Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pria bersama istri dan anaknya (pexels.com/Julia M Cameron)
ilustrasi pria bersama istri dan anaknya (pexels.com/Julia M Cameron)

Seiring dengan kemajuan zaman, dunia semakin terbuka terhadap banyak perubahan. Begitu pula dengan peran perempuan yang semakin meluas di berbagai lini kehidupan. Perempuan terus menunjukkan kontribusi nyata untuk memperjuangkan haknya di tengah dinamika sosial.

Sayangnya, kesadaran tentang pentingnya peran perempuan masih terbilang rapuh. Narasi kesetaraan gender belum cukup membuat para perempuan berdaya secara keseluruhan. Padahal, perempuan memainkan peranan kunci dalam mewujudkan harmoni sosial dan lingkungan.

Seperti akar kuat yang menopang tapi tidak pernah dipuji, perempuan selalu hadir menciptakan harmoni. Oleh karena itu, kita perlu lebih dekat menyoroti peran perempuan untuk kehidupan yang harmonis, baik dari sisi sosial maupun lingkungan. Sebagai langkah awal, mari kita bahas dan coba pahami lewat tulisan ini.

1. Seberapa kuat peran perempuan dalam mewujudkan harmoni sosial dan lingkungan?

ilustrasi para perempuan bergembira (pexels.com/Elina Fairytale)

Perempuan sejak dahulu kerap diremehkan keberadaannya. Menurut infromasi dari laman Centre for International Law, National University of Singapore, saat zaman masih kuno, perempuan dianggap seperti barang yang dapat diperjualbelikan. Hadirnya hanya dipandang sebagai pelengkap, bukan manusia utuh yang juga punya hak.

Berangkat dari isu itulah, muncul pertanyaan, seberapa kuatkah peran perempuan, khususnya dalam tatanan sosial dan lingkungan?

Peran perempuan memang tidak selalu tampak ke permukaan. Namun, dampaknya sangat signifikan. Dalam urusan rumah tangga, misalnya, perempuan menopang beban lebih berat. Menurut laporan PBB yang dikutip oleh The Guardian (2025), perempuan secara global melakukan pekerjaan rumah tangga dan perawatan 2,5 kali lebih banyak dibanding laki-laki.

Selain itu, perempuan punya peran krusial dalam mendidik anak, baik secara akademis maupun non-akademis. Dalam penelitian terbaru yang diterbitkan Journal of Contemporary Gender and Child Studies (2025), perempuan terbukti memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan anak. Mereka hadir, mulai dari mendampingi anak belajar, memantau tugas, hingga terjun langsung untuk berkomunikasi dengan guru.

Peran perempuan dalam rumah tangga berkaitan langsung dengan nilai-nilai harmoni sosial. Melalui pendekatan emosional, para ibu menanamkan sikap toleransi, saling menghormati, hingga keadilan sejak dini. Anak-anak yang berbudi luhur merupakan bukti nyata dari pentingnya peran perempuan dalam melahirkan generasi yang lebih baik bagi masa depan.

Bergeser ke ranah publik, perempuan kian lantang menunjukkan kiprahnya di luar rumah. Mereka bekerja, berorganisasi, dan turut menjaga tatanan sosial dengan memperkuat nilai keadilan dan toleransi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Maha Elsinbawi dan Donna Wolosin (2023) yang menemukan bahwa perempuan secara signifikan lebih toleran daripada laki-laki, terutama dalam hal etika, diskusi rasional, serta penghormatan terhadap perbedaan pilihan individu.

Tidak berhenti di lingkup sosial, perempuan juga terlibat langsung mengelola sumber daya alam, baik di tingkat rumah tangga maupun komunitas. Pengelolaan sampah, air, dan energi erat kaitannya dengan urusan dapur yang lebih banyak dikelola oleh para perempuan.

Pada tingkat komunitas, petani perempuan memiliki dampak positif pada kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Dalam sebuah studi kuantitatif (2024), proporsi petani perempuan yang lebih tinggi di suatu daerah dikatakan dapat memberikan dampak pada harapan hidup yang lebih panjang, tingkat kemiskinan yang lebih rendah, dan tingkat kewirausahaan non-pertanian yang lebih tinggi. Dengan demikian, peran perempuan terbukti menjadi salah satu fondasi bagi kelestarian lingkungan.

2. Namun, perempuan harus menghadapi banyak tantangan dalam menjalani tiap perannya

ilustrasi seorang ibu bekerja di rumah (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Meski telah panjang lebar membeberkan betapa kuat dan pentingnya peran perempuan, dunia masih sering tutup mata. Sekat gender di lingkup sosial dan lingkungan belum juga terputus. Akibatnya, perempuan harus menghadapi begitu banyak tantangan dalam setiap peran yang mereka emban.

