Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Buka Opsi Kirim Pasukan Darat AS ke Iran Jika Dibutuhkan
potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (whitehouse.gov)
  • Presiden AS Donald Trump membuka opsi pengerahan pasukan darat ke Iran jika situasi menuntut, setelah operasi udara besar Operation Epic Fury menewaskan puluhan tokoh penting Iran.
  • Pentagon memastikan belum ada pasukan AS yang masuk ke wilayah Iran dan menegaskan komitmen untuk menghindari keterlibatan militer jangka panjang seperti konflik sebelumnya.
  • Trump menyebut operasi dilakukan setelah koordinasi dengan Israel, dipicu kegagalan perundingan di Jenewa serta temuan intelijen soal aktivitas pengayaan nuklir baru oleh Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (2/3/2026) menyatakan tetap membuka peluang pengerahan pasukan darat ke Iran apabila situasi menuntut. Sementara itu, operasi militer bertajuk Operation Epic Fury telah dimulai sejak Sabtu (28/2/2026) melalui rangkaian serangan udara besar yang melibatkan rudal dan bom.

Dalam 24 jam pertama, operasi tersebut diklaim menewaskan 49 tokoh senior militer dan politik Iran, padahal target serupa sebelumnya diperkirakan baru tercapai dalam waktu sedikitnya empat minggu. Kepada CNN, Trump memperingatkan bahwa serangan yang lebih dahsyat masih akan digelar.

“Kami bahkan belum mulai menghantam mereka dengan keras. Gelombang besar itu belum terjadi. Yang besar itu akan datang segera,” katanya, dikutip dari CNA.

1. Trump tegaskan operasi militer berjalan lebih cepat

potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (whitehouse.gov)

Dalam wawancara dengan New York Post, Trump menjelaskan sikapnya terkait kemungkinan pengerahan pasukan darat dan menegaskan ia tak ingin terikat pada pernyataan penolakan mutlak seperti yang kerap disampaikan presiden sebelumnya. Ia menyatakan tak pernah mengatakan tidak akan ada “boots on the ground (pengerahan langsung pasukan militer ke wilayah konflik)”, melainkan hanya menyebut kemungkinan itu bisa saja tak diperlukan atau dilakukan bila memang dibutuhkan.

Ia kemudian menyoroti percepatan jalannya operasi dibanding perhitungan awal.

“Ini akan berjalan cukup cepat. Kami tepat pada jadwal, jauh di depan jadwal dalam hal kepemimpinan — 49 tewas — dan itu, Anda tahu, akan memakan waktu, kami perkirakan, setidaknya empat minggu, dan kami melakukannya dalam satu hari,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai potensi serangan balasan Iran berupa aksi teror di wilayah AS, Trump memberikan jawaban tegas.

“Kami akan menghabisinya. Apa pun itu. Sama seperti segala hal lainnya, kami akan menghabisinya,” jawabnya.

2. Pentagon pastikan belum ada pasukan masuk Iran

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth (U.S. Department of Defense, Public domain, via Wikimedia Commons)

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon menyampaikan bahwa hingga kini belum ada prajurit AS yang dikerahkan ke dalam wilayah Iran. Ia menekankan komitmen pemerintah untuk bertindak sejauh yang diperlukan tanpa mengulangi keterlibatan militer jangka panjang seperti masa lalu.

“Presiden Trump memastikan musuh kami memahami bahwa kami akan melangkah sejauh yang diperlukan untuk memajukan kepentingan Amerika. Tapi kami tidak bodoh soal ini. Anda tidak perlu mengirim 200 ribu orang ke sana dan tinggal selama 20 tahun,” tambahnya.

3. Trump sebut serangan didahului koordinasi Israel

ilustrasi bendera Israel dan Amerika Serikat (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Trump mengatakan operasi tersebut dilakukan setelah berkoordinasi dengan Israel dan diputuskan menyusul kegagalan perundingan serius di Jenewa yang tak membuahkan hasil. Selain itu, intelijen terbaru menemukan Iran kembali menjalankan aktivitas pengayaan nuklir secara diam-diam di lokasi baru setelah fasilitas sebelumnya dihancurkan.

Trump memaparkan bahwa negosiasi yang berlangsung sangat serius sempat mencapai tahap tertentu, akan tetapi pihak Iran kembali mundur seperti yang menurutnya kerap terjadi dalam proses kesepakatan. Trump menyebut pola tersebut membuat kesepakatan sulit tercapai karena pada akhirnya mereka akan kembali menarik diri, dan ia menilai Iran ingin membuat senjata nuklir sehingga AS memutuskan untuk menghancurkan mereka sepenuhnya.

Dilansir New York Post, Trump menyebut temuan intelijen mengenai lokasi baru tersebut menjadi pertimbangan lanjutan.

“Dia menambahkan bahwa kami menemukan mereka berada di lokasi yang benar-benar berbeda — benar-benar berbeda — karena lokasi yang kami hancurkan sudah [hancur]. Mereka mencoba menggunakannya, tapi mereka benar-benar, seperti yang saya katakan dengan benar sebelumnya, dihancurkan total, benar? Jadi kemudian kami menemukan mereka bekerja di area yang benar-benar berbeda, lokasi yang benar-benar berbeda, untuk membuat senjata nuklir melalui pengayaan — jadi sudah waktunya. Saya bilang, ‘Ayo kita lakukan,” katanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team