Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka
Presiden AS Donald Trump (Gage Skidmore, CC BY-SA 2.0 , via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi dan transportasi Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka, sambil menegaskan batas waktu 48 jam untuk kesepakatan.
  • Oman dan Iran melakukan pembicaraan diplomatik guna memastikan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, termasuk rencana penyusunan protokol pemantauan bersama setelah konflik mereda.
  • Pakar menilai eskalasi perang AS-Iran berpotensi memicu kekacauan besar di Timur Tengah, sehingga negosiasi dianggap penting meski peluang solusi diplomatik masih sangat sempit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali mendesak Iran untuk membuka Selat Hormuz, dengan mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi dan transportasi negara itu. Ancamannya kali ini sarat dengan kata-kata kasar dan sumpah serapah.

“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya jadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat itu sekarang juga, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup dalam neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP," tulis Trump di platform Truth Social pada Minggu (5/4/2026).

Dalam pernyataannya kepada jurnalis Fox News, Trump mengatakan dirinya yakin bahwa AS kemungkinan besar mencapai kesepakatan dengan Iran pada Senin (6/4/2026).

“Mereka sedang bernegosiasi sekarang. Jika mereka tidak segera mencapai kesepakatan, saya mempertimbangkan untuk menghancurkan semuanya dan mengambil alih minyak," ujarnya.

1. Trump telah beberapa kali lontarkan ancaman terhadap Iran

selat Hormuz (Goran_tek-en, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Selat Hormuz, yang merupakan jalur transportasi krusial bagi sebagian besar pasokan energi dunia, ditutup oleh Iran tak lama setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara itu pada 28 Februari 2026. Hanya beberapa kapal yang diizinkan lewat, termasuk kapal-kapal Pakistan, Prancis, dan Turki, sementara sekitar 3 ribu lainnya masih terdampar.

Gangguan ini menyebabkan ketidakstabilan di pasar energi dan mendorong negara-negara pengimpor minyak dan gas untuk mencari pasokan alternatif.

Meski AS terlibat dalam perundingan tidak langsung dengan Iran melalui Pakistan, Trump berulang kali mengancam Iran dengan tindakan keras jika selat tersebut tidak segera dibuka. Pada Sabtu (4/4/2026), ia memperingatkan bahwa Teheran hanya memiliki waktu 48 jam untuk mencapai kesepakatan atau akan menghadapi konsekuensi serius.

2. Oman dan Iran diskusi soal kelancaran pelayaran di Selat Hormuz

bendera Oman (unsplash.com/ahmed nasser)

Pada Minggu, Oman mengatakan pihaknya telah mengadakan pembicaraan dengan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Pertemuan yang digelar pada Sabtu itu dihadiri oleh pejabat dari kementerian luar negeri kedua negara.

“Berbagai opsi dibahas terkait upaya memastikan kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz dalam situasi yang terjadi di kawasan tersebut," kata Kementerian Luar Negeri Oman dalam pernyataan di X.

Perkembangan ini terjadi setelah pejabat Iran, pada Kamis (2/4/2026), mengatakan bahwa Teheran sedang menyusun protokol bersama Muscat untuk memantau lalu lintas di selat tersebut. Menurut kantor berita IRNA, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan kepada media Rusia bahwa protokol itu akan berlaku setelah perang dengan AS dan Israel berakhir, dikutip dari MEE.

3. Eskalasi perang bisa picu kekacauan besar di Timur Tengah

serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran, dalam perang pada Juni 2025 (Mehr News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir dari Al Jazeera, Amin Saikal, profesor emeritus di Australian National University, mengatakan perang yang meluas dapat menjerumuskan seluruh kawasan Timur Tengah ke dalam kekacauan parah. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya negosiasi untuk mencari penyelesaian.

“Namun saat ini, pintu untuk solusi diplomatik tampaknya sangat sempit, kecuali Presiden Trump memutuskan bahwa konflik ini telah menimbulkan begitu banyak masalah bagi dirinya secara domestik maupun internasional, sehingga memang sudah saatnya mencapai kompromi dengan Iran,” papar Saikal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team