Timur Tengah Memanas, Waspada Lonjakan Harga Avtur!

- Konflik di Timur Tengah memicu krisis pasokan bahan bakar, termasuk avtur, yang menjadi ancaman serius bagi stabilitas industri penerbangan global.
- Gatot Rahardjo menekankan pentingnya efisiensi operasional maskapai serta dukungan kebijakan pemerintah agar industri tetap bertahan di tengah tekanan biaya tinggi.
- Harga avtur diperkirakan naik mulai 1 April, sehingga diperlukan sinergi antara regulator dan pelaku industri untuk menjaga keseimbangan bisnis dan tarif penerbangan.
Jakarta, IDN Times - Krisis bahan bakar, termasuk avtur di sejumlah negara menjadi peringatan bagi industri penerbangan akan dampak dari konflik di Timur Tengah.
Selain pasokan, pengamat penerbangan, Gatot Rahardjo juga mengingatkan potensi lonjakan harga avtur.
1. Efisiensi operasional harus dilakukan

Di tengah kondisi itu, Gatot mengatakan maskapai perlu meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan efisiensi operasional yang adaptif dan berkelanjutan.
Maskapai nasional negara tetangga Indonesia, Vietnam Airlines misalnya, telah mengumumkan untuk memangkas jumlah penerbangan domestik akibat terbatasnya pasokan avtur.
2. Perlu respons kebijakan pemerintah

Namun, menurut Gatot, upaya efisiensi semata tidak akan cukup tanpa dukungan kebijakan yang responsif dari regulator. Menurutnya, industri saat ini tengah berada dalam fase rentan, di mana sebagian maskapai masih mencatatkan kinerja keuangan yang tertekan sepanjang 2025.
Kondisi tersebut berpotensi memicu efek domino apabila tekanan biaya khususnya dari avtur tidak diantisipasi secara komprehensif.
“Efisiensi operasional memang menjadi keharusan, namun dukungan regulator juga sangat krusial agar industri tetap memiliki ruang untuk bertahan dan tumbuh. Tanpa itu, risiko tekanan lanjutan terhadap kinerja maskapai akan semakin besar,” ujar Gatot dalam keterangannya.
3. Harga avtur diprediksi naik bulan depan

Dia juga mengingatkan agar maskapai tidak terlena dengan adanya penyesuaian harga avtur domestik selama periode Lebaran. Mulai 1 April mendatang, harga bahan bakar diproyeksikan kembali meningkat mengikuti tren global.
Lebih lanjut, pengamat menilai diperlukan sinergi antara pelaku industri dan regulator, termasuk dalam menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis maskapai dan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.
Tanpa langkah antisipatif yang terkoordinasi, kenaikan harga avtur dikhawatirkan akan berdampak lebih luas terhadap stabilitas industri penerbangan nasional.

