Pertama, perempuan kerap menjadi korban budaya patriarki. Kedudukan perempuan dianggap lebih rendah dibanding laki-laki, mulai dari ranah rumah tangga, publik, hingga sistem negara. Ironisnya, sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of Feminism and Gender Studies (2025) menyebut bahwa budaya patriarki masih melekat di Indonesia hingga saat ini.

Perempuan dianggap kurang produktif ketika lebih fokus menjalani peran di dapur. Namun, saat berusaha bedaya dengan mengejar karier, mereka tetap dikritik karena dianggap telah mengabaikan kodrat dalam mengurus rumah tangga. Tuntutan ganda inilah yang membuat perempuan harus berjuang lebih keras hanya demi pengakuan yang sudah selayaknya mereka dapatkan.

Kedua, ketidaksetaraan kesempatan masih membelenggu perempuan. Hal ini sangat kentara di berbagai ruang, seperti pendidikan, dunia kerja, sains dan teknologi, hingga panggung politik. Sebagai contoh, perempuan sering kali hanya dijadikan pemanis saat masuk dunia politik. Suara dan gagasan mereka belum sepenuhnya didengar dalam proses pengambilan keputusan.

Dalam dunia pendidikan, peran perempuan juga kerap dikesampingkan, seakan urgensinya tidak sepenting laki-laki. Kendati tidak separah dahulu, stigma pendidikan tinggi pada perempuan masih kuat. Lebih parahnya lagi, regulasi otonomi pemerintah daerah makin mempersempit jalan perempuan menuju pendidikan, sebagaimana yang dijelaskan Georgina Giannopoulos di laman East Asia Forum, 2024.

Ketiga, kurangnya ruang aman bagi perempuan menjadi hambatan paling memprihatinkan. Perempuan sangat rentan mengalami diskriminasi, kekerasan, hingga pelecehan seksual. Tidak cuma di ruang publik, perempuan bahkan sering kali tidak aman meski berada di dalam rumah.

Mencomot data perkiraan dari WHO, sekitar 1 dari 3 (30 persen) perempuan di seluruh dunia pernah menjadi korban kekerasan fisik dan/atau seksual dalam hidup mereka. Faktanya, sebagian besar pelaku merupakan pasangan intim, bukan orang lain. Sementara itu, data dari situs resmi pemerintah Kanada menunjukkan bahwa perempuan dan anak perempuan secara signifikan lebih mungkin mengalami segala bentuk KDRT dibandingkan laki-laki dan anak laki-laki.

3. Mari lebih menghargai dan mendorong peran perempuan di sekitar kita

ilustrasi pria bersama istri dan anaknya (pexels.com/Julia M Cameron)

Di samping gempuran stigma sosial, penguatan peran perempuan harus disuarakan lebih nyaring. Narasi tentang hak-hak perempuan tak boleh berhenti hanya di ruang seminar. Pembahasan ini penting guna menumbuhkan kesadaran masyarakat.

Edukasi ini sejatinya perlu dibangun mulai dari kalangan perempuan itu sendiri. Pasalnya, sebagian perempuan belum sepenuhnya menyadari tentang nilai dirinya. Jika perempuan sudah berani memperjuangkan haknya, kesadaran itu pun akan meluas ke lapisan masyarakat.

Sementara itu, tindakan nyata sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab bersama. Kita harus lebih menghargai dan mendorong setiap peran perempuan, baik di rumah, di ruang publik, maupun di media sosial. Sejalan dengan itu, perempuan juga layak diberikan perlindungan dan ruang aman agar bebas dari kekerasan dan pelecehan.

Kebijakan yang adil juga perlu diperluas. Di dunia kerja dan pendidikan, misalnya, perempuan berhak mendapat kesempatan yang sama tanpa diskriminasi. Akses yang setara dapat memperkuat peran perempuan dalam masyarakat, serta meningkatkan status sosial dan finansial keluarga mereka, seperti temuan dalam kajian yang dimuat AL MA’ARIEF: Jurnal Pendidikan Sosial dan Budaya (2024).

Demi mendukung gerakan ini, peran pemerintah wajib dilibatkan, terutama di daerah yang masih konservatif. Sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam laman East Asia Forum (2024), peraturan daerah harus dibuat sejalan dengan tujuan kesetaraan gender nasional. Ruang gerak perempuan harus dibuka lebih lebar, terlepas di mana pun mereka berada.

Mengikis stereotip gender pada perempuan adalah perjuangan panjang yang membutuhkan keterlibatan semua pihak. Jangan biarkan peran mereka sebagai pilar harmoni sosial dan lingkungan semakin tenggelam. Tanpa peran perempuan, mustahil tercipta masyarakat yang adil, toleran, dan inklusif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team