Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dejavu Pengumuman Pemilu di Kertanegara: Dengan dan Tanpa Sujud Syukur
Prabowo Subianto Tiba di Kertanegara Menjelang Pengumuman Pemilu 2024. (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Jakarta, IDN Times - Dua kali Ramadan saya bertugas meliput pemilihan umum (Pemilu). Dua kali pemilihan presiden (Pilpres) pula saya ditugaskan menempel Prabowo Subianto pada 2019 dan 2024.

Lokasinya sama, di kediaman Ketua Umum Partai Gerindra itu, Jalan Kertanegara Nomor IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Tiap rangkaian peristiwa yang terjadi selama Pilpres 2024 di lokasi itu bagi saya seperti dejavu Pilpres 2019. Semua momentum hampir sama, seperti deklarasi tiap hari, pertemuan ketua umum parpol, diskusi dan doorstop.

Saya pun baru sadar, bahwa saya salah satu saksi mata, dua kali peristiwa bersejarah dalam momentum Pilpres yakni pengumuman hasil Pemilu 2019 dan 2024.

Dua momentum itu sama-sama meriah dan heboh. Keduanya juga terjadi di malam Ramadan.

Masih terbayang bagaimana saya menahan haus dan lapar di hari itu karena harus melakukan reportase sejak pagi di Kertanegara. Berbuka pun dengan minum, makan dan duduk di tempat seadanya.

Pada Pilpres 2019, suasananya memang cenderung penuh gejolak karena Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno merupakan rival petahana Joko “Jokowi” Widodo. Ia dua kali melawan Jokowi, jadi saya memaklumi bahwa saat itu Prabowo kekeuh ingin jadi presiden. Sampai saat ini.

Sampai-sampai, Prabowo mengklaim menang hingga membuatnya sujud syukur di atas panggung di depan rumah Kertanegara.

Saya pun menyaksikannya. Awalnya, Prabowo mengklaim bahwa hasil penghitungan sementara (real count) yang dilakukan pihak internal Badan Pemenangan Nasional (BPN) ialah 62 persen suara.

Prabowo meyakini persentase tersebut tidak akan berubah banyak hingga akhir penghitungan dan tidak berbeda dengan rekapitulasi resmi KPU.

Setelah berorasi menyampaikan kemenangan, Prabowo melakukan sujud syukur. Prabowo dan beberapa orang kemudian bersujud menghadap kiblat.

Hal itu ternyata membuat pendukungnya semakin percaya diri bahwa jagoannya bakal menjadi jawara. Namun, hal itu justru menjadi pemantik kerusuhan ketika KPU mengumumkan bahwa Jokowi-Ma’ruf Amin adalah pemenangnya.

Tak terima dengan keputusan itu, kerusuhan pada 21-22 Mei 2019 pun terjadi. Massa pro Prabowo yang saat itu diisi salah satunya oleh Front Pembela Islam (FPI) dan PA 212 terlibat bentrok dengan aparat di sekitar Sarinah, Tanah Abang, dan Sabang.

Peristiwa bermula dari aksi unjuk rasa para pendukung Prabowo-Sandi di depan kantor Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu), Sarinah, Jakarta Pusat. Mereka tak menerima kekalahan dari Jokowi-Ma’ruf Amin.

Saat peristiwa itu, saya meliput di Petamburan. Tadinya, saya mendapat tugas untuk meluncur ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang saat itu sesak massa.

Saya berangkat menggunakan motor menuju KPU. Saat itu massa yang menggelar aksi masih kondusif.

Namun beberapa saat kemudian massa terlibat bentrok dengan aparat. Mereka dipukul mundur hingga menyebar ke beberapa titik. Salah satunya Petamburan.

Pergeseran penugasan terjadi, saya berangkat ke Petamburan. Sesampainya di sana, bentrokan terjadi di beberapa titik.

