Ketika wolf moon muncul sebagai purnama pertama tahun, ia sering dipahami sekadar sebagai fenomena astronomi. Bulan yang lebih besar, lebih terang, dan romantis untuk difoto. Namun, jauh sebelum teleskop, kamera, dan kalender modern ada, manusia purba sudah membaca bulan sebagai bahasa kosmik. Mulai dari penanda musim, waktu ritual, bahkan penentu nasib kolektif. Wolf moon atau purnama musim dingin di awal tahun menjadi momen sakral, karena ia hadir di masa alam paling sunyi, saat manusia bergantung penuh pada tanda-tanda langit untuk bertahan hidup. Di titik inilah arsitektur kuno mulai ‘berdialog’ dengan bulan.
Menariknya, tidak sedikit situs arkeologis dan bangunan purba di dunia yang ternyata disusun dengan ketelitian luar biasa untuk mengikuti ritme lunar, bukan hanya matahari. Meski istilah wolf moon sendiri berasal dari budaya Amerika Utara, esensinya ternyata memiliki gema kosmik lintas peradaban. Dari tanah Amerika pra-Kolumbus hingga batu-batu Neolitik Eropa. Jejak manusia purba menunjukkan satu hal, bulan bukan sekadar penerang malam, melainkan kompas waktu dan spiritualitas. Yuk, kita telusuri apa saja jejak peradaban tempo dulu pada bulan purnama di bulan Januari kali ini!
