihan bersama Amerika Serikat-Korea Selatan

twitter.com/CynthiaPirl

Pihak Korea Utara sendiri kecewa dengan adanya latihan bersama antara Korea Selatan dan Amerika Serikat. Oleh karena itu, Korea Utara beberapa hari lalu menunda pembicaraan dengan Korea Selatan sampai masalah kedua negara Korea ini diselesaikan.

Ketua negosiator, Ri Son Gwon, menilai pihak Korea Selatan tidak kompeten dan tidak masuk akal dalam komentar yang dilaporkan oleh kantor berita setempat. Pihaknya juga mengkritik keras dengan membiarkan pembelot Korea Utara untuk berbicara di depan Majelis Nasional Seoul, dilansir dari Theguardian.com.

3. Hubungan masalah Libya dengan Korea Utara

twitter.com/CagedSubversiv

Seperti yang diketahui, Muammar Khadafi, pemimpin Libya, pada saat itu sepakat dengan menyerahkan program senjata pemusnah massal milik negaranya dalam sebuah pengumuman, yang mengejutkan dunia ketika itu.

Sebagian besar sanksi yang diberikan oleh Amerika Serikat kepada Libya telah dicabut dan hubungan diplomatik antara beberapa negara telah dipulihkan, dilansir dari Washingtonpost.com. Sayangnya, pada tahun 2011, pemimpin Libya itu tewas di tangan pemberontak oleh milisi yang didukung NATO. Ia langsung ditangkap dan dibunuh oleh pasukan pemberontak.

Editorial Team