Jalanan penuh puing dan bambu, udara tercemar debu dan gas air mata. Suasana siang hari itu terasa mencekam karena massa dan aparat sama sama membuat blokade.

Saya terjebak di barisan massa. Helm di kepala dengan odol di muka adalah usaha saya melindungi diri dari mereka.

Sesekali, massa melempar batu ke arah aparat tanpa ampun. Begitupun ratusan polisi membalasnya dan beberapa kali mendorong massa dengan tameng mereka.

Yang paling parah saya saksikan, polisi saat itu bertindak represif. Salah satu massa seorang pemuda ditarik, dipukul, ditendang hingga lebam dan berdarah di wajah.

Saya tidak bisa mengabadikan momen itu, karena siapa pun menampakkan gawainya pasti dirampas aparat. Saya hanya bisa bergumam melafalkan takbir melihat peristiwa itu. Kesal, marah dan rasa takut bercampur aduk melihatnya.

Bentrokan makin meluas, massa membakar ban di tengah jalan. Aparat beberapa kali mengerahkan water canon untuk memadamkan api.

Di situ padam, di sana membara. Bentrokan terus berlangsung hingga akhirnya sebuah helikopter dengan membawa kantung air dikerahkan untuk memadamkan api dan membubarkan massa.

Saat itu, terik matahari terasa membakar kerongkongan di tengah kerusuhan antara massa aksi dan aparat. Saya hanya pasrah berharap puasa dapat terjaga sampai berbuka.

Bentrokan berlangsung hingga waktu berbuka. Saya pun menyempatkan membeli air mineral untuk membatalkan puasa. Saat itu, dalam benak terlintas, “Begini banget kerja gue.”

Berbuka di jalan mungkin sudah biasa, namun kali ini berbuka di tengah arena bentrok yang bukan perkara mudah menemui warung kelontong dan warung nasi buka saat itu.

Setelah berjalan menjauh dari titik bentrok, akhirnya saya menemui salah satu warung nasi yang buka pada saat itu. Nasi, kentang goreng dan telur balado cukup membuat saya bersyukur.

Namun bentrokan masih berlanjut malam hari hingga dini hari. Puluhan korban berjatuhan, luka bahkan beberapa dilaporkan meninggal dunia. Peristiwa itu membuat memori kelam di kepala saya.

Namun peristiwa kelam tersebut tidak saya temui sejauh ini di Pilpres 2024. Memang benar, suasana kali ini lebih sejuk dan pendukung lawan-lawan Prabowo-Gibran nampaknya lebih legowo meskipun kini mengajukan hak angket untuk menolak hasil Pemilu.

Malam tadi, saya kembali duduk di depan panggung dimana saat 2019 Prabowo sujud syukur. Saya sudah membayangkan dan bahkan menyiapkan tamplate tulisan peristiwa tersebut kembali terjadi.

Menjelang Magrib, para elite Tim Kampanye Nasional (TKN) satu persatu berdatangan ke rumah Prabowo. Mereka berkumpul, buka bersama sekaligus memantau hasil Pemilu 2024 yang bakal diumumkan KPU.

Prabowo pun hadir di detik-detik akhir menjelang berbuka puasa. Suasananya lebih ramai daripada 2019. Prediksi saya, mungkin para pendukung Prabowo sudah terlanjur pede bahwa malam itu kemenangan akan datang.

Adzan Magrib berkumandang, saya mengambil sebotol air mineral untuk membatalkan puasa di depan rumah Kertanegara. Saat membuka tutup botol dan bersikap duduk, seketika memori kerusuhan di 2019 berputar di kepala. Mengingat saat itu sangat payah dan merana.

KPU saat itu masih dalam penghitungan suara Provinsi Papua. Setelah berbuka, awak media masih menunggu pengumuman KPU sambil memantau pergerakan orang-orang yang keluar masuk dari Kertanegara.

