Pemandangan di dalam Galerie Médicis di Museum Louvre di Paris, Prancis. Para pengunjung sedang melihat lukisan Mona Lisa yang dipajang dalam kotak pelindung. (commons.wikimedia.org/Cheng-en Cheng)
Museum Louvre kembali menjadi pusat perhatian dunia pada 19 Oktober 2025 setelah mengalami pencurian perhiasan kerajaan yang sangat canggih. Hanya dalam waktu tujuh menit, sekelompok pencuri yang menyamar sebagai pekerja berhasil membawa lari sembilan benda berharga milik Permaisuri Eugénie dengan cara memanjat jendela lantai dua. Meskipun alarm berbunyi, para pelaku bekerja dengan sangat efisien dan cepat. Kejadian ini menambah daftar panjang tantangan keamanan di Louvre, sekaligus memicu kekhawatiran mengenai keselamatan harta karun negara yang tak ternilai harganya karena benda-benda ikonik tersebut sulit dijual secara sah tanpa ketahuan.
Sejarah mencatat bahwa pencurian justru sering kali melambungkan popularitas sebuah karya seni, seperti yang terjadi pada lukisan Mona Lisa yang dicuri oleh Vincenzo Peruggia pada tahun 1911. Hilangnya mahakarya Leonardo da Vinci selama dua tahun tersebut memicu kemarahan publik sekaligus rasa penasaran global, hingga ribuan orang datang ke museum hanya untuk melihat ruang kosong di dinding. Setelah ditemukan kembali di Italia pada tahun 1913, Mona Lisa tidak lagi sekadar dianggap sebagai lukisan indah, tetapi berubah menjadi ikon budaya dunia yang kini dilindungi dengan pengamanan super ketat di dalam kotak kaca antipeluru.
Museum Louvre bukan sekadar tempat menyimpan benda kuno, melainkan sebuah simbol hidup yang terus berevolusi mengikuti sejarah. Meski sempat menghadapi berbagai tantangan, Louvre tetap kokoh sebagai penjaga warisan budaya manusia.