Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
puffin bertanduk
puffin bertanduk (commons.wikimedia.org/Alaska Region U.S. Fish & Wildlife Service)

Intinya sih...

  • Individu jantan dan betina punya warna tubuh yang sama

  • Puffin bertanduk merupakan spesies monomorphic

  • Warna tubuh sama, tidak bisa dibedakan dari kolorasinya

  • Populasinya tidak terancam

  • Masuk ke kategori least concern dengan populasi sekitar 800,000 individu di alam liar

  • Berbeda dari puffin atlantik yang rentan akan kepunahan

  • Bisa mengeluarkan vokalisasi bernada rendah

  • Vokal dan suara berbeda-beda, termasuk suara "arr-arr-arr" dan "A-gaa-kah

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Selain penguin, ada satu jenis burung lain yang terkenal akan kemampuan berenangnya, yaitu puffin. Di balik perawakannya yang terlihat lucu dengan badan kecil dan paruh berwarna cerah, burung puffin ternyata merupakan pemburu ganas yang bisa menyelam di perairan dingin. Spesiesnya juga ada banyak dan salah satunya adalah Fratercula corniculata atau puffin bertanduk.

Selain itu, kamu juga bisa mengenalnya dari berbagai fakta menarik puffin bertanduk yang mencerminkan kehidupan dan kebiasaannya. Salah satu faktanya adalah individu jantan dan betina punya warna tubuh serupa. Soal populasi, puffin bertanduk juga tidak terancam punah. Mampu menyelam sedalam 30 meter, unggas ini juga sangat tangkas. Mau tahu semua hal tersebut? Berikut pembahasannya.

1. Individu jantan dan betina punya warna tubuh yang sama

puffin bertanduk (commons.wikimedia.org/Diego Delso)

Laman Alaska Sea Life menerangkan kalau puffin bertanduk merupakan spesies monomorphic. Artinya individu jantan dan betina memiliki warna tubuh yang sama. Jadi untuk membedakan jenis kelaminnya tak bisa dilihat hanya dari kolorasinya. Hal tersebut menjadi unik karena biasanya burung jantan memiliki warna yang lebih cerah dan mencolok dari individu betina.

Bagian atas tubuh unggas ini berwarna hitam, wajah dan perutnya putih, dan kakinya kuning. Paruhnya lebar, besar, pendek, dan punya perpaduan kuning, jingga, hitam, dan merah. Di musim kawin unggas ini akan menumbuhkan "tanduk" kecil berdaging di area mata, serupa dengan namanya. Panjangnya sendiri 20 centimeter, bobotnya 400-500 gram, dan bentang sayapnya mencapai 58 centimeter.

2. Populasinya tidak terancam

puffin bertanduk (commons.wikimedia.org/Gregory "Slobirdr" Smith)

Berbeda dari kerabatnya, yaitu puffin atlantik yang merupakan hewan terancam, populasi puffin bertanduk justru cukup berlimpah. Data dari BirdLife DataZone menerangkan kalau puffin bertanduk masuk ke kategori least concern (risiko rendah) dan masih ada sekitar 800,000 individu di alam liar. Artinya ia tidak terancam dan tak memiliki risiko kepunahan.

Di sisi lain, puffin atlantik masuk ke kategori vurnerable yang artinya ia rentan akan kepunahan. Sayangnya entah itu puffin bertanduk atau puffin atlantik sama-sama menghadapi kerusakan habitat, perubahan iklim, hingga perburuan liar. Jadi populasi mereka kian menurun. Soal penyebaran, puffin bertanduk menghuni area Jepang, Russia, Kanada, hingga Alaska di Amerika Serikat.

3. Bisa mengeluarkan vokalisasi bernada rendah

puffin bertanduk (commons.wikimedia.org/USFWSAlaska)

Sama seperti unggas lain, puffin bertanduk merupakan hewan yang cukup vokal dan bisa mengeluarkan berbagai jenis suara. Menariknya, laman iNaturalist menerangkan kalau suara yang dikeluarkan burung ini memiliki nada rendah. Salah satu suaranya yang paling umum berbunyi, "arr-arr-arr." Kemudian saat puffin bertanduk merasa terancam suaranya akan berubah menjadi, "A-gaa-kah-kha-kha." Untuk menaril perhatian lawan jenis di musim kawin, suara, "Op-op-op-op-op", juga akan dikeluarkan.

4. Setengah waktunya dihabiskan di perairan

puffin bertanduk (commons.wikimedia.org/scott1346)

Laman Animalia menerangkan kalau setengah waktu puffin bertanduk dihabiskan di perairan. Di perairan ia akan berenang, sekadar beterbangan di lautan, menyelam, atau beraktivitas di pinggir pantai. Saat tidak berada di perairan, puffin bertanduk akan memanjat tebing, bebatuan yang tinggi, atau masuk ke sela-sela batu untuk bersembunyi. Burung ini hidup dalam koloni raksasa yang bisa beranggotakan hingga 10,000 individu. Kehidupan berkoloni sendiri merupakan strategi bertahan hidup yang efektif untuk menghindari predator dan agar burung ini bisa mengawasi satu sama lain.

5. Mampu menyelam hingga 30 meter saat berburu

puffin bertanduk (commons.wikimedia.org/USFWSAlaska)

Makanan utama puffin bertanduk adalah ikan, invertebrata kecil, krusetasea, cacing, dan moluska. Di mana puffin bertanduk mendapatkan semua makanan tersebut? Tentunya di dalam laut. Untuk itu, burung ini mengembangkan kemampuan berenang dan menyelam tingkat tinggi agar bisa mendapatkan mangsa dengan mudah.

Dilansir Avibase, puffin bertanduk bisa menyelam hingga kedalaman 30 meter. Namun, di banyak kesempatan ia lebih sering menyelam di kedalaman 15 meter. Saat menyelam ia juga sangat cepat, bahkan unggas ini mampu menyelam dan mendapatkan mangsa hanya dalam waktu 20-30 detik. Saat berburu ia mengandalkan tubuh aerodinamis, paruh kuat dan besar, serta bulu anti air.

Mencerminkan burung air yang gesit dan tangkas, puffin bertanduk dianugerahi kemampuan dan adaptasi yang luar biasa. Semua adaptasi dan kemampuan tersebut juga tercermin dari fakta menarik puffin bertanduk yang belum tentu nampak di burung lain. Jika ditelaah lebih dalam, semua kemampuan yang ia miliki merupakan aspek penting yang mendukung keberlangsungan hidupnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team