Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WSJ Sebut Trump Ngamuk Berat Saat Jet F-15 AS Ditembak Iran, Benarkah?
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di Pesawat Air Force One. (commons.wikimedia.org/Official White House Photo)
  • Laporan WSJ menyebut Trump marah besar setelah jet F-15 AS ditembak Iran, namun Gedung Putih membantah dan menegaskan presiden tetap menunjukkan kepemimpinan stabil di tengah krisis.
  • Trump dilaporkan tidak ikut langsung dalam pengarahan di Situation Room selama operasi penyelamatan, sementara staf membatasi keterlibatannya demi menjaga efektivitas pengambilan keputusan cepat.
  • Operasi penyelamatan awak berjalan dramatis dengan dukungan CIA, diikuti ancaman keras Trump terhadap Iran yang memicu kekhawatiran global serta desakan klarifikasi dari parlemen AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Trump dilaporkan mengamuk hebat usai sebuah jet tempur F-15 milik Negeri Paman Sam ditembak jatuh di wilayah Iran pada 3 April lalu. Insiden itu memicu operasi penyelamatan berisiko tinggi, sekaligus membuka dinamika internal Gedung Putih di tengah krisis militer yang memanas.

Laporan The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan, ‘Trump berteriak pada para staf selama berjam-jam’ setelah mengetahui dua awak pesawat hilang dalam insiden tersebut. Namun, Gedung Putih membantah laporan itu dan menegaskan Trump tetap menunjukkan kepemimpinan yang stabil.

Penembakan jet tempur itu menjadi titik kritis dalam konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Satu awak berhasil diselamatkan dengan cepat, sementara satu lainnya terjebak di wilayah musuh selama lebih dari 24 jam.

Di saat operasi penyelamatan berlangsung, laporan menyebut Trump justru tidak dilibatkan dalam sejumlah pengarahan penting di Situation Room. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang peran dan gaya kepemimpinan Trump dalam menghadapi krisis keamanan besar.

1. Trump ngamuk tapi dibantah Gedung Putih

Menurut laporan WSJ yang mengutip pejabat senior pemerintahan, Trump meluapkan kemarahannya setelah mengetahui kondisi dua awak jet yang jatuh di Iran. Disebutkan ia berteriak pada para staf selama berjam-jam seiring meningkatnya kekhawatiran atas situasi tersebut.

Laporan itu juga menyebut kekhawatiran Trump dipengaruhi oleh bayangan krisis sandera Iran di masa lalu. Peristiwa tersebut disebut “terbayang besar” dalam pikirannya saat krisis berlangsung.

Namun, Gedung Putih segera membantah narasi tersebut. Juru bicara Karoline Leavitt menegaskan, Trump tetap menjalankan perannya sebagai pemimpin. Ia mengatakan Trump tetap menjadi pemimpin yang stabil yang dibutuhkan negara.

Leavitt juga menambahkan, operasi militer yang dilakukan sejalan dengan tujuan Trump, yakni mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Bantahan ini menunjukkan adanya perbedaan versi antara laporan media dan pernyataan resmi pemerintah.

2. Sejumlah pejabat terkait tak dilibatkan di War Room saat krisis

Gedung Putih di Amerika Serikat (unsplash.com/René DeAnda)

Di tengah situasi genting, pejabat tinggi seperti Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles dilaporkan mengikuti pembaruan situasi secara intensif dari Situation Room selama 24 jam. Namun, Trump disebut tidak ikut dalam pertemuan tersebut. Ia hanya menerima informasi pada momen-momen penting melalui sambungan telepon, bukan secara langsung dalam pengambilan keputusan real-time.

Menurut pejabat yang dikutip WSJ, para staf sengaja membatasi keterlibatan Trump karena menilai “ketidaksabarannya tidak akan membantu” dalam pengambilan keputusan operasional yang cepat dan kompleks.

Meski demikian, pihak Gedung Putih tidak secara langsung mengonfirmasi alasan tersebut. Mereka tetap menekankan, komunikasi dengan presiden berjalan sesuai kebutuhan selama operasi berlangsung.

3. Operasi penyelamatan dan eskalasi retorika

Miniatur jet F-15EX Boeing yang rencananya akan dibeli Indonesia. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Operasi penyelamatan terhadap awak kedua berlangsung dramatis. Seorang pejabat menyebut misi itu sebagai pencarian jarum di tumpukan jerami dengan target ditemukan di dalam celah gunung berkat bantuan intelijen CIA.

CIA juga dilaporkan menjalankan operasi disinformasi dengan menyebarkan kabar palsu bahwa awak tersebut sudah ditemukan, guna menghindari deteksi pihak Iran.

Setelah kedua awak berhasil diselamatkan, Trump memuji operasi tersebut di media sosial. Ia menyebut prajurit yang diselamatkan sebagai pejuang pemberani yang berada di belakang garis musuh di pegunungan Iran yang berbahaya.

Namun, keesokan harinya, Trump meningkatkan retorika terhadap Iran. Ia mengancam konsekuensi serius jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Trump bahkan menyatakan seluruh peradaban akan mati malam ini jika tuntutannya tidak dipenuhi.

Laporan WSJ juga menyebut Trump sengaja menggunakan bahasa yang tidak biasa, termasuk menyatakan ingin memuji Allah untuk menciptakan kesan tidak terduga. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran global dan mendorong anggota parlemen AS meminta klarifikasi kepada Gedung Putih terkait kondisi presiden.

Editorial Team