Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret puncak Mauna Kea saat musim dingin
potret puncak Mauna Kea saat musim dingin (USGS, Public Domain, via WIkimedia Commons)

Intinya sih...

  • Mauna Kea adalah gunung tertinggi di dunia jika diukur dari dasarnya di laut

  • Gunung ini merupakan tempat paling sakral bagi penduduk asli Hawaii

  • Letusan terakhirnya terjadi ribuan tahun yang lalu tapi masih berpotensi aktif

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jauh di tengah Samudra Pasifik, di Pulau Hawaii, berdiri sebuah raksasa megah bernama Mauna Kea. Ini bukanlah sekadar gunung berapi biasa, melainkan sebuah tempat di mana langit dan bumi bertemu dalam harmoni yang sakral. Bagi dunia, Mauna Kea dikenal sebagai salah satu titik pengamatan bintang terbaik, namun bagi masyarakat adat Hawaii, gunung ini adalah jantung spiritual dan tanah leluhur yang suci.

Ketenangan puncaknya yang sering diselimuti salju kini terusik oleh perdebatan panjang. Di satu sisi, para ilmuwan dari seluruh dunia ingin membangun teleskop raksasa untuk menguak misteri alam semesta. Di sisi lain, penduduk asli Hawaii berjuang untuk melindungi kesucian Mauna Kea dari pembangunan yang dianggap mencemari tempat para dewa bersemayam. Inilah kisah tentang gunung agung yang menjadi saksi bisu pertarungan antara pengetahuan modern dan kearifan kuno.

1. Mauna Kea adalah gunung tertinggi di dunia jika diukur dari dasarnya di laut

puncak Mauna Kea yang diselimuti salju, terlihat menjulang dari laut (Vadim Kurland, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Banyak dari kita mungkin mengira Gunung Everest adalah pemenangnya, tapi tunggu dulu. Jika kita mengukur sebuah gunung dari puncaknya hingga ke kaki yang terbenam di dasar samudra, Mauna Kea adalah juaranya. Dilansir dari laman Mauna Kea Education and Awareness (MKEA), ketinggian total gunung ini mencapai lebih dari 33.000 kaki atau sekitar 10.200 meter dari dasar laut, dengan puncak setinggi 4.205 meter di atas permukaan laut. Ini menjadikannya lebih tinggi dari Everest secara keseluruhan. Namun, untuk urusan volume, Mauna Kea harus mengakui keunggulan tetangganya, Mauna Loa.

Menurut South Kohala Management, Mauna Kea mulai terbentuk sebagai gunung berapi bawah laut sekitar satu juta tahun yang lalu. Lava yang terus mengalir perlahan-lahan membangun tubuhnya hingga akhirnya muncul ke permukaan sekitar 500.000 tahun yang lalu. Fakta ini menegaskan bahwa apa yang kita lihat di daratan hanyalah sebagian kecil dari kemegahan sejati Mauna Kea, sebuah keajaiban geologi yang tersembunyi di kedalaman Pasifik.

2. Gunung ini merupakan tempat paling sakral bagi penduduk asli Hawaii

potret Mauna Kea dari satelit (Axelspace Corporation, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Bagi masyarakat adat Hawaii, Mauna Kea bukanlah sekadar gunung, melainkan "Mauna a Wākea," atau Gunung Milik Wākea, sang ayah langit. Dalam tradisi mereka, gunung ini adalah tempat suci (kapu), ranah para dewa (Wao Akua), dan dianggap sebagai pusat spiritual atau piko dari Pulau Hawaii. Di sinilah dewi salju, Poliʻahu, dan dewi-dewi lainnya bersemayam, menjadikan setiap jengkal tanahnya penuh makna.

Kesuciannya dibuktikan dengan adanya banyak situs kuno di puncaknya. Menurut MKEA, terdapat ratusan properti bersejarah, termasuk kuil-kuil kuno (heiaus) dan makam para leluhur (ʻiwi kūpuna). Danau Waiau yang berada di dekat puncak juga memiliki peran penting. Airnya yang jernih dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan dan digunakan oleh para kepala suku di masa lalu untuk mempelajari bintang-bintang yang terpantul di permukaannya untuk navigasi.

