Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Disebut Bakal Perpanjang Blokade Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di Gedung Putih, Washington D.C. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Donald Trump dikabarkan memerintahkan perpanjangan blokade Selat Hormuz tanpa batas waktu, dengan Angkatan Laut AS siap melaksanakan operasi tersebut.
  • Iran dan AS sama-sama memblokade Selat Hormuz, menyebabkan lonjakan harga minyak hingga enam persen akibat terganggunya jalur perdagangan internasional.
  • Iran mengirim proposal perdamaian melalui Pakistan untuk membuka kembali Selat Hormuz, namun Trump menolak karena tidak mencakup penghentian program senjata nuklir Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan akan memperpanjang blokade Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Kabar itu termuat dalam laporan Wall Street Journal (WSJ) yang dirilis pada Selasa (28/4/2026).

Menurut laporan WSJ, Trump saat ini sudah menginstruksikan para jajarannya menyiapkan operasi untuk memperpanjang blokade Selat Hormuz. Angkatan laut AS dikabarkan juga sudah siap untuk mengeksekusi operasi tersebut.

1. Trump menyebut Iran memintanya untuk berhenti memblokade Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menghadiri KTT G7 di Kanada pada 2018. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Rencana perpanjangan blokade Selat Hormuz ini menandakan bahwa Trump secara tidak langsung sudah menolak permintaan Iran. Sebab, sebelum kabar tadi mencuat, Trump menyebut Iran telah memintanya untuk segera menghentikan blokade terhadap Selat Hormuz. 

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan, kondisi ekonomi Iran kini sedang kolaps karena tidak bisa melakukan aktivitas perdagangan internasional imbas blokade Selat Hormuz. Oleh karena itu, ia menyebut Iran ingin selat tersebut dibuka lagi agar aktivitas perdagangan kembali normal.

“Iran baru saja memberi tahu kita bahwa mereka berada dalam keadaan yang sangat buruk. Mereka ingin kita membuka Selat Hormuz sesegera mungkin. Sementara itu, mereka mencoba mencari solusi untuk situasi kepemimpinan mereka yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!” ujar Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social

2. Iran juga masih memblokade Selat Hormuz

Warga sedang melakukan aksi demonstrasi terkait perang Iran (unsplash.com/Craig Melville)

Sebenarnya, Iran saat ini juga masih memblokade Selat Hormuz. Mereka mulai memblokade Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Oleh karena itu, AS dan Iran kini sama-sama memegang kendali di selat tersebut. 

Pada 17 April, Iran sebetulnya sudah bersedia membuka kembali Selat Hormuz secara penuh karena AS sepakat menyetujui gencatan senjata. Namun, Iran kini memutuskan untuk kembali menutup selat tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes Iran karena AS tetap memblokade semua pelabuhan miliknya meski sudah ada gencatan senjata.

Blokade Selat Hormuz ini lantas membuat harga minyak beberapa waktu lalu sempat meroket sebesar enam persen. Padahal, sebelumnya, harga minyak sempat turun drastis hingga lebih dari sepuluh persen karena Iran bersedia membuka Selat Hormuz. 

3. Iran sudah bersedia membuka Selat Hormuz

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Kendati begitu, Iran kini dikabarkan sudah bersedia untuk kembali membuka Selat Hormuz. Kesediaan tersebut tertuang di dalam proposal perdamaian baru yang dikirim ke AS lewat Pakistan pada Minggu (26/4/2026).  

Dalam proposal itu, Iran menyatakan bersedia untuk membuka kembali Selat Hormuz agar aktivitas perdagangan global kembali normal. Namun, sebagai gantinya, Iran meminta AS untuk menghentikan blokade terhadap semua pelabuhan mereka.

Proposal perdamaian baru dari Iran juga sudah diterima oleh Trump. Sayangnya, menurut seorang pejabat AS, Trump tidak puas dengan proposal tersebut. Sebab, proposal itu tidak berbicara soal penghentian program senjata nuklir milik Iran. Menurut pejabat tersebut, Trump lebih suka Iran menghentikan program senjata nuklirnya jika ingin berdamai dengan AS. 

“Ia (Donald Trump) tidak senang dengan proposal tersebut,” ujar pejabat tersebut, seperti dilansir Jerusalem Post.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team