Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
burung cucak rawa
burung cucak rawa (ebird.org/Karyne Wee)

Intinya sih...

  • Cucak rawa adalah burung pengicau langka di Asia Tenggara

  • Burung ini terancam punah akibat perdagangan ilegal dan habitat yang menyusut

  • Perilaku, ekologi, pembiakan, dan status konservasi cucak rawa yang sangat kritis

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) adalah salah satu burung pengicau paling dicari di Asia Tenggara karena suara merdunya yang kaya dan sering terdengar jauh. Suaranya yang khas sering jadi alasan burung ini diminati dalam dunia songbird tradisional di wilayah ini. Sayangnya, daya tarik tersebut juga membuat populasinya anjlok drastis akibat perdagangan ilegal burung hidup.

Habitat alami burung ini dulu luas di wilayah Malay Peninsula, Borneo, Sumatra, dan sebagian besar pulau besar Asia Tenggara lain, tapi kini tersisa populasi kecil yang terancam punah. Statusnya yang kritis menunjukkan betapa kuatnya dampak manusia terhadap spesies yang dulunya umum ini. Supaya makin paham kelangkaan dan keunikan burung ini, berikut beberapa fakta menarik sekaligus penting yang perlu diketahui! Yuk simak dengan seksama!

1. Ciri fisik khas dengan suara yang merdu

burung cucak rawa (ebird.org/Forest Botial-Jarvis)

Cucak rawa tergolong burung pengicau berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 28–29 cm, menjadikannya salah satu anggota bulbul terbesar di wilayahnya. Tubuhnya terlihat jelas berwarna cokelat kekuningan dengan mahkota kepala yang lebih terang mirip jerami, sehingga mudah dikenali di antara penduduk hutan.

Suara burung ini sangat khas yaitu serangkaian peluit dan nyanyian melodis yang jernih sering terdengar seperti seruan jauh yang kompleks dan harmonis. Pola nyanyiannya yang mampu terdengar dari kejauhan ini membuatnya sangat dicari oleh penggemar burung bernyanyi (songbird). Selain itu, perbedaan ukuran antara jantan dan betina tidak terlalu mencolok, meski betina kadang sedikit lebih kecil secara fisik.

2. Habitat dan ancaman yang semakin nyata

burung cucak rawa (ebird.org/Khaleb Yordan)

Habitat cucak rawa umumnya berada di hutan dataran rendah yang lembap, terutama di pinggiran sungai, rawa, dan semak yang dekat dengan sumber air. Tempat‑tempat ini menyediakan buah‑buahan dan serangga yang menjadi makanan utama burung tersebut.

Sayangnya, habitat alami ini makin menyusut karena deforestasi dan konversi lahan untuk pertanian serta perluasan pemukiman manusia. Ancaman terbesar justru datang dari perdagangan burung hidup yang sangat marak di beberapa negara Asia Tenggara, di mana burung dicari untuk kompetisi lagu atau sebagai status sosial. Perdagangan ilegal ini telah menghancurkan banyak populasi liar sehingga burung ini kini sangat sulit ditemui di bekas wilayahnya seperti Thailand dan Jawa.

3. Perilaku dan ekologi yang menarik

burung cucak rawa (ebird.org/Yifei Zheng)

Burung ini cenderung hidup di wilayah dekat sungai dan semak yang tinggi, dan sering terlihat dalam kelompok kecil atau pasangan sambil mencari buah‑buahan atau serangga. Aktivitas makan mereka bukan sekadar mencari makan saja, tapi juga membantu penyebaran biji dari buah yang dikonsumsi, sehingga memiliki peran ekologis dalam regenerasi hutan lokal.

Selain makan buah, cucak rawa juga memangsa serangga kecil, laba‑laba, dan invertebrata lain untuk melengkapi asupan nutrisinya. Keberadaan mereka biasanya terdeteksi lebih sering melalui nyanyian khasnya daripada penampakan fisik karena burung ini sering bersembunyi di dahannya.

4. Pembiakan yang rumit dan penting

burung cucak rawa (ebird.org/Jen Wei Yip)

Musim kawin cucak rawa biasanya terjadi sepanjang bulan yang banyak buah tersedia, terutama saat musim hujan. Pasangan burung ini akan membangun sarang berbentuk mangkuk di semak yang rapat, terbuat dari ranting kecil, akar, dan serat tanaman.

Betina biasanya meletakkan dua sampai tiga telur, dan kedua induk bergiliran menjaga serta memberi makan anak burung sampai mereka bisa terbang sendiri. Peran kedua orang tua dalam merawat anak menunjukkan komitmen tinggi untuk mempertahankan keturunannya, meski populasi sudah sangat terancam.

5. Status konservasi yang sangat kritis

burung cucak rawa (ebird.org/Chris Venetz | Ornis Birding Expeditions)

Menurut IUCN Red List, cucak rawa masuk dalam kategori Critically Endangered atau sangat terancam punah, artinya kemungkinan besar akan musnah total kalau ancaman serius terus berlanjut. Populasi liar saat ini diperkirakan kurang dari beberapa ribu individu dan terus menurun drastis.

Beberapa wilayah seperti Singapura justru menjadi benteng terakhir bagi sebagian populasi burung ini karena adanya perlindungan hukum yang ketat serta program pelestarian habitat. Sedangkan di sejumlah negara lain, burung ini sudah dianggap punah lokal karena tak lagi ditemukan di alam bebas. Upaya konservasi seperti perlindungan habitat dan penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal jadi kunci untuk memberi peluang bagi kelangsungan hidup spesies unik ini.

Cucak rawa bukan cuma simbol keindahan suara alam, tapi juga cerminan betapa rapuhnya keseimbangan ekosistem ketika tekanan manusia terlalu besar. Fakta‑fakta uniknya memicu rasa hormat sekaligus kesadaran untuk peduli lebih jauh pada kelangsungan hidup spesies yang kini sangat terancam punah. Berbagi kisah tentang burung ini dan mendukung upaya pelestarian bisa jadi langkah kecil tapi berarti bagi alam yang masih butuh banyak suara merdu liar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team