ilustrasi pasangan duduk berdua (pexels.com/cottonbro studio)
Ketabuan topik menstruasi membuat perempuan harus menanggung beban fisik dan mental sekaligus. Berdasarkan informasi dari laman New York Post, sebanyak 42 persen dari 1.500 perempuan mengaku pernah merasa malu saat menstruasi. Ironisnya, perasaan malu tersebut malah lebih sering datang dari orang-orang terdekat.
Bukan tanpa alasan, perempuan kerap mengalami ejekan hanya karena sedang menstruasi. Akibatnya, kebanyakan orang membalut percakapan tentang menstruasi dengan eufemisme untuk menyembunyikan ketabuannya. Pada 2017, situs Hello Clue menemukan lebih dari 5.000 eufemisme untuk menyebut menstruasi dalam berbagai bahasa.
Rasa malu dan eufemisme itu seharusnya tidak pernah ada. Menstruasi adalah hal yang normal. Itu sebabnya, topik ini penting dibahas secara positif dan terbuka di kalangan laki-laki. Peran mereka jelas dibutuhkan untuk mematahkan hegemoni maskulinitas yang merendahkan perempuan.
Penelitian terbaru dalam jurnal Health & Place (2025) menunjukkan hasil yang selaras, yakni pentingnya keterlibatan laki-laki dalam diskusi yang membahas menstruasi. Stigma malu menstruasi diyakini dapat berkurang jika laki-laki dan perempuan sama-sama dilibatkan. Topik ini juga berkaitan langsung terhadap dukungan yang pantas perempuan dapatkan.
Edukasi terkait menstruasi pada laki-laki dapat menumbuhkan rasa empati. Perempuan yang sedang menstruasi layak didukung, baik secara fisik maupun non-fisik. Membelikan pembalut atau obat, misalnya, bisa dilakukan oleh suami atau anak laki-laki untuk istri atau anak perempuan.
Melalui pelatihan kesehatan dan kebersihan menstruasi, UNICEF juga pernah mengangkat isu ini dalam laman resmi mereka pada 2022. Sebuah artikel berjudul Men Break Taboos and Lead Conversations Around Menstruation menceritakan kisah seorang pria dari India, Basant Lal, yang berani melawan tabu menstruasi. Ia mendukung istri dan delapan anak perempuannya saat mereka menstruasi.
"Kadang orang-orang mengejek saya ketika melihat saya membeli pembalut, tapi saya tidak keberatan. Saya tidak melihat ada yang salah dengan itu," kata Basant setelah mengikuti pelatihan.
Meskipun dirinya seorang laki-laki, Basant sangat terbuka dalam diskusi terkait topik menstruasi. Hal itu membuat anak-anak perempuannya tidak merasa malu saat berbagi cerita. Basant bahkan telah memperluas dan mendorong kesehatan menstruasi kepada orang-orang di desanya.