Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Presiden AS, Donald Trump.
Presiden AS, Donald Trump. (The White House from Washington, DC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Trump mencabut ancaman tarif ke Eropa

  • Kesepakatan dengan NATO terkait Greenland dan Arktik disepakati

  • Persoalan kepemilikan Greenland masih abu-abu, tidak melibatkan perwakilan Greenland, dan Trump tak akan gunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan tidak akan melanjutkan rencana pemberlakuan tarif yang diancamnya ke sejumlah negara Eropa. Keputusan itu diumumkan usai Trump dan Sekjen NATO, Mark Rutte, menyepakati kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan Arktik di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada Rabu (21/1/2026).

"Solusi ini, jika terwujud, akan menjadi solusi yang bagus untuk AS, dan semua negara NATO. Berdasarkan pemahaman ini, saya tidak akan memberlakukan tarif yang dijadwalkan akan berlaku pada 1 Februari," tulis Trump di media sosial.

Sebagai informasi, Trump pada pekan lalu mengumumkan tarif baru sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa yang mulai berlaku bulan depan. Pemimpin AS itu mengatakan tarif tersebut kemudian akan dinaikkan menjadi 25 persen hingga Washington berhasil membeli Greenland.

"Kami memiliki konsep kesepakatan. Saya pikir ini akan menjadi kesepakatan yang sangat baik bagi AS, juga bagi mereka, dan kita akan bekerja sama dalam sesuatu yang berkaitan dengan Arktik secara keseluruhan, tetapi juga Greenland, dan itu berkaitan dengan keamanan, keamanan yang hebat, keamanan yang kuat, dan hal-hal lainnya," ungkap Trump, dikutip dari ABC News.

1. Persoalan kepemilikan Greenland masih menjadi abu-abu

Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang kerangka kerja untuk Greenland. Ketika didesak tentang apakah kepemilikan AS atas Greenland terlibat, Trump mengatakan belum ingin mengatakannya dan menyebut persoalan tersebut kompleks.

"Ini adalah kesepakatan jangka panjang yang utama, dan saya pikir ini menempatkan semua orang pada posisi yang sangat baik, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan mineral dan segalanya," kata Trump.

Rutte mengatakan, diskusi dengan Trump berfokus pada keamanan Arktik. Dia mengaku persoalan terkait kepemilikan AS atas Greenland tidak muncul dalam pembicaraannya dengan Trump. Rutte memperingatkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di antara pihak-pihak yang terlibat dalam perselisihan mengenai kendali atas wilayah semi otonom tersebut.

"Bagaimana kita secara kolektif dapat memastikan bahwa kita mempertahankan wilayah Arktik itu, sehingga menerapkan visinya tentang kebutuhan itu, dan dia benar sekali, karena kita tahu bahwa wilayah itu semakin terbuka. Jalur laut semakin terbuka bagi Rusia, China, dan musuh-musuh lainnya untuk aktif di sana, yang berpotensi menjadi ancaman," kata Rutte.

2. Kesepakatan Trump-Rutte tidak melibatkan perwakilan Greenland

Anggota parlemen Denmark asal Greenland, Aaja Chemnitz Larsen, mengatakan bahwa meskipun Trump mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan NATO, aliansi militer tersebut tidak memiliki mandat untuk menegosiasikan apa pun tentang wilayah semi otonom Denmark. Dirinya menyoroti dialog kedua pemimpin yang tidak melibatkan Greenland.

"Saya telah mendengar dari orang-orang Greenland yang saya kenal, dan dia sangat jelas bahwa ini bukan hak prerogatif Rutte dan NATO, mereka tidak dapat memperdagangkan gerakan bawah tanah di Greenland, atau keamanan Greenland tanpa melibatkan orang-orang Greenland," kata anggota parlemen Denmark, Sascha Faxe, melansir The Guardian.

"Dan mereka sangat jelas, Greenland tidak untuk dijual, mereka tidak siap untuk negosiasi. Jadi ini bukan negosiasi sungguhan, ini hanya percakapan antara dua orang. Ini jelas bukan kesepakatan," sambungnya.

3. Trump tak akan gunakan kekuatan militer untuk kuasai Greenland

Saat berbicara di WEF, Trump mengesampingkan penggunaan kekuatan militer untuk menguasai Greenland. Meski demikian, pemimpin AS itu berpendapat bahwa tidak ada negara lain yang dapat membela wilayah semi otonom Denmark itu selain AS. Trump mengatakan dirinya menginginkan negosiasi secepatnya mengenai persoalan tersebut.

"Orang-orang mengira saya akan menggunakan kekuatan. Saya tidak perlu menggunakan kekuatan. Saya tidak ingin menggunakan kekuatan. Saya tidak akan menggunakan kekuatan. (Trump) mencari negosiasi segera untuk sekali lagi membahas akuisisi Greenland," kata Trump, dilaporkan Al Jazeera.

"Kita membutuhkannya untuk keamanan nasional strategis dan keamanan internasional. Pulau yang sangat besar dan tidak aman ini sebenarnya adalah bagian dari Amerika Utara. Itu adalah wilayah kita," tambahnya.

Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, menyambut baik pengumuman Trump. Meski begitu, Rasmussen menegaskan kembali bahwa kedaulatan Kopenhagen atas Greenland adalah garis merah, yang tidak boleh dilewati.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team