Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi kamuflase gurita.
Ilustrasi kamuflase gurita. (pexels.com/Berthold Grünhagen)

Intinya sih...

  • Gurita mampu mengubah warna dan tekstur kulitnya dalam sekejap mata berkat ribuan sel pigmen bernama kromatofor yang bekerja seperti balon warna

  • Gurita menggunakan kemampuan penyamaran sebagai senjata mematikan untuk berburu mangsa, serta sebagai bentuk komunikasi emosi dan ekspresi

  • Gurita memiliki dua fase tidur, yaitu fase pasif dan fase aktif, pada fase tidur aktif ini tubuh gurita tiba-tiba berubah warna, tekstur kulitnya menjadi berbintil

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di dunia hewan, kemampuan untuk "menghilang" adalah salah satu senjata bertahan hidup yang paling mematikan sekaligus mempesona. Dari bunglon di dahan pohon hingga macan tutul di antara semak kering, kamuflase menjadi kunci utama untuk menghindari maut atau justru menjemput mangsa. Namun, jika ada satu makhluk yang layak dinobatkan sebagai raja penyamaran yang tak tertandingi, dialah gurita.

Gurita mampu mengubah warna dan tekstur kulitnya dalam sekejap mata berkat sel khusus yang dimilikinya. Hebatnya, meski sebenarnya buta warna, mereka tetap bisa meniru lingkungan sekitarnya dengan sangat akurat karena lengannya memiliki protein opsin untuk "merasakan" cahaya dan pupil mata unik yang membantunya mengenali warna melalui pembiasan cahaya.

Lantas, apa yang sebenarnya mendorong moluska bertubuh lunak ini melakukan transformasi instan tersebut? Mari kita menyelam lebih dalam untuk menyingkap rahasia biologis dan alasan cerdik di balik kemampuan ajaib gurita dalam artikel berikut ini!

1. Pertahanan diri, alias kamuflase

Mimic octopus (Thaumoctopus mimicus). (commons.wikimedia.org/Elias Levy)

Gurita adalah ahli penyamaran yang mampu mengubah penampilan tubuhnya hanya dalam hitungan milidetik untuk bertahan hidup dari predator. Kemampuan luar biasa ini didukung oleh ribuan sel pigmen bernama kromatofor yang bekerja seperti balon warna yang bisa melebar atau mengerut untuk menciptakan pola tertentu. Jika warna yang dibutuhkan tidak tersedia pada pigmen alami mereka, sel iridofor akan membantu memantulkan cahaya untuk menciptakan warna biru atau hijau. Selain warna, gurita juga menggunakan otot papila untuk mengubah tekstur kulitnya dari halus menjadi berduri atau kasar, sehingga tubuh mereka benar-benar menyatu dengan karang atau pasir di sekelilingnya.

Lebih hebat lagi, ada spesies khusus bernama Gurita penyamar (Thaumoctopus mimicus) yang tidak sekadar bersembunyi, tetapi aktif meniru bentuk dan gerakan hewan laut beracun lainnya. Ia bisa mengubah posisi lengan dan cara berenangnya agar terlihat seperti ular laut, ikan singa, atau ikan pipih, tergantung pada jenis predator yang mengancamnya. Seperti sebuah tindakan refleks, keunikan gurita dibandingkan hewan lain adalah kecepatannya dalam beradaptasi, mereka bisa langsung menyatu dengan lingkungan yang sama sekali baru atau asing bagi mereka hanya dalam sekejap mata.

2. Berburu mangsa

Ilustrasi kamuflase gurita. (unsplash.com/Roger Darnell)

Gurita adalah predator cerdik yang menggunakan kemampuan penyamaran sebagai senjata mematikan untuk berburu. Dengan memanfaatkan sel kromatofor dan otot papila, mereka bisa mengubah warna serta tekstur kulitnya hingga terlihat persis seperti gundukan pasir atau terumbu karang yang tidak bergerak. Teknik "tak kasat mata" ini membuat gurita bisa merayap mendekati mangsa, seperti kepiting atau ikan kecil, tanpa terlihat sedikit pun. Begitu jaraknya sudah cukup dekat, gurita akan menyerang dengan kecepatan kilat sebelum mangsa sempat menyadari bahaya yang mengancam.

Selain bersembunyi, beberapa gurita juga menggunakan pola warna yang dinamis untuk membingungkan korbannya. Mereka mampu menciptakan efek warna yang bergelombang atau berdenyut cepat di sekujur tubuhnya, yang berfungsi seperti lampu kilat untuk "menghipnotis" atau mengalihkan perhatian mangsa. Saat mangsa terdiam karena bingung melihat perubahan warna yang mencolok tersebut, moluska bertubuh lunak ini akan langsung menjulurkan lengan-lengannya yang kuat untuk menangkap mangsa dengan sangat akurat.

