“Aku orangnya emang begini.” Pernah dengar kata-kata seperti itu, atau mungkin kita sendiri yang mengatakannya di suatu waktu? Pernyataan itu memang terdengar klise, diksinya begitu ringan setelah sebuah konflik atau perdebatan terjadi, seakan mampu menetralisir suasana, menjadikannya pembelaan diri untuk membungkam lawan bicara.
Misalnya, kamu sedang “berdebat” dengan temanmu dan mengatakan bahwa temanmu seharusnya tidak bersikap terlalu frontal di depan khalayak. Alih-alih meminta maaf atau memperbaiki diri, ia justru menjawab, “Aku kan orangnya emang begini, suka blak-blakan dan santai, ya ngertiin aja lagi”.
Setiap orang memang memiliki karakteristik masing-masing. Namun, pertanyaannya adalah sejak kapan pernyataan “aku orangnya emang begini” dapat menjadi kartu yang membebaskan seseorang dari rasa bersalah dan tanggung jawab?
Dalam banyak kasus, pernyataan “sakti” itu diucapkan seseorang ketika ia merasa terdesak oleh kebenaran. Saat seseorang telat datang, ia bilang “aku orangnya emang begini.” Saat seseorang kerap berkata kasar, ia bilang “aku orangnya emang begini.” Atau saat seseorang memberi harapan palsu, ia bisa menggunakan kalimat keramat yang sama kepada semua pemenuh egonya: “banyak yang salah paham kalau aku ngasih harapan, padahal aku orangnya emang begini”.
Kalau polanya memang terus berulang pada orang yang berbeda-beda, bukankah itu merupakan tanda untuk berubah dan belajar dari masa lalu? Belajar dari masa lalu berarti mengakui bahwa ada yang salah dari cara berkomunikasi dan menetapkan batasan, kemudian memperbaikinya supaya gak ada lagi hati yang menjadi korban atas “kepribadian” yang didewakan itu.
Lantas, lawan bicara bisa apa setelah mendengarnya?
