Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Unik Ular Picung Harimau, Beracun Karena Makan Kodok
ular picung harimau (commons.wikimedia.org/Alpsdake)
  • Ular picung harimau (Rhabdophis tigrinus) punya dua senjata mematikan, yaitu bisa dari gigitan dan racun yang disemprotkan lewat pori leher saat merasa terancam.
  • Spesies ini hidup di wilayah beriklim dingin seperti Jepang, Korea Selatan, dan Rusia, dengan panjang tubuh sekitar 60–100 cm serta corak warna mencolok untuk kamuflase.
  • Racunnya berasal dari kodok yang dimangsa, di mana zat bufadienolides disimpan dalam kantung nuchal sebagai bentuk adaptasi evolusioner unik pada ular ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ular seakan-akan menjadi antagonis utama yang selalu dibunuh, dimusnahkan, dan dianggap sebagai pembawa malapetaka. Jika bukan bisa yang mematikan, maka ular akan dibenci karena lilitan kuat atau gigitannya. Padahal, ada beberapa ular seperti Rhabdophis tigrinus atau ular picung harimau yang memiliki segudang keunikan.

Salah satu keunikannya adalah kehadiran racun dan bisa sekaligus. Ular ini memang kecil, tapi ia cukup ganas, bahkan punya kebiasaan yang mirip dengan kobra, lho. Warnanya juga mencolok dan bisa digunakan untuk berkamuflase. Yuk, kita ulik berbagai fakta unik ular picung harimau di bawah ini.

1. Bisa mengembangkan leher dan menyemburkan racun

ular picung harimau (commons.wikimedia.org/Repina Tatyana)

Dilansir iNaturalist, saat terpojok dan tidak bisa kabur ular ini akan mengangkat kepala, mengembangkan leher, dan mengeluarkan racun dari pori-pori kulit. Racunnya berasal dari kantung nuchal yang ada di bawah leher. Racunnya sendiri berbentuk cairan berwarna gelap dan ular ini bisa menyemprotkannnya ke mata manusia, mirip seperti kobra penyembur. Selain racun, ular picung harimau juga punya bisa yang disuntikan lewat gigitan, serupa dengan spesies ular lain. Perpaduan bisa dan racun membuat ular ini punya dua senjata mematikan.

2. Ular berbisa tinggi bertaring belakang

ular picung harimau (commons.wikimedia.org/Alpsdake)

Dilansir Clinical Toxinology Resources, ular ino termasuk spesies berbisa tinggi dan berbahaya. Awalnya, ular ini tidak dianggap berbahaya karena tak ada kasus gigitan serius yang terjadi pada manusia. Namun, penelitian mendalam mengungkap fakta kalau ia punya bisa kuat yang mengandung procoagulant, anticoagulant, dan haemorrhagin. Gigitannya serupa dengan ular viper, yaitu merusak sel darah merah, menyebabkan kerusakan jaringan, pembengkakan, rasa sakit yang luar biasa, pendarahan internal dan eksternal, pusing, diare, kerusakan organ dalam, hingga kematian.

3. Hidup di wilayah dingin seperti Jepang dan Korea Selatan

ular picung harimau (commons.wikimedia.org/Alexander A. Fomichev)

Laman The Reptile Database menjelaskan kalau ular picung harimau dapat ditemukan di Rusia, Korea Selatan, Jepang, China, Vietnam, Taiwan, dan Korea Utara. Semua tempat tersebut punya iklim subtropis yang dingin, bahkan kerap bersalju. Habitatnya mencakup hutan, kebun, rerumputan, dan daerah lembap seperti sungai. Selain itu, ular ini juga memiliki tiga subspesies, yaitu Rhabdophis triginus formosanus yang hidup di Taiwan, Rhabdophis triginus tigrinus di Jepang, dan Rhabdophis triginus lateralis yang menghuni daratan utama Asia.

4. Panjang maksimalnya hanya sekitar 100 centimeter

ular picung harimau (commons.wikimedia.org/Alpsdake)

Dilansir Animalia, ular picung harimau termasuk spesies berukuran kecil dengan panjang sekitar 60-100 centimeter. Karena itu, ular ini sangat ahli bersembunyi dan berkamuflase. Ia kerap masuk ke dalam lubang atau sela-sela sempit. Selain itu, hewan ini juga punya warna dan corak yang bervariasi, mulai dari corak garis hitam, jingga, dan hijau yang membuatnya andal bersembunyi di semak-semak, dedaunan kering, hingga rerumputan. Badannya sendiri kecil, ramping, dan ekornya panjang nan runcing.

5. Racunnya diperoleh dari kodok

ular picung harimau (commons.wikimedia.org/Repina Tatyana)

Ular ini kerap memakan vertebrata kecil, seperti kadal, katak, dan kodok. Artikel di jurnal Biological Science menjelaskan kalau kodok adalah makanan utamanya. Tak hanya itu, bahkan racunnya juga diperoleh dari kodok, lho. Lebih tepatnya, ular ini akan mendapatkan racun bufadienolides setelah memangsa kodok. Saat memakan kodok, ia akan mengisolasi racun di dalam tubuhnya. Kemudian, racun tersebut akan disimpan di kantung nuchal. Selain ular picung harimau, spesies ular picung lain seperti Rhabdophis subminiatus juga bisa melakukan hal yang sama.

Ular picung harimau mampu menembus batas yang tidak bisa ditembus oleh ular lain, yaitu memiliki bisa dan racun sekaligus. Hal tersebut merupakan bukti evolusi yang menjadikan ular picung harimau sebagai hewan dengan kemampuan adaptasi tingkat tinggi. Untuk itu, sangat penting bagi kita untuk menjaga, melindungi, dan terus melestarikan eksistensi hewan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team