Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi gajah menyebrang sungai (pexels.com/Harvey Sapir)
ilustrasi gajah menyebrang sungai (pexels.com/Harvey Sapir)

Intinya sih...

  • Otoritas meningkatkan status siaga dan membatasi aktivitas warga di wilayah terdampak, terutama Distrik Chaibasa yang kini ditetapkan dalam status siaga tinggi.

  • Rentetan serangan terjadi di kawasan hutan dan lahan pertanian, dengan pola serangan oleh gajah tunggal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

  • Pakar menyoroti fase musth pada gajah tersebut, yang diyakini membuat perilaku hewan menjadi jauh lebih berbahaya, serta meningkatnya konflik antara manusia dan gajah di India.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Petugas kehutanan India tengah melakukan pengejaran intensif terhadap seekor gajah jantan bertanduk tunggal yang telah menewaskan setidaknya 22 orang sejak awal tahun di sejumlah desa di Jharkhand bagian timur.

Sebagian besar serangan berlangsung pada malam hari, saat hewan tersebut memasuki permukiman kecil di Distrik Singhbhum Barat, dengan korban pertama seorang pria berusia 35 tahun di Desa Bandijhari pada 1 Januari 2026.

Seiring berjalannya waktu, jumlah korban terus bertambah akibat diinjak atau mengalami luka berat, termasuk satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan dua anak kecil, serta seorang pegawai Departemen Kehutanan. Kecepatan pergerakan gajah yang mencapai hampir 30 kilometer per hari membuat proses pelacakan sangat rumit, sehingga lebih dari 100 personel kehutanan dikerahkan penuh untuk operasi ini.

1. Otoritas menaikkan status siaga dan membatasi aktivitas warga

ilustrasi gajah adalah hewan yang berkelompok (pexels.com/Pixabay)

Wilayah terdampak, terutama Distrik Chaibasa yang menjadi lokasi terakhir terpantau, kini ditetapkan dalam status siaga tinggi. Warga setempat diminta menjauhi kawasan hutan dan tetap berada di dalam rumah ketika malam tiba demi keselamatan.

Petugas Kehutanan Divisi Distrik Chaibasa, Aditya Narayan, menyampaikan bahwa timnya menduga gajah jantan muda tersebut terpisah dari kelompoknya sehingga menunjukkan perilaku sangat agresif. Ia juga menjelaskan bahwa upaya untuk menenangkan hewan itu sudah dilakukan sebanyak tiga kali, namun seluruhnya belum membuahkan hasil.

“Tim kami berada dalam siaga tinggi, dan upaya untuk menenangkannya akan dilanjutkan. Warga desa telah diperingatkan secara tegas untuk tidak memasuki hutan dan tetap waspada,” katanya kepada media lokal, dikutip dari The Guardian.

2. Rentetan serangan terjadi di kawasan hutan dan lahan pertanian

ilustrasi gajah makan tanaman liar (pexels.com/Steward Masweneng)

Dilansir dari The Independet, serangan umumnya terjadi menjelang tengah malam di tepi hutan yang berdekatan dengan area pertanian, saat warga berjaga melindungi panen padi di ladang maupun lumbung. Dalam beberapa hari terakhir tak ada laporan korban baru, dan keberadaan gajah tersebut masih belum terdeteksi karena tidak ada insiden lanjutan.

Narayan menilai pergerakan hewan itu sangat sulit diprediksi dan menyebut pola serangan oleh gajah tunggal seperti ini sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

3. Pakar menyoroti fase musth dan konflik manusia-gajah

ilustrasi gajah (pexels.com/Harvey Sapir)

Sejumlah pakar menduga gajah tersebut telah memasuki fase musth, yakni periode pada gajah jantan yang ditandai peningkatan agresivitas serta lonjakan hormon reproduksi. Kondisi ini diyakini membuat perilaku hewan menjadi jauh lebih berbahaya.

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya konflik antara manusia dan gajah di India yang kian sering berujung fatal. Deforestasi yang meluas, keterbatasan sumber makanan dan air, serta bertambahnya permukiman di jalur migrasi lama disebut menjadi pemicu utama.

Sekitar 10 persen koridor gajah, yaitu jalur migrasi yang dahulu aman, kini telah hilang sepenuhnya. Dalam lima tahun terakhir, lebih dari 2.800 orang di India meninggal akibat bentrokan dengan gajah, sementara di Jharkhand hampir 1.300 korban jiwa tercatat dalam kurun 23 tahun terakhir berdasarkan studi terbaru Wildlife Institute of India.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team