Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Sebut Blokade Selat Hormuz Bikin AS Untung Besar
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Donald Trump menyebut blokade Selat Hormuz membuat AS untung besar karena bisa menyita kapal pelanggar dan mengambil minyak secara gratis.
  • Trump berencana mempertahankan blokade untuk menekan Iran agar mau berdamai, bahkan telah menginstruksikan militer mempersiapkan perpanjangan operasi di selat tersebut.
  • Iran juga memblokade Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS-Israel, namun upaya perdamaian terhambat karena perbedaan sikap terkait program nuklir Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut blokade Selat Hormuz telah membuat negaranya mendapatkan keuntungan besar. Sebab, imbas blokade tersebut, AS bisa menyita kapal-kapal yang melanggar dan mengambil minyak secara cuma-cuma dari mereka. 

"Kami mengambil alih (kapal) kargo dan mengambil alih minyak. (Ini) bisnis yang sangat menguntungkan. Siapa yang menyangka, kami seperti bajak laut. Namun, kami tidak sedang bermain-main," kata Trump dalam sebuah acara di Negara Bagian Florida pada Jumat (1/5/2026), seperti dilansir Anadolu Agency

1. Trump ingin tetap memblokade Selat Hormuz

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Oleh karena itu, Trump mengatakan dirinya ingin tetap mempertahankan blokade di Selat Hormuz. Ini dilakukan agar Negeri Paman Sam bisa makin untung. 

Trump juga akan membiarkan jika Iran tidak mau menyepakati perdamaian dengan AS. Dengan begitu, ia bisa terus memblokade Selat Hormuz. Sebab, Trump pernah berjanji akan terus menutup Selat Hormuz sampai Iran menyepakati perdamaian dengan AS.

“Selat Hormuz sudah menjadi senjata Iran selama bertahun-tahun dan mereka mengatakan akan menutupnya. Jadi, mereka menutupnya. Lalu, saya juga menutupnya untuk mereka. Mungkin, kami (AS dan Iran) tidak perlu membuat kesepakatan apa pun,” tambah Trump.

2. AS memblokade Selat Hormuz untuk menekan Iran

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/OpenStreetMap)

AS sendiri mulai memblokade Selat Hormuz pada 13 April. Langkah ini dilakukan untuk menekan Iran agar mau menyepakati perdamaian dengan mereka. Seorang pejabat AS mengatakan, Trump saat ini juga berencana memperpanjang blokade di selat tersebut. 

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Selasa (28/4/2026), Trump saat ini sudah menginstruksikan para jajarannya agar bersiap melakukan operasi untuk memperpanjang blokade di Selat Hormuz. Angkatan laut AS dikabarkan juga sudah siap untuk mengeksekusi operasi tersebut.  

3. Iran juga memblokade Selat Hormuz

potret bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Selain AS, blokade Selat Hormuz juga dilakukan oleh Iran. Iran sendiri mulai memblokade Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu. Saat itu, langkah ini dilakukan sebagai balasan atas serangan AS dan Israel di Ibu Kota Teheran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.  

Pada 17 April, Iran sebetulnya sudah membuka kembali Selat Hormuz secara penuh sebagai balasan karena AS bersedia menyetujui gencatan senjata. Namun, sehari setelahnya, Iran memutuskan untuk menutup lagi selat tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes Iran karena AS tetap memblokade pelabuhan miliknya meski sudah ada gencatan senjata. 

Sebetulnya, Iran kini sudah bersedia untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kesediaan itu tertuang dalam proposal perdamaian baru yang dikirim ke AS lewat Pakistan pada pekan lalu. Sayangnya, Trump tidak puas dengan proposal tersebut. Sebab, proposal itu tidak berbicara soal penghentian program senjata nuklir milik Iran. Trump lebih suka Iran menghentikan program senjata nuklirnya jika ingin berdamai dengan AS. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team