3. Sebagai bentuk komunikasi dan ekspresi emosi

Gurita Sydney Biasa (Octopus tetricus). (commons.wikimedia.org/Niki Hubbard)

Penelitian terbaru terhadap gurita spesies Octopus tetricus di Australia mengungkapkan bahwa perubahan warna kulit mereka juga berfungsi sebagai alat komunikasi emosi, terutama saat terjadi konflik. Para ahli menemukan bahwa gurita akan mengubah warna kulitnya menjadi lebih gelap ketika merasa agresif atau ingin mengintimidasi lawan. Jika dua gurita berwarna gelap bertemu, perkelahian biasanya akan terjadi. Sebaliknya, gurita yang merasa kalah atau ingin menghindari keributan akan mengubah warnanya menjadi pucat dan segera berenang menjauh.

Selain permainan warna, moluska bertubuh lunak ini juga menggunakan bahasa tubuh untuk mempertegas pesan mereka. Mereka sering melakukan pose "berdiri tegak" dengan merentangkan lengan dan mengangkat mantel tubuhnya agar terlihat lebih besar dan kuat di hadapan saingannya. Awalnya, posisi ini dikira dilakukan untuk melihat predator dengan lebih jelas, tetapi peneliti kini yakin bahwa itu adalah cara mereka mengintimidasi lawan tanpa perlu melakukan kontak fisik. Jadi, kemampuan luar biasa gurita dalam mengubah wujud bukan sekadar untuk kamuflase, tetapi juga menjadi cara cerdas untuk menunjukkan kekuatan dan mengatur hubungan dengan sesama gurita.

4. Untuk mencari pasangan

Ilustrasi kamuflase gurita. (pexels.com/Elliot Connor)

Meski gurita sering dianggap sebagai hewan penyendiri yang antisosial, mereka tetap menggunakan perubahan warna saat tiba waktunya mencari pasangan. Dilansir National Geographic, untuk memikat betina atau memperingatkan jantan saingan, mereka akan menampilkan pola warna tertentu, seperti gurita siang jantan yang tubuhnya akan memucat tetapi memperlihatkan garis-garis hitam yang tegas. Pola ini berfungsi sebagai sinyal visual sederhana untuk menunjukkan niat mereka, sehingga interaksi yang jarang terjadi antar sesama gurita bisa berjalan lebih jelas tanpa perlu banyak kontak fisik.

Strategi yang lebih unik dilakukan oleh spesies sefalopoda lain, seperti sotong raksasa Australia. Jantan yang bertubuh kecil sering kali menggunakan tipu muslihat dengan mengubah warna dan postur tubuhnya agar terlihat seperti betina. Penyamaran ini memungkinkan mereka mengendap-endap mendekati betina di bawah pengawasan jantan yang lebih besar. Bahkan, beberapa spesies sotong mampu membelah pola warna di tubuh mereka menjadi dua sisi yang berbeda sekaligus, dengan satu sisi menunjukkan pola cantik untuk merayu betina, sementara sisi lainnya menunjukkan pola penipuan untuk mengelabui saingannya.

5. Bermimpi

Ilustrasi kamuflase gurita. (unsplash.com/Vlad Tchompalov)

Penelitian dari Brasil mengungkapkan bahwa gurita memiliki dua fase tidur, yaitu fase pasif dan fase aktif. Saat tidur pasif, mereka tampak sangat tenang, pucat, dan bernapas teratur. Namun, setiap 30–40 menit, mereka memasuki fase tidur aktif yang singkat selama 1–2 menit. Pada fase inilah tubuh gurita tiba-tiba berubah warna, tekstur kulitnya menjadi berbintil, serta mata dan lengannya bergerak-gerak. Meski terlihat sangat aktif, gurita sebenarnya sedang tidur nyenyak dan tidak merespons rangsangan dari luar, seperti getaran atau pemandangan mangsa di sekitarnya.

Para ahli berpendapat bahwa fase tidur aktif ini serupa dengan fase tidur REM (Rapid Eye Movement) pada manusia, yaitu saat di mana kita bermimpi. Karena gurita sangat cerdas dengan lebih dari 500 juta saraf yang tersebar hingga ke lengan mereka, perubahan warna saat tidur ini diduga kuat merupakan reaksi fisik saat otak mereka memproses kembali ingatan atau pengalaman yang dialami sebelumnya. Jadi, meski mungkin tidak berbentuk cerita panjang seperti mimpi manusia, perubahan warna kulit tersebut menjadi bukti adanya "kehidupan batin" atau aktivitas mental yang luar biasa saat sang gurita sedang beristirahat.

Unik, bukan? Kemampuan gurita mengubah wujud bukan sekadar trik visual, melainkan strategi bertahan hidup yang luar biasa untuk bersembunyi dari musuh, berburu mangsa, hingga berkomunikasi saat mencari pasangan. Keajaiban ini didukung oleh sistem saraf yang sangat canggih, yang bahkan tetap bekerja mengubah warna kulit mereka saat sedang tertidur dan bermimpi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team