Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 2017 (U.S. Embassy Tel Aviv, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)
Baru-baru ini, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa Washington memiliki persediaan amunisi yang hampir tidak terbatas. Menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional, selama konflik 12 hari dengan Iran pada Juni 2025, AS menembakkan lebih dari 150 pencegat THAAD atau sekitar seperempat dari seluruh persediaan AS pada saat itu. Pada hari-hari pertama perang saat ini, Washington dilaporkan menggunakan pencegat Patriot senilai 2,4 miliar dolar AS (sekitar Rp40,7 triliun).
Dilansir dari DW, meski para analis sepakat bahwa AS kemungkinan besar tidak akan kehabisan senjata dalam perang di Iran, mereka menilai konflik yang berkepanjangan berisiko membatasi pilihan AS di tahun-tahun mendatang, baik terkait kawasan Indo-Pasifik, Eropa, maupun Timur Tengah.
Kekhawatiran serupa juga pernah diungkapkan oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.
“Ada kekhawatiran jika terjadi perang berkepanjangan, AS akan mengurangi pasokan sistem pertahanan udara dan rudal pertahanan udara ke Ukraina,” kata Zelenskyy kepada lembaga penyiaran nasional Italia RAI.
Mantan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, juga menyampaikan peringatan serupa dalam wawancaranya dengan Bloomberg. Ia mengatakan bahwa operasi militer berkelanjutan di Iran dapat membuat AS rentan terhadap ancaman dari Rusia dan China.