Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026), untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping. Jika terlaksana sesuai rencana, kunjungan itu akan menjadi lawatan pertama presiden AS ke China dalam hampir satu dekade.
Kunjungan terakhir juga dilakukan Trump pada 2017 saat masa jabatan pertamanya. Kala itu, China menyambut Trump dengan kemegahan diplomatik, mulai dari tur pribadi ke Kota Terlarang hingga pertunjukan Opera Peking yang disebut Beijing sebagai kunjungan kenegaraan-plus.
Namun suasana kini jauh berbeda. Dalam sembilan tahun terakhir, hubungan kedua negara dihantam perang dagang, pandemi global, ketegangan militer di Indo-Pasifik, hingga persaingan teknologi yang semakin tajam.
Kondisi terbaru di Timur Tengah juga ikut memengaruhi dinamika pertemuan tersebut. Serangan Amerika Serikat terhadap Iran membuat jadwal kunjungan Trump sempat tertunda dan dipangkas menjadi hanya dua hari.
Pengamat dari Brookings Institution, Suzanne Maloney, mengatakan posisi Trump menuju pertemuan itu tidak lagi sekuat sebelumnya.
“Gagasan seorang presiden Amerika pergi ke pertemuan dengan pesaing utamanya ketika baru saja mengalami kegagalan strategis paling besar dalam beberapa waktu terakhir akan menjadi momen yang mencolok,” katanya.
Menurut Maloney, situasi itu mengubah persepsi mengenai dominasi Amerika Serikat dalam hubungan dengan China.
