Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Janji Kawal Kapal Sipil Keluar dari Selat Hormuz
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
  • Donald Trump meluncurkan Project Freedom untuk mengevakuasi kapal sipil yang terjebak di Selat Hormuz, menyebutnya sebagai misi kemanusiaan atas permintaan sejumlah negara netral.
  • Trump menegaskan militer AS siap bertindak tegas jika operasi terganggu, namun tetap membuka ruang dialog dengan Iran demi meredakan ketegangan kawasan.
  • Blokade Iran di Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi global dan menciptakan ketidakpastian ekonomi, sementara detail pelaksanaan Project Freedom masih belum sepenuhnya jelas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketegangan di Selat Hormuz memasuki babak baru. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, baru saja mengumumkan sebuah misi khusus bertajuk Project Freedom pada Minggu (3/5/2026). Operasi ini dirancang untuk membebaskan kapal-kapal kargo sipil yang terjebak di tengah pusaran konflik antara AS dan Iran.

Trump menegaskan bahwa langkah ini merupakan misi kemanusiaan yang diambil setelah pihaknya menerima permohonan bantuan dari sejumlah negara netral. Melalui misi ini, kapal-kapal sipil yang terjebak diharapkan dapat kembali melintas dengan aman untuk melanjutkan aktivitas perdagangan mereka.

“Untuk kebaikan Iran, Timur Tengah, dan AS, kami telah memberitahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka keluar dengan aman dari Perairan Terbatas ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka,” ujar Trump terkait urgensi operasi tersebut, dikutip CNBC.

1. Trump soroti kondisi awak kapal

ilustrasi kapal kontainer (pexels.com/Georg Wietschorke)

Situasi di Selat Hormuz berdampak langsung pada kondisi para awak kapal. Trump menyoroti kondisi para awak kapal yang kian memprihatinkan karena mulai kehabisan stok makanan dan kebutuhan pokok lainnya akibat tertahan terlalu lama.

Menurut Trump, operasi ini dijalankan demi membantu individu, perusahaan, dan negara-negara yang sebenarnya tidak bersalah namun ikut terjepit dalam konflik. Ia mengklaim aksi ini dilakukan atas nama kepentingan AS, negara-negara di kawasan Timur Tengah, bahkan Iran sendiri, karena semua pihak terdampak secara ekonomi maupun kemanusiaan oleh situasi ini.

2. Trump peringatkan gangguan operasi

Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Meski dibungkus dengan narasi kemanusiaan, Trump tetap memberikan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa militer AS tidak akan tinggal diam jika ada pihak yang berani mengusik jalannya Project Freedom.

Di sisi lain, Trump menyebutkan adanya pembicaraan positif dengan pihak Iran yang berpotensi membawa perkembangan baru bagi hubungan kedua negara. Ia berharap operasi ini bisa menjadi simbol iktikad baik untuk mendinginkan tensi konflik yang memanas dalam beberapa bulan terakhir.

“Jika, dengan cara apa pun, proses kemanusiaan ini diganggu, gangguan tersebut akan, sayangnya, harus ditangani dengan tegas,” kata Trump, dikutip Al Jazeera.

3. Konflik Hormuz picu lonjakan harga energi

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Blokade di Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak mentah dunia, telah membuat pasar energi global terguncang. Sejak Iran melakukan blokade dengan ranjau dan serangan, harga bensin di AS pun meroket hingga menyentuh angka 4,44 dolar AS per galon (sekitar Rp75,4 ribu).

Meski saat ini statusnya adalah gencatan senjata yang rapuh, situasi masih sangat cair. Trump diketahui telah menolak proposal damai 14 poin dari Iran, sementara Teheran masih mempelajari respons balik dari Washington.

Namun, Project Freedom bukan tanpa risiko. Negar Mortazavi, seorang senior di Center for International Policy, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa operasi ini berpotensi membawa pasukan AS masuk ke jangkauan serangan Iran. Hingga saat ini, rincian pelaksanaan operasi dan keterlibatan militer AS masih belum jelas karena militer AS sebelumnya menyatakan belum siap mengawal kapal di selat sempit tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team