Washington Post Umumkan PHK Massal buat Efisiensi, Pegawai Protes!

- Semua departemen bakal terdampak PHK
- Pegawai protes PHK massal yang dilakukan Washington Post
- Washington Post sudah pernah melakukan beberapa gelombang PHK massal
Jakarta, IDN Times - Perusahaan media massa asal Amerika Serikat (AS), The Washington Post, bakal melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap sepertiga karyawannya. Kabar tersebut diumumkan secara langsung kepada pegawai oleh Editor Eksekutif Washington Post, Matt Murray pada Rabu (4/2/2026).
Dalam pernyataannya, Murray menjelaskan, langkah ini dilakukan untuk efisiensi perusahaan. Sebab, Washington Post saat ini sedang menghadapi tantangan finansial yang memaksa perusahaan untuk memangkas jumlah karyawan secara massif. Selain melakukan PHK, perusahaan juga bakal menutup departemen buku untuk memangkas jumlah biaya.
"Berita hari ini menyakitkan. Ini adalah tindakan yang sulit. (Namun), jika kita ingin berkembang, bukan hanya bertahan, kita harus menciptakan kembali jurnalisme dan model bisnis kita dengan ambisi yang diperbarui,” kata Murray, seperti dilansir BBC.
Table of Content
1. Semua departemen bakal terdampak

Murray menambahkan, semua departemen di The Washington Post bakal terdampak PHK. Namun, departemen berita lokal, olahraga, dan berita internasional jadi departemen yang paling terdampak. Oleh karena itu, liputan di ketiga departemen tersebut bakal dikurangi.
Hingga saat ini, Washington Post belum mengumumkan jumlah pasti karyawan yang bakal terkena PHK. Beberapa media sudah berupaya menghubungi pihak perusahaan soal hal tersebut dan belum ada respons.
Namun, beberapa media menyebut gelombang PHK ini diprediksi bakal menghilangkan ratusan karyawan yang bekerja di sana. Sebab, Washington Post memang sudah berencana melakukan pemangkasan jumlah karyawan besar-besaran guna menjaga stabilitas perusahaan.
2. Pegawai protes PHK massal yang dilakukan Washington Post

Gelombang PHK yang dilakukan The Washington Post ini memantik protes dari para pegawai. Seorang koresponden di Ukraina yang tidak disebut namanya menyuarakan kekesalannya di media sosial. Ia menyayangkan PHK massal yang dilakukan perusahaan karena dirinya harus kehilangan pekerjaan di tengah perang yang sedang melanda.
Selain itu, PHK ini juga memantik kritik dari Aliansi Pers Nasional Amerika Serikat. Mereka menyebut kebijakan ini membawa dampak negatif bagi para jurnalis yang bekerja di Washington Post.
"PHK yang terjadi di Washington Post hari ini merupakan kemunduran yang sangat buruk bagi sejumlah jurnalis yang terkena dampaknya dan bagi profesi jurnalisme," kata Presiden Aliansi Pers Nasional AS, Mark Schoeff Jr., dalam sebuah pernyataan dilansir CNA.
3. Washington Post sudah pernah melakukan beberapa gelombang PHK massal

The Washington Post sebetulnya sudah pernah melakukan beberapa gelombang PHK. Pada Januari 2025, misalnya, perusahaan melakukan PHK kepada sekitar 4 persen karyawannya. Jumlah karyawan yang terkena dampak saat itu kurang dari 100 orang.
Pada musim gugur 2024, Washington Post juga melakukan hal serupa. Mereka mem-PHK sekitar 54 karyawannya dengan dalih efisiensi. Gelombang PHK massal juga terjadi pada 2023. Namun, tidak diketahui berapa jumlah pasti karyawan yang saat itu terdampak.
Sebagai infomasi, Washington Post merupakan perusahaan media massa yang berdiri pada 1877. Namun, Washington Post sudah menjadi milik pendiri Amazon, Jeff Bezos, sejak 2013. Saat itu, ia membeli Washington Post seharga 250 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp4,2 triliun.


















