Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Benteng Marlborough, Saksi Bisu Kejayaan nan Pilu
Benteng Marlborough (Crisco 1492, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Benteng Marlborough dibangun oleh East India Company antara 1714–1719 sebagai benteng terbesar Inggris di Asia Tenggara dan pusat perdagangan rempah di Bengkulu.
  • Bangunan ini memiliki arsitektur unik menyerupai kura-kura, pernah dibakar rakyat Bengkulu tahun 1719, serta berpindah tangan dari Inggris ke Belanda, Jepang, hingga akhirnya menjadi milik Indonesia.
  • Kini Benteng Marlborough ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 1977 dan menjadi destinasi wisata sejarah edukatif yang menampilkan meriam, ruang tahanan, serta panorama Samudra Hindia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Benteng Marlborough di Bengkulu punya banyak cerita yang menggetarkan jiwa. Bangunan megah ini bukan sekadar tumpukan batu tua, melainkan saksi bisu perjalanan panjang sejarah Indonesia. Didirikan oleh kongsi dagang East India Company (EIC) antara tahun 1714 hingga 1719, benteng ini merupakan warisan kolonial Inggris yang monumental. Ia berdiri gagah di tepi Pantai Tapak Padri, menghadap langsung Samudra Hindia yang luas.

Tujuan pembangunannya sangat jelas, yaitu sebagai basis pertahanan dan pusat perdagangan rempah kala itu. Kehadirannya menggantikan Benteng York yang sebelumnya dianggap kurang strategis dan rentan penyakit. Nama "Marlborough" sendiri diambil dari seorang jenderal militer Inggris ternama, John Churchill Duke of Marlborough, untuk mengenang jasanya. Kini, benteng bersejarah ini masih kokoh berdiri dan menjadi daya tarik wisata di Bengkulu, menawarkan kisah dari masa lalu. Berikut adalah lima fakta Benteng Marlborough yang bikin kita menganga!

1. Inggris membangun benteng terbesar di Asia Tenggara

Benteng Marlborough (Crisco 1492, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Benteng Marlborough memang tidak main-main ukurannya. Bangunan pertahanan ini tercatat sebagai benteng terbesar yang pernah didirikan oleh Kerajaan Inggris di seluruh Asia Tenggara. Keberadaannya menunjukkan betapa vitalnya Bengkulu bagi Inggris di masa kolonial, terutama sebagai ladang lada terbesar di Sumatra. Luas benteng ini mencapai sekitar 44.000 meter persegi, menjadikannya sangat dominan di kawasan tersebut.

Tak hanya terbesar, Benteng Marlborough juga disebut sebagai benteng terkuat kedua milik Inggris, hanya kalah dari Benteng St. George yang ada di Madras, India. Dengan ketinggian dinding lebih dari 8 meter dan ketebalan hingga 3 meter, benteng ini dirancang untuk sulit ditembus musuh. Benteng yang gagah ini juga dilengkapi dengan 72 buah meriam sebagai alat pertahanan utama, siap menghadang ancaman dari laut maupun darat.

2. Arsitektur benteng menyerupai kura-kura dengan pintu masuk sebagai kepalanya

potret Benteng Marlborough dari udara di Kota Bengkulu (sbamueller, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Satu hal yang membuat Benteng Marlborough begitu istimewa adalah desain arsitekturnya yang unik dan menawan. Jika dilihat dari ketinggian, benteng ini punya bentuk yang menyerupai kura-kura raksasa yang sedang beristirahat. Bagian pintu masuk utamanya disebut sebagai kepala kura-kura, lengkap dengan jembatan yang dulunya bisa diangkat untuk mencegah serangan musuh yang datang.

Sementara itu, bagian badan kura-kura adalah area luas benteng itu sendiri, mencakup berbagai fasilitas penting di dalamnya. Bentuk bangunan seperti ini sebenarnya menjadi ciri khas benteng-benteng yang dibangun oleh bangsa Eropa pada masa lalu. Desain kura-kura ini mungkin punya makna strategis, memberikan perlindungan maksimal dari berbagai ancaman serangan musuh yang datang silih berganti.

3. Benteng ini pernah dibakar dan berkali-kali berpindah kepemilikan

ilustrasi kebakaran (pexels.com/Pixabay)

Meskipun dibangun kokoh dan megah, Benteng Marlborough bukan tanpa cela dari perlawanan sengit rakyat. Sejarah mencatat bahwa benteng ini pernah dibakar oleh rakyat Bengkulu pada tahun 1719 sebagai bentuk protes dan perlawanan terhadap penjajahan Inggris yang sewenang-wenang. Peristiwa heroik ini bahkan memaksa banyak orang Inggris untuk mengungsi dan menyelamatkan diri ke Madras, India.

Perlawanan rakyat Bengkulu tidak berhenti di situ saja. Pada tahun 1793 dan 1807, serangan kembali terjadi, bahkan menyebabkan tewasnya pejabat-pejabat Inggris penting seperti Residen Thomas Parr. Seiring waktu, benteng ini juga berkali-kali berpindah tangan, dari Inggris ke Belanda, lalu Jepang, hingga akhirnya sepenuhnya menjadi milik Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.

4. Letaknya strategis di tepi Pantai Tapak Padri dan Samudra Hindia

Benteng Marlborough (Crisco 1492, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Penempatan Benteng Marlborough ini sangat diperhitungkan secara militer dan ekonomi. Benteng ini berdiri megah di tepi Pantai Tapak Padri, dengan bagian belakang yang kokoh menghadap langsung Samudra Hindia yang luas dan bergelora. Posisi ini memberikan keuntungan strategis yang luar biasa bagi pertahanan Inggris di masa lampau, menjadikannya titik kontrol penting.

Dari lokasi ini, Inggris bisa dengan leluasa memantau lalu lintas pelayaran dan perdagangan rempah, khususnya lada, yang saat itu menjadi komoditas sangat penting dan bernilai tinggi. Selain sebagai benteng pertahanan, lokasinya yang indah kini menjadikannya daya tarik utama bagi wisatawan. Pengunjung bisa menikmati keindahan laut sambil menyelami dalam-dalam lembaran sejarah yang ada di sana.

5. Kini Benteng Marlborough menjadi destinasi wisata sejarah yang edukatif

potret meriam di Benteng Marlborough (Crisco 1492, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Setelah melalui berbagai fase sejarah yang penuh gejolak, Benteng Marlborough kini berfungsi sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Bengkulu. Pemerintah Indonesia telah memugar dan menetapkannya sebagai cagar budaya daerah sejak tahun 1977, memastikan kelestarian sejarahnya. Pengunjung bisa menjelajahi berbagai ruangan bekas kantor, ruang tahanan yang dingin, dan gudang senjata yang masih terjaga keasliannya.

Di dalam area benteng, 72 meriam yang menjadi saksi bisu perjuangan masa lalu masih bisa ditemukan, seolah menanti untuk menceritakan kisahnya. Selain itu, parit pertahanan dan bastion di empat sudut benteng juga menambah kesan otentik dari bangunan bersejarah ini. Dengan tiket masuk yang terjangkau, benteng ini menawarkan pengalaman edukatif yang menarik untuk memahami lebih dalam sejarah kolonial dan perlawanan di Indonesia.

Benteng Marlborough bukan sekadar tumpukan batu tua yang kokoh, melainkan sebuah monumen hidup yang menceritakan perjalanan panjang bangsa ini. Dari kejayaan kolonial hingga semangat perlawanan rakyat yang tak pernah padam, setiap sudutnya menyimpan pelajaran berharga yang patut kita kenang dan lestarikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team