Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi peternakan babi.
Ilustrasi peternakan babi. (pexels.com/Saraí Zuno)

Intinya sih...

  • Karantina total dan blokade dilakukan untuk mengekang penyebaran virus ASF

  • ASF adalah wabah penyakit ternak yang tidak menyerang manusia, dengan tingkat kematian mendekati 100 persen

  • Pemerintah Korsel meningkatkan upaya karantina untuk merespons wabah penyakit ternak jelang Tahun Baru Imlek

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Provinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan (Korsel), mengonfirmasi kasus pertama Demam Babi Afrika (African swine fever/ASF) di wilayahnya pada Rabu (4/2/2026). Sebagai respons darurat, pemerintah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah penyebaran virus dan berencana untuk memusnahkan babi yang terinfeksi.

Korea JoongAng Daily melaporkan, otoritas akan memusnahkan sekitar 3.900 babi dari peternakan di Kabupaten Changnyeong. Wilayah tersebut mencakup 2.400 ekor dari peternakan yang terinfeksi dan 1.500 ekor dari peternakan dalam radius 500 meter.

1. Karantina total hingga blokade dilakukan untuk mengekang penyebaran virus

Markas Besar Penanggulangan Bencana dan Keamanan Pusat telah menetapkan status siaga 'serius', yakni tingkat tertinggi. Pihaknya juga akan melakukan karantina total, dengan memberlakukan larangan pergerakan babi dan limbahnya selama 24 jam di seluruh Gyeongsang Selatan dan wilayah tetangga, Gyeongsang Utara dan Daegu.

Tim epidemiologi juga telah dikerahkan ke lokasi untuk melacak sumber infeksi. Ini setelah pemilik peternakan melaporkan kematian ternak yang tidak biasa selama beberapa hari terakhir. Akses ke area terdampak ditutup sepenuhnya dengan pos pemeriksaan ketat di jalan-jalan utama.

2. ASF adalah wabah penyakit ternak yang tidak menyerang manusia

Ilustrasi peternakan babi. (unsplash.com/Amber Kipp)

ASF adalah virus dengan tingkat kematian mendekati 100 persen. ASF tidak menyerang manusia, tetapi berakibat fatal bagi babi, dan saat ini belum ada vaksin atau obat untuk penyakit ini. Sejak pertama kali terdeteksi di Korsel pada 2019, tercatat total 62 kasus nasional, dengan 7 kasus terjadi sepanjang tahun ini. Kasus di Changnyeong ini menjadi kejadian pertama bagi provinsi tersebut dalam sejarah penyebaran wabah ASF.

Korsel mengonfirmasi kasus ASF pertamanya pada 2026 adalah pada awal bulan ini di kota Gangneung di bagian timur, setelah jeda dua bulan. Kasus tersebut diikuti oleh dua kasus tambahan pekan lalu di Anseong dan Pocheon, yang mana keduanya di Provinsi Gyeonggi.

3. Pemerintah Korsel tingkatkan upaya karantina untuk merespons wabah penyakit ternak jelang Tahun Baru Imlek

Ilustrasi bendera Korea Selatan. (pexels.com/Mirko Kuzmanovic)

Menanggapi wabah terbaru, Perdana Menteri Kim Min-seok memerintahkan otoritas karantina untuk melakukan tindakan menyeluruh. Upaya tersebut termasuk investigasi epidemiologi, guna menentukan penyebabnya.

Menjelang liburan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada pertengahan Februari, pemerintah Korsel telah meningkatkan langkah-langkah untuk mencegah wabah penyakit ternak yang dapat merugikan sektor pertanian. Selain melakukan langkah-langkah karantina terhadap wabah demam babi Afirka, pihaknya juga melakukan inspeksi terhadap penyakit mulut dan kuku (Foot and Mouth Disease/FMD). Dilaporkan, vaksinasi juga akan ditingkatkan di seluruh negeri.

Langkah tersebut diambil menyusul konfirmasi kasus pertama FMD dalam sembilan bulan terakhir di sebuah peternakan sapi di Incheon pekan lalu. FMD adalah penyakit virus menular akut yang menyebabkan penyakit pada sapi, babi, kambing, dan hewan berkuku belah lainnya. Meski begitu, penyakit ini tidak menyerang manusia.

Sejauh ini, Korsel juga telah mengonfirmasi sekitar 40 kasus flu burung patogenik tinggi di peternakan unggas, Korea Herald melaporkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team