Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Orang-orang sedang berdemo.
ilustrasi demo (pexels.com/Bruce Hickey)

Intinya sih...

  • The Washington Post melakukan PHK dengan dalih efisiensi, mempengaruhi departemen berita lokal, olahraga, dan berita internasional.

  • Pegawai The Washington Post memprotes PHK massal karena dianggap sebagai pengekangan terhadap kebebasan pers.

  • The Washington Post sudah pernah melakukan beberapa gelombang PHK sebelumnya pada tahun-tahun sebelumnya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Warga Amerika Serikat (AS) ramai-ramai menggelar demo di depan Kantor Pusat The Washington Post di ibu kota Washington DC pada Kamis (5/2/2026). Mereka memprotes keputusan media tersebut untuk mem-PHK massal ratusan pegawai dari dalam dan luar negeri.

Dalam demo tersebut, warga AS meminta Jeff Bezos selaku pemilik Washington Post untuk bertanggung jawab. Sebab, mereka menilai keputusan tersebut merupakan kemauan Bezos dengan dalih untuk menyelamatkan perusahaan. 

“Demokrasi mati dalam kegelapan. Anda, Jeff Bezos, telah mematikan cahaya tersebut,” teriak para demonstran merujuk pada slogan Washington Post, seperti dilansir The Strait Times. Teriakan tersebut dilontarkan para demonstran dengan maksud Bezos telah mematikan harapan para pegawai Washington Post dengan melakukan PHK massal.

1. The Washington Post melakukan PHK dengan dalih efisiensi

potret gedung kantor The Washington Post (commons.wikimedia.org/Michael Fleischhacker)

The Washington Post sebelumnya telah mengumumkan rencana PHK massal terhadap ratusan karyawannya pada Rabu (4/2/2026). Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Editor Eksekutif Washington Post, Matt Murray. Ia menjelaskan langkah tersebut dipilih untuk meningkatkan efisiensi perusahaan.

Dalam pernyataannya, Murray menjelaskan bahwa semua departemen di Washington Post bakal terdampak PHK. Namun, departemen berita lokal, olahraga, dan berita internasional jadi departemen yang paling terdampak. Oleh karena itu, liputan di ketiga departemen tersebut bakal dikurangi. Perusahaan juga bakal menutup departemen buku untuk memangkas biaya produksi. 

"Berita hari ini menyakitkan. Ini adalah tindakan yang sulit. (Namun), jika kita ingin berkembang, bukan hanya bertahan, kita harus menciptakan kembali jurnalisme dan model bisnis kita dengan ambisi yang diperbarui,” kata Murray, seperti dilansir BBC

2. Pegawai The Washington Post memprotes PHK massal

ilustrasi pegawai yang terkena PHK (unsplash.com/Vitaly Gariev)

PHK massal yang dilakukan The Washington Post sebetulnya sudah mendapat protes dari para pegawai, khususnya para jurnalis. Salah satu jurnalis isu perkotaan di Amerika Serikat, Michael Brice-Saddler, menyebut kebijakan PHK tersebut merupakan bentuk pengekangan terhadap kebebasan pers.

"Di saat kita menyaksikan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pers dan sentimen anti atau negatif terhadap jurnalis hanya karena melakukan pekerjaan mereka, sangat berbahaya untuk mengurangi staf dengan cara ini," kata Michael Brice-Saddler dilansir France 24.

"Pemotongan ini bukan kesalahan kami. Namun, merekalah yang menanggung beban biaya terbesar. Mereka kehilangan sumber daya, mereka kehilangan kemampuan untuk menceritakan kisah-kisah yang bermakna bagi The Washington Post," lanjutnya. 

3. The Washington Post sudah pernah melakukan beberapa gelombang PHK

ilustrasi PHK (pixabay.com/Mohamed_hassan)

PHK massal di The Washington Post sebetulnya bukan terjadi kali ini saja. Sebab, media tersebut sudah pernah melakukan beberapa gelombang PHK pada tahun-tahun sebelumnya. 

Pada Januari 2025, misalnya, Washington Post melakukan PHK kepada sekitar 4 persen karyawannya. Jumlah karyawan yang terkena dampak saat itu kurang dari 100 orang. 

Pada musim gugur 2024, Washington Post mem-PHK sekitar 54 karyawannya dengan dalih efisiensi. Gelombang PHK massal juga terjadi pada 2023. Namun, tidak diketahui berapa jumlah pasti karyawan yang saat itu terdampak. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team