Saat itu, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, Ketum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketum PAN, Zulkifli Hasan baru tiba di Kertanegara. Tak sampai 10 menit, ketiganya kembali keluar dari Kertanegara dengan alasan mau melaksanakan tarawih terlebih dahulu sambil menunggu pengumuman KPU yang menurut rencana digelar pukul 21.00 WIB.

Namun, KPU baru mengumumkan hasil Pemilu 2024 sekitar pukul 21.30 WIB. Saya dan puluhan jurnalis pun ambil posisi di depan panggung. Kami berbagi tempat bersama para pendukung Prabowo-Gibran yang juga sudah menunggu sejak siang hari.

Sambil mendengarkan pembacaan hasil Pemilu 2024, saya menyaksikan reaksi para pendukung yang bersemangat dan bahagia lantaran jagoannya unggul.

Setelah dinyatakan bahwa Prabowo-Gibran menang, kami kemudian menantikan kehadiran Prabowo dan jajarannya di atas panggung untuk memberikan pernyataannya.

Pada sekitar pukul 23.00 WIB, para elite TKN dan para ketum parpol keluar dari Kertanegara. Mereka satu persatu melangkah ke atas panggung disambut sorak para pendukung.

Ketika semuanya berbaris rapi, beberapa menit kemudian, barulah Prabowo terlihat menyusul ke panggung. Sontak suasana makin riuh menyambut sang pemenang.

Menteri Pertahanan (Menhan) itu kemudian menyalami satu persatu elite TKN dan ketum parpol. Setelahnya, ia memberikan pidato kemenangannya.

Beberapa kali, Prabowo terlihat berlinang air mata. Dalam penuturannya, ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pendukung termasuk Presiden Jokowi.

Dalam kesempatan itu, ia mengenang sosok Jokowi yang telah merangkulnya selama 10 tahun meski sempat menjadi rival dalam Pilpres 2014 dan 2019.

“Karena keneragarawanan beliau, beliau telah memberi contoh, rekonsiliasi besar, bahwa beliau sekian tahun, 10 tahun ya, beliau rangkul dan bahkan beliau yang juga sangat besar mendorong saya sehingga hari ini saya menerima mandat dari rakyat,” ujar Prabowo.

Ucapan terima kasih ke Jokowi itu hampir ia lupakan karena sempat hendak meninggalkan panggung setelah berpidato.

Namun, ia kembali ke tengah panggung setelah menerima bisikan dari sang ajudan, Mayor Teddy.

“Karena itu saya harus menyampaikan penghargaan saya yang sebesar-besarnya kepada beliau. Landasan yang kuat, yang telah beliau bangun khususnya di bidang ekonomi akan kita gunakan untuk kita bekerja lebih cepat, bekerja lebih keras, bekerja untuk membawa hasil secepat-cepatnya kepada rakyat Indonesia,” ujarnya.

Prabowo bersama rombongan kemudian membaca doa, dan memekikkan takbir. Setelah itu, celetuk salah seorang jurnalis fotografer “Sujud syukur pak!” katanya.

Namun, Prabowo tidak menghiraukan permintaan itu, ia lantas menutup pidatonya. Prabowo, elite TKN dan para ketum Parpol meninggalkan panggung. Sementara itu, saya dan jurnalis online lainnya masih bertahan untuk menyelesaikan tulisan hingga berganti hari.

Kali ini, tidak ada sujud syukur menyambut kemenangan berdasarkan hasil Pemilu 2024 yang diumumkan KPU.

Saya pun baru bisa pulang sekitar pukul 01.00 WIB dan baru sampai rumah di Depok pukul 02.00 WIB. Sebelum pulang, saya menyempatkan mampir ke Pasar Minggu untuk berbelanja sayur mayur dan ikan.

Melihat para pedagang dan kegigihannya di saat orang lain tertidur, terbesit doa dan harapan, semoga hidup mereka termasuk saya dan kamu yang baca tulisan ini, makin mudah untuk lima tahun ke depan. Amin.

Editorial Team