Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
pemakaman tentara Ukraina
pemakaman tentara Ukraina (Тернопільська обласна державна адміністрація, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Konflik Ukraina-Rusia belum mereda setelah 4 tahun

  • Rusia meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina

  • Rusia menolak lokasi alternatif untuk pertemuan tatap muka antara Putin dan Zelenskyy

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ukraina dan Rusia, pada Kamis (29/1/2026), mengonfirmasi pertukaran terbaru jenazah korban perang. Kiev mengatakan telah menerima 1.000 jenazah prajuritnya, sedangkan Moskow menerima 38 jenazah sebagai gantinya.

Kedua negara tersebut telah bertukar ribuan jenazah tentara sepanjang hampir 4 tahun konflik. Pertukaran terbaru dilakukan berdasarkan kesepakatan yang dicapai kedua pihak dalam negosiasi di Istanbul pada 2025.

Dalam kesepakatan tersebut, Ukraina dan Rusia setuju untuk mengembalikan jenazah 12 ribu tentara dan semua tahanan perang yang sakit atau mengalami luka parah, termasuk mereka yang berusia di bawah 25 tahun.

1. Konflik kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda mereda

Menjelang peringatan 4 tahun invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, upaya untuk memediasi kesepakatan perdamaian antara kedua negara terus berlanjut. Pekan lalu, negosiator Rusia, Ukraina, dan AS bertemu di Uni Emirat Arab (UEA) untuk perundingan trilateral pertama sejak perang dimulai.

Dilansir dari BBC, semua pihak menggambarkan negosiasi tersebut sebagai konstruktif, tetapi isu-isu teritorial utama masih belum terselesaikan, termasuk tuntutan Rusia agar Ukraina menyerahkan 25 persen wilayah Donetsk yang masih berada di bawah kendali Ukraina.

Meski negosiasi terus berlangsung, kedua belah pihak tetap saling melancarkan serangan. Pada Selasa (27/1/2026), sedikitnya lima orang tewas setelah sebuah drone Rusia menabrak kereta penumpang di wilayah Kharkiv, Ukraina.

2. Rusia tingkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina

Dalam beberapa bulan terakhir, Rusia juga telah meningkatkan serangannya terhadap infrastruktur energi, membuat banyak warga Ukraina harus menghadapi suhu beku tanpa pemanas atau listrik. Pejabat kota Kiev mengatakan, sedikitnya 613 bangunan di ibu kota tidak memiliki pemanas akibat serangan udara baru-baru ini.

Pada Kamis, badan meteorologi Ukraina memperingatkan bahwa suhu bisa turun hingga -30 derajat Celsius dalam beberapa hari mendatang. Pusat Hidrometeorologi Ukraina juga memperkirakan malam terdingin akan terjadi antara 1 dan 3 Februari.

Pada Rabu (28/1/2026) malam, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, memperingatkan bahwa Rusia sedang mempersiapkan serangan besar-besaran terbaru yang menargetkan infrastruktur energi.

3. Rusia respons keinginan Zelenskyy untuk pertemuan tatap muka dengan Putin

Dilansir dari Al Jazeera, Rusia mengatakan bahwa Moskow adalah satu-satunya lokasi yang dipertimbangkan untuk kemungkinan pertemuan tatap muka antara Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Zelenskyy. Pihaknya menolak pembahasan mengenai lokasi alternatif.

Hal ini disampaikan menyusul pernyataan dari ajudan Putin, Yuri Ushakov, yang mengatakan bahwa Zelenskyy telah mengutarakan niatnya untuk bertemu langsung dengan pemimpin Rusia tersebut. Ushakov mengatakan gagasan pertemuan ini telah dilontarkan beberapa kali, termasuk saat percakapan telepon antara Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyatakan bahwa Zelenskyy siap bertemu Putin untuk membahas apa yang ia sebut sebagai isu paling sensitif dalam rencana perdamaian 20 poin Kiev, termasuk masalah teritorial dan masa depan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team