3. Letusan terakhirnya terjadi ribuan tahun yang lalu tapi masih berpotensi aktif

ilustrasi letusan gunung berapi (pixabay.com/Gylfi Gylfason)

Meskipun terlihat tenang, Mauna Kea adalah gunung berapi yang sedang tertidur, bukan mati. Menurut data U.S. Geological Survey (USGS), letusan terakhirnya diperkirakan terjadi antara 4.000 hingga 6.000 tahun yang lalu. Laman Global Volcanism Program dari Smithsonian Institution juga mencatat bahwa antara 6.000 hingga 4.000 tahun lalu, erupsi terjadi setidaknya dari tujuh kawah yang berbeda.

Para ahli vulkanologi mengklasifikasikan Mauna Kea sebagai gunung berapi yang telah melewati fase shield-building (pembentukan perisai) dan kini berada di tahap post-shield. Artinya, letusannya di masa depan cenderung lebih eksplosif dan menghasilkan kerucut bara (cinder cone) yang membuat puncaknya memiliki kontur tidak beraturan. USGS menegaskan bahwa Mauna Kea hampir pasti akan meletus lagi, meskipun waktunya tidak dapat diprediksi.

4. Puncaknya menjadi lokasi terbaik di dunia untuk pengamatan astronomi

potret deretan observatorium di dekat puncak Mauna Kea (Generic1139, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Puncak Mauna Kea yang menjulang tinggi di atas 40% atmosfer bumi membuatnya menjadi jendela ideal untuk menatap alam semesta. Lokasinya yang terisolasi di tengah Samudra Pasifik, jauh dari polusi cahaya kota-kota besar, serta atmosfernya yang kering dan stabil, menyediakan kondisi pengamatan yang sangat jernih. Faktor-faktor inilah yang menarik para astronom dari berbagai negara.

Dilansir dari South Kohala Management, jalan akses menuju puncak dibangun pada tahun 1964, yang membuka jalan bagi penelitian ilmiah. Teleskop pertama selesai dibangun pada tahun 1970, dan sejak saat itu, belasan observatorium internasional telah berdiri di sana. Para ilmuwan memanfaatkannya untuk mempelajari galaksi jauh, lubang hitam, dan asal-usul alam semesta, menjadikan Mauna Kea sebagai salah satu pusat astronomi terpenting di planet ini.

5. Pembangunan teleskop raksasa memicu protes dan perdebatan sengit

ilustrasi lokasi pembangunan Thirty Meter Telescope (TMT) di Mauna Kea (US-ELTP/NOIRLab/NSF/AURA, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Rencana pembangunan Thirty Meter Telescope (TMT), sebuah observatorium generasi baru yang super canggih, memicu kontroversi besar. Bagi para ilmuwan, TMT adalah lompatan besar dalam kemampuan manusia mengamati kosmos. Namun, bagi masyarakat adat Hawaii dan para aktivis, pembangunan ini dianggap sebagai penistaan terhadap tanah suci mereka. Gerakan "Protect Mauna Kea" pun lahir untuk menentang proyek tersebut.

Para penentang berpendapat bahwa pembangunan teleskop selama puluhan tahun telah merusak lingkungan dan situs-situs budaya di puncak. Menurut laman MKEA, para aktivis menyoroti bagaimana manajemen sumber daya di puncak diabaikan demi kepentingan pengembangan teleskop. Konflik ini menyoroti dilema global tentang bagaimana menyeimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan dengan pelestarian budaya, kearifan lokal, dan hak-hak masyarakat adat. Hingga kini, masa depan TMT dan Mauna Kea masih menjadi subjek perdebatan yang intens.

Pada akhirnya, Mauna Kea mengajarkan kita bahwa sebuah tempat bisa memiliki banyak makna. Ia adalah laboratorium alam raksasa sekaligus katedral suci yang harus dihormati.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team