Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Trump dilaporkan mengamuk hebat usai sebuah jet tempur F-15 milik Negeri Paman Sam ditembak jatuh di wilayah Iran pada 3 April lalu. Insiden itu memicu operasi penyelamatan berisiko tinggi, sekaligus membuka dinamika internal Gedung Putih di tengah krisis militer yang memanas.
Laporan The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan, ‘Trump berteriak pada para staf selama berjam-jam’ setelah mengetahui dua awak pesawat hilang dalam insiden tersebut. Namun, Gedung Putih membantah laporan itu dan menegaskan Trump tetap menunjukkan kepemimpinan yang stabil.
Penembakan jet tempur itu menjadi titik kritis dalam konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Satu awak berhasil diselamatkan dengan cepat, sementara satu lainnya terjebak di wilayah musuh selama lebih dari 24 jam.
Di saat operasi penyelamatan berlangsung, laporan menyebut Trump justru tidak dilibatkan dalam sejumlah pengarahan penting di Situation Room. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang peran dan gaya kepemimpinan Trump dalam menghadapi krisis keamanan besar.
