potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Operasi militer bersandi "Operation Epic Fury" telah berlangsung selama hampir satu bulan dengan intensitas serangan tinggi terhadap infrastruktur militer Iran. Sejak dimulai pada 28 Februari 2026, AS dan sekutunya mengklaim telah menghancurkan sekitar 90 persen kemampuan rudal balistik dan pesawat tanpa awak (drone) milik Iran.
"Kami percaya bahwa kami telah menyelamatkan seluruh Timur Tengah, bukan hanya Israel. Hal ini terbukti dari banyaknya serangan roket yang sering menargetkan Arab Saudi," kata Trump, dilansir Hindustan Times.
Laporan Departemen Perang AS menunjukkan lebih dari 140 kapal perang Iran telah dihancurkan dalam waktu singkat untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan dunia. Trump menekankan penggunaan senjata canggih untuk melumpuhkan pusat komando dan fasilitas produksi rudal bawah tanah milik Iran.
"Selama 47 tahun, Iran dikenal sebagai pengganggu di Timur Tengah, tapi itu sudah berakhir. Sekarang mereka sedang melarikan diri dan hancur lebur," kata Trump.
Meskipun operasi militer terus berlanjut, Trump memberikan jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran hingga 6 April 2026 sebagai bentuk itikad baik dalam proses negosiasi. Di sisi lain, Trump juga mengkritik negara-negara NATO yang dinilai kurang berkontribusi dalam menjaga keamanan energi di Selat Hormuz, sembari memuji negara-negara Teluk yang dianggap lebih signifikan dalam menghadapi ancaman Iran.