“About Nipah Virus.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus — What Is It, Where Is It Found and How Does It Spread?” UK Health Security Agency (UKHSA). Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus.” World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus — Diseases & Symptoms.” Cleveland Clinic Health. Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus — Emerging Zoonotic Disease.” Bangkok Hospital. Diakses Februari 2026.
Apa Itu Virus Nipah? Kenali Gejala, Penularan, dan Bahayanya

- Virus Nipah berasal dari kelelawar buah genus Pteropus yang bisa menular ke hewan lain dan manusia
- Gejala awal infeksi Nipah mirip dengan influenza biasa, namun bisa berubah menjadi serius dan mematikan
- Infeksi virus Nipah bisa menyebabkan kematian dengan tingkat 40-75 persen, belum ada vaksin atau pengobatan khusus
Wabah virus Nipah yang baru-baru ini terjadi di Bangladesh, membuat banyak negara khawatir, termasuk Indonesia. Nipah sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Nipah. Virus ini sebetulnya bukan virus baru, melainkan virus yang sudah dideteksi sejak lama.
Virus Nipah sendiri pertama kali ditemukan di peternakan babi di Malaysia pada tahun 1998. Satu tahun kemudian, virus itu menyebar ke Singapura sebelum akhirnya menyebabkan wabah di beberapa negara lain. Di Bangladesh dan India, wabah ini bahkan terjadi hampir setiap tahun. Lalu apa sebenarnya infeksi virus Nipah itu, dan seberapa berbahaya virus satu ini?
1. Virus Nipah berasal dari kelelawar buah genus Pteropus

Infeksi virus Nipah awalnya bukanlah penyakit manusia. Virus ini awalnya terdeteksi pada kelelawar buah genus Pteropus yang hidup di benua Asia, termasuk Asia Tenggara. Pada kelelawar buah, virus Nipah tampaknya gak menimbulkan masalah. Namun situasinya berubah ketika virus ini berpindah ke spesies lain. Pada hewan seperti babi, kucing, anjing, kambing, babi, dan kuda, virus Nipah berubah menjadi virus yang mematikan. Kabar buruknya, virus Nipah juga bisa menular dari hewan ke manusia, dan dari manusia ke manusia lainnya.
Dilansir Bangkok Hospital, penularan dari hewan ke manusia biasanya melalui kotoran atau cairan tubuh seperti urin, air liur, atau darah hewan yang terinfeksi. Selain itu, virus ini juga bisa menular melalui konsumsi buah-buahan yang memiliki bekas gigitan kelelawar atau hewan lainnya. Sedangkan dari manusia ke manusia, virus Nipah menyebar melalui kontak dekat dan cairan tubuh orang sakit, termasuk juga saat seseorang batuk dan bersin.
2. Gejala awal infeksi Nipah mirip dengan influenza biasa

Terkadang penyakit paling berbahaya justru memiliki gejala awal paling biasa. Hal itu juga berlaku untuk infeksi virus Nipah. Dilansir Cleveland Clinic, gejala virus Nipah biasanya muncul antara 4-14 hari setelah terinfeksi. Gejala yang muncul terkadang sangat mirip dengan gejala influenza biasa.
Gejala awalnya meliputi demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, hingga diare dan muntah. Nah karena gejala awalnya yang cukup ringan, gak sedikit orang yang mengabaikannya. Meski gak selalu, dalam beberapa kasus beberapa gejala ini berubah menjadi gejala serius yang bisa mengancam nyawa penderitanya.
3. Infeksi virus Nipah bisa sebabkan kematian

Virus Nipah merupakan virus mematikan. Kabar buruknya, virus ini bukan hanya mematikan bagi hewan, tetapi juga manusia. Penyakit yang disebabkan oleh virus Nipah memiliki tingkat kematian tinggi yakni sebesar 40-75 persen. Bahkan jika akhirnya sembuh pun, infeksi ini bisa menyebabkan masalah pada saraf yang mengakibatkan perubahan kepribadian hingga kejang. Gak jarang infeksi akan kembali setelah beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah pasien dinyatakan sembuh.
Dilansir Cleveland Clinic, selain berbagai gejala mirip influenza, infeksi virus Nipah juga menyebabkan pneumonia atau kesulitan bernafas. Namun itu belum ada apa-apanya jika dibanding dengan gejala yang paling fatal. Pada infeksi kronis, virus ini bisa memicu terjadinya pembengkakan otak yang ditandai dengan sejumlah gejala serius seperti rasa kantuk, pusing, kebingungan, kejang, kehilangan kesadaran, koma, hingga kematian dalam waktu 24-48 jam.
4. Belum ada vaksin maupun pengobatan khusus untuk infeksi virus Nipah

Dalam beberapa kasus, kadang sulit untuk membedakan Nipah dengan penyakit lainnya. Untuk itu, petugas kesehatan akan mengidentifikasi komplikasi yang ada, dan melakukan tes untuk mendapatkan hasil yang sesuai. Dilansir WHO, real time polymerase chain reaction (RT-PCR) merupakan tes yang digunakan untuk mendiagnosis virus Nipah. Tes ini dilakukan dengan menggunakan sampel dari pernapasan, darah, atau cairan serebrospinal (pungsi lumbal) pasien.
Sampel dari pasien kemudian akan diuji di laboratorium dengan pengamanan maksimal dan dilengkapi dengan peralatan yang sesuai standar. Sayangnya vaksin untuk virus Nipah sendiri belum tersedia. Jika seseorang mengalami infeksi karena virus ini, tenaga kesehatan akan melakukan pengobatan pada sejumlah gejala serta komplikasi yang dialami pasien, dan memastikan bahwa kondisi pasien tetap dalam keadaan stabil.
Meski gejala awalnya ringan, infeksi virus Nipah jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Terutama jika kamu memiliki riwayat perjalanan ke negara dengan kasus infeksi virus tinggi seperti Bangladesh atau India. Semakin cepat kamu memeriksakan diri ketika mengalami gejala awal, semakin cepat juga kamu akan mendapatkan pengobatan.
Referensi













.jpg)




