Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Warga AS Protes Harga Bensin Naik, Sebut Trump Bodoh
ilustrasi harga bensin (unsplash.com/Raman Shaunia)
  • Warga AS, termasuk Ryder Thomas di Los Angeles, memprotes kenaikan harga bensin akibat perang dengan Iran dan menyalahkan Presiden Donald Trump atas situasi tersebut.
  • Kenaikan harga bensin membuat sebagian pendukung Trump mulai meragukan janji kampanyenya untuk menjaga harga kebutuhan tetap terjangkau bagi masyarakat Amerika.
  • Selat Hormuz masih diblokade oleh AS dan Iran, sementara upaya perdamaian Iran ditolak Trump karena tidak mencakup penghentian program senjata nuklir negara tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Warga Amerika Serikat mulai memprotes kenaikan harga bensin imbas perang Iran. Salah satu protes datang dari seorang warga yang tinggal di Los Angeles (LA), California. Warga tersebut bernama Ryder Thomas. 

“Saya marah soal harganya. Namun, saya lebih marah lagi kenapa harganya begitu tinggi,” kata Thomas yang sedang berada di pom bensin di LA kepada AFP, seperti dikutip The Strait Times pada Sabtu (2/5/2026).

1. Kenaikan harga bensin murni kesalahan Trump

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/North Charleston via commons.wikimedia.org/North Charleston)

Thomas menambahkan, kenaikan harga bensin ini murni kesalahan Presiden AS, Donald Trump, karena telah memicu perang dengan Iran. Saking geramnya, pria berusia 28 tahun itu sampai menyebut Trump sebagai presiden yang bodoh.

Menurut Thomas, perang AS dan Iran membuat Iran menutup Selat Hormuz. Hal ini kemudian membuat pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global, termasuk ke AS, jadi terhambat sehingga harganya naik.

“Perang ini sama sekali tidak perlu. Sama seperti ketika kita menginvasi Irak. Saat itu, tidak ada senjata pemusnah massal. Trump itu bodoh! Itu saja,” ungkap Thomas. 

2. Warga AS mulai meragukan janji Trump

ilustrasi warga Amerika Serikat (unsplash.com/Yoav Aziz)

Kenaikan harga bensin ini juga membuat para pendukung Trump ragu akan janji-janjinya saat mencalonkan diri menjadi presiden AS. Saat itu, Trump berjanji akan membuat harga kebutuhan di AS terjangkau oleh semua warga. Namun, kenyataannya, kini harga kebutuhan dasar, seperti bensin malah naik signifikan. 

Oleh karena itu, warga AS yang mendukung Trump, khususnya yang tinggal di California berharap perang dengan Iran segera usai. Mereka juga berharap Selat Hormuz dibuka lagi agar pasokan minyak kembali lancar. Sebab, mereka tidak mau terus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk membeli bensin. Terlebih, masih ada kebutuhan lain yang juga harus dipenuhi. 

“Ini tidak menyenangkan. Kami tidak mau membayar lebih untuk bensin,” ujar seorang pendukung Trump di California bernama David Chavez.

3. AS dan Iran masih menutup Selat Hormuz

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/OpenStreetMap)

Sebagai informasi, AS dan Iran kini masih memblokade Selat Hormuz. Bahkan, AS berencana untuk memperpanjang blokadenya di salah satu jalur perdagangan paling sibuk di dunia tersebut. 

Di sisi lain, Iran sebetulnya sudah bersedia membuka kembali Selat Hormuz. Kesediaan itu tertuang dalam proposal perdamaian yang dikirim ke AS lewat Pakistan pada pekan lalu. 

Sayangnya, Trump tidak puas dengan proposal tersebut. Sebab, proposal itu tidak berbicara soal penghentian program senjata nuklir milik Iran. Trump lebih suka Iran menghentikan program senjata nuklirnya jika ingin berdamai dengan AS. 

“Mereka ingin membuat kesepakatan. (Namun), saya tidak puas dengan itu. Jadi, kita lihat saja apa yang terjadi,” ujar Trump dilansir PBS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team